Dagangan Sepi? Mari Memetik Hikmahnya

Kamis, 02 April 2020

Tidak selamanya bisnis yang kita jalani akan ramai pembeli. Pasti ada saat dimana pembeli sepi dari biasanya. Banyak  cara menyikapi keadaan tersebut. Ada yang berkeluh kesah karena pemasukan dana yang turun drastis. Ada juga yang menggunakan waktu ini untuk berekreasi menghibur diri, menggunakan kesempatan lowong yang mungkin di hari-hari biasa agak sulit diperoleh, dan tak sedikit pula yang hanya bermalas-malasan dengan alasan memanjakan diri.



 Bagi saya,  keadaan sepi seperti sekarang adalah kesempatan untuk belajar tentang apa saja,  bisa melalui bacaan, melalui sosial media dan sebagainya. Belajar bahwa apapun keadaan yang Allah ciptakan untuk kita, pastilah sarat dengan makna. Allah menyiratkan bahwa ada masa dimana kita harus rehat dari hiruk pikuk kesibukan dunia yang kadang menyita hampir semua perhatian kita dan menyisihkan hanya sebagian kecil waktu untuk kehidupan ukhrawi kita.

Belajar bahwa kebahagiaan tidak melulu Allah turunkan melalui lembaran rupiah,  ataupun jumlah pelanggan yang membludak hingga menyita hampir seluruh fikir dan tenaga. Sesungguhnya Allah tak pernah berhenti melimpahkan nikmat dan rejeki yang tak ternilai dengan rupiah,  hanya saja sangat sedikit dari kita yang menyadarinya.

 "Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rejeki jika Allah menahan rejeki-Nya?  Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri." (Qs. Al-Mulk: 21)


Kelezatan bertqarrub padanya melalui ayat-ayat-Nya yang tersurat dan tersirat. Kenikmatan beribadah dan rasa bahagia yang keluar dari sanubari ketika menginfakkan sebahagian harta yang dititipkan kepada kita, adalah nikmat rejeki yang tak semua bisa menikmatinya.Itu adalah kebahagiaan yang tak dapat dinilai dengan bentuk kekayaan apapun.

Bagiku, waktu sepi pelanggan seperti seskarang sesungguhnya adalah salah satu cara Allah agar seorang hamba kembali tafakkur, merenungi kembali jejak langkah yang telah dilalui. Adakah selama ini kaki sudah benar melangkah ke jalan yang seharusnya, yakni menuju ridho-Nya, ataukah  gemerlap dunia lebih kuat menyeretnya hingga banyak melakukan kelalaian sebagai seorang hamba, yakni meng-Esakan-Nya dalam setiap lini kehidupan

"Ketahuilah,  bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,  perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan tanam-tanamannya mengagumkan para petani,  kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah dan keridhaanNya,  dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Qs. Al-Hadi; 20)

Wallahu a'lam.


4 komentar

  1. Betul kak, semua pasti ada hikmahx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye. Terima kasih sudah meninggalkan jejak :)

      Hapus
  2. Aku juga percaya kalau rejeki itu sudah ditakar olehNya.
    Rejeki tak akan kemana.
    Dan semisal hari ini sedang kurang rejeki, esok hari atau kapan pasti akan dapat rejeki pengganti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Segalanya diatur oleh Yang Maha Mengatur. Kita hanya berikhtiar semampu yang kita bisa, hasilnya serahkan kepada-Nya.

      Terima kasih, ya sudah mampir.

      Hapus