Insight, Tantangan Yang Menyadarkan

Minggu, 27 April 2025

Alhamdulillah, atas kehendak dan kemurahan-Nya,  hari ini nyaris kulalui full di majelis ilmu.
Diawali dengan menimba ilmu di waktu duha lewat aplikasi zoom,  belajar tentang indikator kebahagiaan.

"Bahagia itu bukan karena kita tak punya masalah, tapi bahagia itu adalah ketika kita bisa menyelesaikan masalah." Satu kalimat indah  yang terucap dari Kang Harri ini langsung menyesap kedalam sanubari. 

Ini hari keenam dari challenge menulis insight. Kembali rasa kagum atas keajaiban yang Allah hadirkan dengan cara yang indah, memenuhi rongga dada. Allahu Rabbi, betapa selama ini aku mengabaikan salah satu anugerah yang tidak diberikan kepada semua orang. Menulis. 

Pagi ini aku seperti tersadarkan bahwa  begitu sering aku melalaikan  nikmat  ini. Bahkan tak jarang mengabaikan dan menyimpannya di laci terbawah dari sekian "suka" yang Dia titip padaku. Rasa suka itu tak mungkin tumbuh sendiri. Dia yang menghadirkannya, dan tidaklah rasa itu ditumbuhkan melainkan pasti ada makna di baliknya. Aku belum maksimal menyukuri nikmat itu Astagfirullah.

Selama ini aku belum "khusyuk" menjalankan peran tersebut. Aku  merasa masih berada di level bueeessik dalam meresponnya.  Dan challenge ini seperti memaksaku untuk segera beranjak naik ke level yang lebih tinggi.

Selain tiga value yang kupilih selama masa pembelajaran ini, rasanya masih ada satu  hot botton lagi yang  ikut terpantik, yang  pengaruhnya cukup besar membantuk "AKU" selama ini. 

Keinginan yang besar untuk  mengetahui hal-hal baru, tak jarang membuatku rela untuk menghabiskan sebagian dari waktu rehatku  di dalam majelis-majelis ilmu. Aihh, tiba-tiba jadi ingat lagi materi yang dishare di kelas pembelajaran kemarin. Promotooor😁
Seperti hari ini, kudapati diriku berpindah dari ruang zoom di waktu duha, lanjut mengerjakan tugas yang tertunda beberapa hari sebelumnya lalu menyetornya ke kelas online. Sesudah duhur, lanjut masuk ke kelas tahsin, kemudian mengerjakan dan menyetor wajibat lagi ba'da ashar, lanjut hingga ba'da magrib.

Lelah? 
Jujur kuakui, iya. Kadang-kadang.

"Jika kamu tak tahan dengan lelahnya belajar, maka kamu harus tahan dengan perihnya kebodohan."

Kata bijak Imam Syafi'i inilah yang menjadi salah satu motivasi kuat bagiku untuk terus menjalaninya, disamping keutamaan-keutamaan lain  tentunya. 💝


Semua peran ini, belajar, menulis, dan peran-peran lainnya yang membentuk siapa dan bagaimana aku saat ini, adalah amanah yang tentunya harus kujalankan sebaik-baiknya sebagai wujud kesyukuranku kepada-Nya. Termasuk peran sebagai penulis (yang masih belum berani kusandang). 

Setidaknya aku berupaya menjadikannya sebagai washilah untuk meraih ridha-Nya. Menulis apa saja yang terpikir dan terasa, menuang ide dan seberapa saja ilmu yang Allah titip padaku, mengikatnya dengan menulisnya, lalu membaginya agar dapat memberi manfaat dan kebaikan kepada sesama. Semoga Allah meridhoinya. Aamiin. 

Posting Komentar