Insight, Tantangan Yang Menyadarkan

Minggu, 27 April 2025

Alhamdulillah, atas kehendak dan kemurahan-Nya,  hari ini nyaris kulalui full di majelis ilmu.
Diawali dengan menimba ilmu di waktu duha lewat aplikasi zoom,  belajar tentang indikator kebahagiaan.

"Bahagia itu bukan karena kita tak punya masalah, tapi bahagia itu adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah." Satu kalimat indah  yang terucap dari Kang Harri ini langsung menyesap kedalam sanubari. 

Ini hari keenam dari challenge menulis insight. Kembali rasa kagum atas keajaiban yang Allah hadirkan dengan cara yang indah, memenuhi rongga dada. Allahu Rabbi, betapa selama ini aku mengabaikan salah satu anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang. Menulis. 

Pagi ini aku seperti tersadarkan bahwa  begitu sering aku melalaikan  nikmat  ini. Bahkan tak jarang mengabaikan dan menyimpannya di laci terbawah dari sekian "suka" yang Dia titip padaku. Rasa suka itu tak mungkin tumbuh sendiri. Dia yang menghadirkannya, dan tidaklah rasa itu ditumbuhkan melainkan pasti ada makna di baliknya. Aku belum maksimal menyukuri nikmat itu Astagfirullah.

Selama ini aku belum "khusyuk" menjalankan peran tersebut. Aku  merasa masih berada di level bueeessik dalam meresponnya.  Dan challenge ini seperti memaksaku untuk segera beranjak naik ke level yang lebih tinggi.

Selain tiga value yang kupilih selama masa pembelajaran ini, rasanya masih ada satu  hot botton lagi yang  ikut terpantik, yang  pengaruhnya cukup besar membantuk "AKU" selama ini. 

Keinginan yang besar untuk  mengetahui hal-hal baru, tak jarang membuatku rela untuk menghabiskan sebagian dari waktu rehatku  di dalam majelis-majelis ilmu. Aihh, tiba-tiba jadi ingat lagi materi yang dishare di kelas pembelajaran kemarin. Promotooor😁
Seperti hari ini, kudapati diriku berpindah dari ruang zoom di waktu duha, lanjut mengerjakan tugas yang tertunda beberapa hari sebelumnya lalu menyetornya ke kelas online. Sesudah duhur, lanjut masuk ke kelas tahsin, kemudian mengerjakan dan menyetor wajibat lagi ba'da ashar, lanjut hingga ba'da magrib.

Lelah? 
Jujur kuakui, iya. Kadang-kadang.

"Jika kamu tak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan dengan perihnya kebodohan."

Kata bijak Imam Syafi'i inilah yang menjadi salah satu motivasi kuat bagiku untuk terus menjalaninya, disamping keutamaan-keutamaan lain  tentunya. πŸ’


Semua peran ini, belajar, menulis, dan peran-peran lainnya yang membentuk siapa dan bagaimana aku saat ini, adalah amanah yang tentunya harus kujalankan sebaik-baiknya sebagai wujud kesyukuranku kepada-Nya. Termasuk peran sebagai penulis (yang masih belum berani kusandang). 

Setidaknya aku berupaya menjadikannya sebagai washilah untuk meraih ridha-Nya. Menulis apa saja yang terpikir dan terasa, menuang ide dan seberapa saja ilmu yang Allah titip padaku, mengikatnya dengan menulisnya, lalu membaginya agar dapat memberi manfaat dan kebaikan kepada sesama. Semoga Allah meridhoinya. Aamiin. 

Read More

Bukan Layangan Putus

Dimana Allah?


Seorang ibu muda  mengeluh kepada p tentang masalah yang sedang dihadapinya. Qadarullah,  rumah tangga yang awalnya diharap akan bahagia, ternyata diterpa badai di tengah jalan sehingga menyebabkan bahtera  yang dibina selama lebih sepuluh tahun terombang-ambing.

Si ibumuda yang memiliki 3 putradanputriberadadalam dilemma yang tak mudah untuk dihadapi.Di satu pihak, dia sudah tak mampu menjalankan biduk rumahtangga yang sudah rapuh. Sejak kelahiran anak pertama, bibit-bibit ketidak beresan dalam mahligai yang mereka hadapi sudah mulai terasa. Namun karena banyaknya pertimbangan yang tak bisa ia putuskan sendiri membuatnya memilih untuk tetap bertahan hingga anak kedua dan ketiga lahir. Pahitnya hidup berumah tangga tetap ia jalani  hingga batas kesabaran sebagai manusia  akhirnya terkalahkan oleh beratnya beban masalah yang terus  mendera.

Dari hasi lpembicaraan secara mendalam, akhirnya terungkap alasan mengapa si ibu muda tersebut bisa bertahan sekian lama dalam situasi tersebut. Rupanya rasa takut akan ketidak pastian hidup sebagai single parent yang membuatnya rela menjalani hidup menderita selama bertahun-tahun. Perasaan yang manusiawi, jika kita memakai kacamata awam.

Siapa sih yang bisa menjalani hidup sendiri dengan beban tiga orang anak yang sedang beranjak remaja? Bayangan tentang sulitnya biaya hidup  di tengah zaman seperti sekarang tentulah sangat menakutkan bagi seorang ibu muda yang tak punya keahlian khusus. Bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari ditambah biaya kesehatan dan sekolah ketiga anak-anaknya tentu menjadi momok yang menyeramkan untuk dihadapi sendiri.

Kenyamanan menerima nafkah dari suami, telah menghilangkan segala upaya untuk berusaha sendiri. Ditambah kesibukan mengurus rumah tangga tentulah membuat si ibu hampir tak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang bagaimana cara bertahan bertahan hidup. Selama ini dia hanya tahu menerima dari suami. Dan ketikatiba-tiba sumber kehidupan tersebut tiba-tiba  tak lagi didapatkan, maka tentulah ketakutan untuk melanjutkan kehidupan semakin menghantui.


Bagai layangan putus, sebagaimana yang heboh diperbincangkan di jagat maya baru-baru ini, merupakan perumpamaan yang cukup kuat bagaimana menggambarkan perasaan frustasi dan ketidak berdayaan seorang ibu. Berjuang sendiri tanpa beban, mungkin masih mudah ia hadapi. Namun menantang kerasnya kehidupan dengan beban tiga orang anak di punggung, tentu bukan perkara yang mudah. Wajar jika kecemasan, kekhawatiran, bahkan ketakutan untuk memulai bangkit dan melangkah menjadi momok yang sangat menakutkan

“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan,’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”( QS. Al-Baqarah; 155-157)

Lalu Dimana Allah?

Lihatlah, betapa lemahnya manusia ketika berharap dan bersandar hanya kepada sesama makhluk. Dengan mudah, setan akan makin mempermainkan perasannya dengan menambahkan perasaan takut, merasa sempit dan akhirnya merasa seluruh jalan terasa tertutup. Kehidupan terasa begitu sempit dan perasaan tak berdaya akan makin membuatnya semakin erat bergantung kepada sesama makhluk.

Lalu kemakah Allah? Apakah ia lupa bahwa sesungguhnya Allah-lah yang berkuasa  mengatur segala apa yang terjadi di jagat semesta ini, dan tak satupun luput dari pengetahuannya.

“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan begitupun bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)

Bukankah tak ada satupun yang terjadi pada makhluk ciptaan-Nya berlaku atas sepengatahuan-Nya?


“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daunpun Yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebuti biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah’ maka terjadilah ia” (QS. Yasin; 82)

Lalu mengapa manusia melupakannya?

Bukan Layangan Putus

Sebagai seorang muslim, semestinya permasalahan seperti ibu muda tadi takkan terjadi jika saja keimanan kita akan kekuasaan Rabb Semesta Alam kuat terpatri di dalam jiwa.  Dialah Rabb Yang Mahamengatur, dan tentu tak akan membiarkan hambanya terombang ambing dalam kesulitan seandainya saja mereka mau berpegang pada buhul Allah yang kuat, bukan bergantung kepada kekuatan makhluk yang lemah dalam segalanya.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman:22)

Seorang mukmin yang bergantung pada buhul Allah yang kokoh, tentu tidak akan berputus asa atas cobaan yang mendera. Ia harus menanamkan pada jiwanya bahwa ia bukanlah bagaikan sebuah layangan putus, dan meyakini bahwa segala apa yang menimpa dirinya adalah atas kehendak Rabb Sang Maha berkehendak yang telah tercatat di Lauh Mahfuz.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid; [57]: 22).

Menengok Ke Belakang


Kebanyakan manusia ketika diterpa bencana dan menghadapi cobaan, mencari salah pada luar diri mereka sendiri. Mereka mengeluh, seakan-akan menolak takdir yang menimpa, bahkan tak jarang menyalahkan takdir atas musibahnya. Mereka merasa tak pantas menerima cobaan tersebut dan bertanya, mengapa bencana dan cobaan menimpanya. Pun tak sedikit dari mereka yang lantas menyalahkan Allah atas ujiannya.

Mereka lupa  untuk mencari sebab pada diri mereka sendiri. Bahkan sebagian besar dari mereka lalai dari peringatan Allah  bahwa sesungguhnya bala dan bencana tidaklah Allah ciptakan kecuali atas dosa-dosa mereka sendiri. Seharusnya mereka mau muhasabah, menengok ke belakang pada jejak masa lalu mereka, dan menanamkan dalam hati bahwa bisa jadi bencana dan cobaan yang menimpa disebabkan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. 

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” QS. Asy Syuraa: 30)

Ibnu Qayyim al-Jaujiyah dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ menulis bahwa berbagai kepedihan yang ditimpakan kepada hati merupakan hukuman qadariyah yang disebabkan oleh perbuatan dosa. Ini merupakan hukuman yang lebih berat disbanding hukuman jasad, karena ia akan semakin berat dan bertambah hingga akhirnya akan mempengaruhi jasad. Maka tak heran, sering kita menjumpai orang-orang yang mengeluh mengaku sakit, tetapi ketika dibawa berobat ternyata dokter tank menemukan penyakit serius pada jasmaninya.

Beliau juga mengatakan, “Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat, dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya satu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.”  (Al Jawabul Kaafi- Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa/ Rumaysho.Com/ Muhammad Abduh Tuasikal)

Aku Sesuai Persangkaan Hambaku

Ketika seorang ditimpa musibah lalu dengan ikhlas ia menerima takdir dan menjalaninya, tentu akan merasakan manisnya iman. Hendaknya ia harus yakin bahwa takdir apapun yang Allah tetapkan atasnya  datangnya dari Rabb Penguasa Alam Semesta.

“Kebajikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri...” (QS. An Nisa: 79)

Berbaik sangka atas seluruh takdir Allah adalah obat yang sangat mujarab dari segala persoalan yang ada. Menjalani ketentuan yang digariskan dengan lapang dada merupakan bentuk persangkaan baik seseorang kepada Allah, bahwa sesungguhnya ia diberi ujian untuk meninggikan derajat sekaligus membersihkan dari dosa-dosanya.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu alayhi wasallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari pada itu (kumpulan malaikat). (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersabar dalam menghadapi masalah, disamping memperoleh pahala dan keutamaannya juga akan membawa keridhaan atas segala takdir Allah. Meyakini bahwa segala musibah dan cobaan yang menimpa tak lain adalah karunia dari Allah yang Dia berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Maka hendaknya seseorang yang mendapat ujian tersebut harus tetap sabar dalam menyikapi hal tersebut agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang Allah.

“Dari Shuaib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “ Tidak diputuskan terhadap seorang mukmin suatu ketetapan melainkan itu baiok baginya. Jika mendapat kebahagiaan ia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika ditimpa mudharat ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath-Thabrani.

Selalu Ada Jalan Keluar

“... Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya mengatakan bahwa meski ayat di atas  dalam tekstual membahas tentang talak dan cerai, namun konteks tersebut berlaku secara umum. Maksudnya siapapun  yang bertaqwa kepada Allah dan meniti ridha-Nya dalam berbagai kondisi, maka Allah akan memberinya balasan pahala di dunia dan akhirat. Diantaranya adalah diberikannya jalan keluar dari berbagai kondisi sulit dan susah. Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah, maka akan terjatuh dalam rantai belenggu yang tudak akan mampu keluar dan terlepas dari ikatannya.

"Dan memberinya rezeki dari dari arah yang tidak di sangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq:3)

Selanjutnya, syekh mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla memberi rejeki kepada orang yang bertakwa dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada  Allah dalam urusan agama dan dunianya dan bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan maksud untuk mendapatkan apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudharat, serta percaya sepenuhnya bahwa Allah akan memberi kemudahan dan mencukupkan keperluannya. Maksudnya, Allah akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah.   

“...Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya akan Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (QS. Ath-Thalaq: 4)

Mengenai ayat ini, Syaikh berkata, 'Maksudnya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, maka urusannya akan dimudahkan dan segala yang sulit akan dimudahkan.'

Demikianlah Allah memberi petunjuk, bahwa sesungguhnya hanya dengan bertawakkal, segala permasalahan yang pelik akan dapat dihadapi dengan tenang. Menjalankan perintah-Nya semampu yang kita bisa dan berusaha sekuat daya untuk menjauhi larangan-Nya, akan membawa kita kedudukan yang mulia di sisi Allah, sekaligus mendapatkan janji-Nya.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfal:29)

                            *******

Wallahu a'lam.

Kota Sutera, 18 Rabiul Awal 1441H/ 15 November 2019






Read More

Membasuh Luka Pengasuhan

Buku ini kuterima 8 bulan lalu, pesan dari salah seorang teman. Namun karena berbagai hal, baru bisa membacanya sekarang.

Maasyaa Allah, apa yang ditulis oleh Kang Ulum A Saif dan  Teh Febrianti Almeera  ini seperti "memaksaku" untuk mengakui kebenaran apa yang mereka tulis.

Ya, dengan lapang dada harus kuakui bahwa aku memiliki luka pengasuhan yang cukup parah, dan harus segera kusembuhkan dengan bantuan-Nya tentunya. Bukan hanya lukaku, juga luka pengasuhan yang telah kutorehkan kepada mereka yang Dia titip kepadaku. Sengaja atau tidak sengaja. Astagfirullah.

Luka ini bukan tak kusadari. Namun selama ini  tak berani kuakui. Ada banyak alasan untuk menolaknya. Banyak potongan-potongan kejadian yang sering melintas dan seperti membuat hatiku terluka, namun segera kututup. Tak tahu, alasan apa yang membuatku tak mau untuk memunculkannya. Maka aku lebih memilih untuk  mengendapkannya. 

Ia seperti puzel luka yang jika dirangkai, akan membentuk sebuah luka yang mengaga. Dalam. Mungkin itu sebabnya mengapa kuputuskan  untuk menyimpan puzel itu di laci terbawah dalam benakku. Berharap ia tertimbun oleh waktu atau terhapus oleh lupa.  

Namun ternyata aku salah. Semakin  ia kutekan, semakin  gencar pula ia mengetuk masa kekinianku. Aku tak tahu rasa apa namanya. Banyak rasa berbaur menyatu,  sampai aku mendapat jawabnya di buku ini.

Buku ini menyadarkanku, betapa penting mengurai kembali luka lama tersebut. Bukan untuk menghakimi siapapun, apalagi membenci, namun untuk mengobatinya satu persatu. Mengobati luka diri dan luka orang-orang yang tercederai hatinya disebabkan oleh respon diri yang salah terhadap luka tersebut. Mengorek luka agar membersihkannya, menyembuhkannya dan berdamai dengan masa lalu.

Tak ada kata terlambat. Rabb yang Maha Bijak selalu punya cara yang indah untuk menolong hamba-Nya. Hanya perlu sabar dan terus memohon agar diberi jalan terang atas segala masalah. Kadang jawaban datang dalam waktu yang singkat, tak jarang butuh masa yang panjang serta melalui  kisah yang berliku. "Berdoalah, maka akan kukabulkan." Janji-Nya pasti.

Buku ini sungguh menyadarkanku bahwa kita ini sebenarnya merupakan bentukan dari masa lalu, dari pola asuh orang tua kita. Dan dengan sadar atau tidak, kita terkondisikan untuk mengulang pola yang sama kepada anak-anak kita, sebagaimana orang tua  kita yang mengulang pola asuh yang terbentuk dari  orang tua mereka. Boleh jadi merekapun mengalami luka yang tak mereka sadari dan tak pernah sembuh sampai mereka meninggalkan dunia yang fana ini.

Lalu bagaimana menyembuhannya? Hanya dengan memaafkan? Semudah itu?

Bisa ya bisa tidak. Tergantung bagaimana respon kita menanggapi luka tersebut. Bagiku, hanya dengan pertolongan dan kehendak Allah jualah semua bisa terjadi. Allah yang membantu memahamkan dan menanamkan dalam dada bahwa semua kejadian pasti tak akan terjadi begitu saja. 

Laa hawla walaa quwwata illa billah. Semua atas kehendak-Nya dan semua pasti ada maknanya. 
Hanya dengan ikhlas  menerimanya sebagai ketentuan dari Rabb yang Maha Mengatur, hati kan menjadi lapang. Memaafkan, dan mengambil ibrah atasnya lalu membuat perbaikan sesudahnya. 

Buku ini sangat layak dibaca oleh mereka yang telah lama menjalani mahligai rumah tangga dan merasa memiliki luka pengasuhan, agar bisa lebih bijak dalam bersikap dan bertindak. Juga sangat baik dibaca oleh mereka yang akan melangkah ke jenjang pernikahan, agar tidak menciptakan luka-luka pada keluarga yang kelak akan dibina. 

 
Read More

Mengenal Motif Lagosi

Ada beberapa pelanggan yang bertanya tentang Lagosi, apakah sulam atau tenun dan mengapa harganya berbeda-beda. Ini nih, bunda, moms, mbak dan sista yang keren, jawabannya.

Motif Lagosi itu aslinya ditenun pakai tangan. Jadi bukan sulam ya :)
Tenun Lagosi yang baik biasanya ditenun memakai tenun gedogan. Itu tuh yang menenun sambil duduk selonjoran. Lagosi yang dibuat seperti ini kualitasnya lebih baik, lebih padat dan sulaman bunganya lebih rapih.

Sistem tenun seperti ini biasa memakan waktu lebih lama dalam penyelesaian selembar kain, berbeda dengan sistem menenun dengan memakai mesin ATBM seperti pada gambar.
Makanya tak heran jika harga Lagosi berbeda-beda. Biasa dinyatakan dengan grade A, B ...dst.
Memang tidak semua yang ditenun pakai alat tenun gedogan itu dijamin kualitasnya paling oke, karena kadang ada juga Lagosi yang ditenun dengan alat tenun ATBM juga baik. Tapi ya, tetap saja, bagi yang memahami, akan melihat perbedaannya.
Selain perbedaan dalam proses pembuatan, harga kain lagosi juga tergantung kualitas bahan yang dipakai.
Ada yang memakai benang viscos tebal, yang tentu akan menghasilkan kain lebih tebal. Ada juga yang memakai benang tipis yang menghasilkan kain juga lebih tipis.
Yang tebal kadang kainnya agak kaku dan lebih bertekstur, sementara yang tipis teksturnya lebih halus dan jatuh.
Ada lagi bahan yang kualitasnya lebih rendah yang tentu saja harga jualnya bisa.lebih murah.
Nah ...pertanyaan lain yang sering dilontarkan pelanggan adalah, "Lagosi itu bahannya sutra?"
Dulu, motif lagosi memang terbuat dari sutra. Tapi karena bahan baku sutra yang kian langka dan kian mahal, maka Lagosi sekarang dibuat dari bahan non sutra. Tepatnya viscos atau rayon.
Jikapun ada yang terbuat dari sutra, biiasanya itu  dibuat dengan order khusus dan sudah pasti harganya akan sangat mahal. Ya, sekitar empat kali lipat dari harga Lagosi yang beredar sekarang.
Emang iya sih, sekarang mulai banyak beredar motif lagosi dengan tekhnik sulam. Dan mungkin itu yang menyebabkan banyaknya pertanyaan yang masuk ke akun sosmed kami.
Lagosi sulam tentu sangat mudah dibedakan dengan Lagosi yang dibuat dengan sistim tenun. Terutama pada perbedaan bidang kainnya, dimana Lagosi tenun hanya memiliki ukuran  standar 400 cm x 55 cm (tenun gedogan). Untuk tenun ATBM lebar bisa sampai 60 cm. Sedangkan Lagosi sulam lebar bisa sampai 105 - 120 cm, tergantung bahan yang dipakai. Bahkan sekarang sudah banyak beredar Lagosi yang disulam di atas kain tafeta.
Banyak hal yang menyebabkan perbedaan harga selembar kain Lagosi.
Untuk tau lebih detil, silahkan ya bunda, moms dan mbak sista layangkan pertanyaan ke 0853  9977 7071 
Read More

Untukmu Pemilik Pundak Pengemban Amanah

Senin, 11 Juli 2022

 Jalan terjal berliku tak surutkan tekadmu

Letih lelah tak kau hirau

Meski raga kadang lunglai tak berdaya

Demi tegaknya panggilan Rabb-mu

Semangat dakwah tetap membara     


Untukmu, pemilik pundak pengemban amanah


Meski cemooh dan cibir sinis kadang menerpa

Terus menapak melangkah maju

Susuri jjejak manusia mulia

Kokoh berjalan meski prahara kadang menerpa


Jangan berduka

duhai engkau pemilik pundak pengemban amanah

Meski terhimpit beban selaksa

tetap mengemban amanah mulia

risalah dakwah, warisan  kekasih_Nya


bersukalah, karena engkau manusia pilihan

dan janji Rabb-mu 

Pasti akan kau sua


Read More

Buku Kecil Yang Bernilai Besar

Rabu, 10 November 2021

10 -11-12
10 -11-21

9 tahun lalu...
Bapak rahimahullah dipanggil Sang Pencipta untuk selamanya. Kepergian yang meninggalkan begitu banyak jejak yang terpatri di sanubari kami, para anak-anaknya. Semoga Allah mengasihi, mengampuni, dan menempatkan bapak rahimahullah di sebaik-baik tempat kembali. Aamiin.

Betapa Allah selalu memberi hikmah di balik setiap kejadian, termasuk waktu kepergian bapak yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Seolah ingin mengingatkan kami akan sosok bapak yang tidak hanya berperan sebagai seorang ayah, tetapi lebih dari itu. Bapak rahimahullah adalah seorang pahlawan sejati yang akan selalu kami kenang. 

Aku, sebagaimana diriku sekarang adalah hasil didikan bapak. Beliau menanamkan banyak hal padaku. Mulai dari sikap, prinsip, pandangan hidup dan banyak hal yang membentuk karakterku seperti sekarang. 

Pesan bapak yang selalu mengiang dalam telingaku adalah kata "sabar" dan "syukur". Dua kata yang sering bapak ulang-ulang dalam petuahnya, dan menjadi bekal yang amat berharga dalam perjalanan kehidupanku.

Berpikir dan Berjiwa Besar, adalah judul sebuah buku yang bapak hadiahkan ketika awal aku masuk Sekolah Menengah Atas. Beliau rahimahullah menyodorkan buku itu dengan sedikit "tekanan" agar aku membaca dan menyimpulkan isinya. Paksaan yang kelak mejadi sesuatu yang amat berharga dalam mengarungi langkahku di kemudian hari.

Jujur, awalnya aku agak malas membaca buku ini. Betapa tidak, pada saat kebanyakan teman-teman seusiaku asyik 
membuka lembaran-lembaran majalah Gadis, Lupus, Anita dsb, bapak malah menyuruhku mengakrabi buku yang saat itu menurutku sangat tidak menarik. 

Namun siapa nyanya, semakin jauh kubuka lembarannya, semakin kudapati diriku hanyut  mengikuti isi buku tersebut, dan akhirnya kukhatamkan lebih cepat dari jadwal yang bapak berikan.

Maasyaa Allah, sungguh betapa Maha Pengasihnya Allah. Tanpa kusadari,  dari bacaan yang terpaksa kulakukan tersebut nyatanya begitu dalam terpatri dalam benak remajaku yang akhirnya  banyak berperan dalam membentuk kepribadianku seperti sekarang. Buku kecil yang sangat besar pengaruhnya bagiku.

Ia tidak hanya sekedar bacaan, tetapi lebih dari itu. Ia adalah sebuah pusaka berharga yang tak ternilai, seolah perwakilan bapak yang bertutur melalui lembaran-lembarannya.

Beberapa tahun lalu aku sempat kehilangan buku ini, namun akhirnya Allah mengembalikannya lagi melalui kemurahan hati seorang gurunda yang menghadiahiku, yang juga dari beliau aku beroleh banyak ilmu tentang bagaimana cara memberikan respon terbaik atas suatu masalah yang ada.
Read More

Di Sini Kami

Sabtu, 28 Agustus 2021

Inilah kami
Memilih dakwah sebagai ajang jihad 
Menegakkan pilar ad dien dengan semangat dan tenaga yang ada

Letih lelah kami leburkan dalam majelis-majelis ilmu, 
lupakan lara dalam gelora lantunan kalamullah yang terlafadz dari lisan-lisan yang terbata

Kala itu...
Indahnya kebersamaan menjadi ajang berbagi cerita yang menggugah semangat untuk terus menapak dan saling merangkul mengemban amanah

Hingga makhluk kecil ciptaan-Nya merubah semuanya. Corona.

Kami terhenyak, terpaku dalam diam, nyaris tak bergeming.
Takut, tak berdaya, tak tahu berbuat akan apa

Lalu karuniaNya menerangi kami, kembali bangkitkan semangat yang nyaris padam.

Dan atas Rahmat-Nya
Kami dapat bangkit, tegar bersama
Jalankan amanah dakwah, meski harus berpeluh dan tertatih
Bergerak dalam ajang virtual

Di sini, kami bersatu saling merangkul
Menapak tegar di atas masyaqqah
Tak berharap, selain ridho Rabb semata

Read More

Senja

Jumat, 09 Oktober 2020

Senja
Rembang petang sewarna saga
Berkisah tentang cita 
Akan kasih sarat makna

Dia yang pernah menggugah rasa
Mengukir suka dan duka dalam satu masa
Tak hendak mengenangnya
Namun ia tak beranjak jua

Akankah kulafaz duka pada indah warnamu
Atau kubiar rasa bermain dalam kalbu
Sampai ia menjadi lelah kemudian berlalu
Entahlah, rasa ini mengharu biru

Lembayung masih saja merona
Menyisa indah warna cipta-Nya
Membelai lembut bumi persada
Berbisik syahdu tentang setia

Jangan beranjak dulu
Peluk erat rasa rindumu 
Biarkan dia melagu sendu
Sesapkan ia dalam kalbumu

Lalu bangkitlah dari rasamu
Lafadzkan puji dengan lisanmu
Sebab rona senja pasti berlalu
Hanya Dia yang tetap abadi, Rabb-mu
Read More

Bersama Kita Bisa

Minggu, 09 Agustus 2020

Genderang juang ditabuh bertaluMemanggil jiwa-jiwa patriot tuk majuDerapkan langkah sambut tantanganNyalakan giroh tegakkan ad-dien

Untukmu, manusia pilihan pengusung dakwah
Masihkah lisanmu melafaz lelah?
Masihkah hatimu berbisik enggan?

Mari, tak perlu menunggu
Bangkit berdiri, jangan termangu
Disana, selaksa jiwa berkabut jelaga
Mencari jalan, menanti cahaya

Tahukah? Tiada kuasa bagimu tegakkan raga
Tak mampu batinmu menahan rasa
Semua atas izin-Nya jua
Lalu, adakah ragu masih menyapa?

Lihatlah, betapa Allah sematkan mulia atasmu
Engkau pilihan di antara berjuta
Penerus lisan nabi yang mulia
Akankah surut langkah kakimu
Diamkan ummat dalam gulita?

Jangan hanya menunggu titah!
Bangkitkan jiwa tegapkan langkah
Abaikah berjuta masyakkah
Janji Rabb-mu jauh lebih indah

Mari rapatkan saf bersama
Eratkan ukhuwah ikatkan rasa
Usung dakwah amanah mulia
Hanya bersatu engkau kan bisa

Sabar tawakkal bekal bersama
Ikhlas di dada senjata utama
Bersatu melaju dalam bahtera Insyaa Allah bersama kita bisa !

Intanshurullaha yanshurkum
Wa tsabbit aqdamakum


Read More

Jelang Ujian

Rabu, 29 Juli 2020

Hari ini rencananya seharian mau menggunakan waktu untuk memuroja'ah materi buat persiapan ujian malam harinya. Kondisi kesehatan yang agak menurun, padatnya kajian  dan pembelajaran daring beberapa hari belakangan ini menyebabkanku agak sulit membagi waktu untuk murojaah di hari-hari sebelumnya. Apa boleh buat, hari ini harus ngebut.

Dari sekian banyak materi di kelas ini, membaca i'rob  merupakan materi yang  tak mudah bukan saja bagiku, tapi juga bagi teman-teman lain di grup.

"Bundaaa, aku tiba-tiba kena beser  nih, ingat mau ujian."

"Hadeuh, mau UAS, tiba-tiba kayak banyak kunang-kunang di mata."

"Aku bingung bunda, mau belajar aja gak tau mulai dari mana."

"Lihat buku aja salah, apa lagi ujian. Pokoknya, aku pasraaah."

Ini adalah curhat para penghuni grup yang kadang membuat kami saling berbalas dengan joke-joke yang saling menghibur, lalu dibalas oleh pembina kelas seperti ini :
"In syaa Allah ujiannya mudah kerjakan semampunya...
Kerjakan dengan hati riang dan gembira 😊 Tetap semangat  πŸ’ͺ"

"Pak ustad, biar kami ngga stress kasih kunci jawabannya, pan ini bulan baik dan hari baik.  Pahalanya besar lho meringankan beban muridnya, hi hi hi. Maaf pak ustad, biar bisa ketawa. Saya sedang menghapal ini teh, baca lagi dari awal malah lieur."πŸ™πŸ™πŸ™

Salah satu bunda membalasnya dengan candaan yang memancing suasan kelas jadi ramai.


Maasyaa Allah, bersyukur bisa bergabung di komunitas ini. Meski berasal dari berbagai daerah dan dengan latar  usia yang beragam (antara 30 - 67 tahun), tetapi suasana kelas selalu ramai dengan percakapan yang kadang diisi dengan candaan-candaan ringan yang membuat suasana grup jadi segar. Kami saling mensupport dan saling menyemangati. Beda usia sepertinya tak berarti lagi. 

Kubuka catatan materi. 
Fiuuhhh, benar juga, beberapa istilah membuatku harus membaca berulang-ulang penjabarannya. Butuh menelaahnya perlahan. Dan seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya, jika mendapat satu materi yang belum kupahami betul, maka materi tersebut  kutulis ulang kembali poin-poin pentingnya. Menulis sekaligus membaca sambil menelaahnya, biasanya membuatku lebih mudah memahami.

Rencananya sih mau menyelesaikan materi dalam sekali duduk, tapi antara hati dan badan ternyata tak mau  berkompromi. Selesai menulis materi pertama, ajakan hati untuk keluar melihat tanaman tak bisa ditolak. Menulis lagi sebentar, eh... kok malah ingin nonton siaran Diacovery Channel. Berulang alasan silih berganti mencoba menjauhkanku dari buku catatan. Ya sudah, usai sholat duhur kuputuskan untuk rehat sejenak. Daripada stress πŸ˜…

Alhamdulillah, usai rehat dan sholat ashar, perasaan jadi lebih santai. Usai sholat magrib, murojaah selesai. Ujian baru dimulai jam sembilan. Masih banyak waktu buat membaca kembali ringkasan poin-poin yang sudah kutulis. Usai sholat isya, kupergunakan waktu untuk berdzikir, berdoa mohon kemudahan. 

Bersyukur atas segala kemurahan-Nya yang mempertemukanku dengan orang-orang hebat di beberapa grup daring, yang dari mereka aku beroleh banyak manfaat, spirit, pembelajaran juga doa. Alhamdulillah, malam ini ujian bisa kulalui dengan lancar.  Ujian yang tidak saja menguji sejauh mana pemahamanku terhadap materi yang selama ini kuperoleh, juga untuk membuktikan kata-kata bijak bahwa hasil tak akan menghianati usaha. Semoga Allah memberkahi ukhuwah ini, dan terus terjalin hingga ke jannah-Nya kelak. Aamiin πŸ€²πŸ’


Read More