Dengan girang dia memberi salam ketika memasuki pintu
rumah."Assalamu'alaikum!" suaranya terdengar riang sambil membuka
sepatunya dengan sedikit tergesa. Aku dan suami yang sedang sibuk melayani
pelanggan sore itu otomatis membalas salamnya, "Wa'aalaikum salam
warahmatullah" suara kami nyaris bersamaan dengan para pelanggan yang
sedang memilih-milih kain tenun.
"Juara berapako, nak?"
"Juara Satuka ..." suara si bungsu terdengar
bahagia.
"Alhamdulillah, juara satuki?" kataku menimpali.
Kulihat tangannya memegang bungkusan dan sesuatu yang lain. Ia segera berlari
ke ruang dalam.
"Bertanding apa anakta, bu?" tanya pelanggan yang
sedang memilih sarung tenun.
"Ooh, tadi ikut cerdas-cermat tentang sejarah
Wajo" jawabku sambil membantunya memilihkan sarung sesuai permintaannya.
*************
Ini pertandingan kesekian yang dimenangkan oleh
bungsuku. Sebelumnya ia memang beberapa kali dalam lomba yang
berbeda, baik dalam lingkungan sekolah ataupun pertandingan antar sekolah.
Bangga?
Mmmm ...jujur iya. Tapi aku berusaha mengubah rasa bangga
itu menjadi syukur atas prestasi yang Allah titipkan
kepadanya. Aku selalu menanamkan kepada semua anak-anakku bahwa apa yang mereka
peroleh tidak lepas dari campur tangan Allah. Mereka hanya harus berusaha semaksimal
mungkin melakukan yang terbaik, dan hasilnya serahkan kepada Yang Maha Mengatur.
Aku hanya membantu memberikan motivasi kepada semua
anak-anakku agar mereka berusaha mewujudkan sendiri apa yang mereka inginkan selama
itu bernilai positif. Seperti ketika ia menyampaikan keinginannya untuk lomba
kali ini, maka aku hanya mengarahkan untuk mencari tau tentang materi lomba di
internet, berhubung buku untuk pengenalan tentang budaya dan sejarah Wajo agak
susah ditemukan. Hal ini kupercaya akan membangkitkan ide kreatifnya untuk
mencari bahan yang ia perlukan dan tidak
hanya mengandalkan bertanya langsung kepada kami, orang tuanya. Dan aku percaya
bahwa dengan cara mencari tau sendiri, maka ilmu pengetahuan yang ia dapat akan
menetap lebih lama di dalam benaknya dibanding ketika ia mengetahuinya secara
instan dari kami atau dari orang lain.
Hal lain yang selalu kupesankan kepada anak-anakku adalah bahwa lomba itu
bukanlah sesuatu hal yang wajib dimenangkan, sehingga membuat kita
boleh menggunakan segala cara untuk memenangkan.
Kukatakan bahwa lomba adalah permainan, dimana kita harus menggunakan semua kreativitas, ide
dan kemampuan yang ada. Hasilnya tergantung
bagaiman kita berusaha sebisa mungkin untuk melakukan hal terbaik yang kita
mampu. Jika ingin memperoleh hasil yang maksimal, maka berusaha pun tentunya
harus maksimal, pun sebaliknya.
Alhamdulillah, dengan melakukan cara ini, anak-anakku tidak
merasa terbebani ketika melakukan lomba. Mereka menganggap lomba itu adalah suatu
permainan untuk membuktikan kemampuan mereka. Jika mereka menang, tentunya itu adalah hadiah
dari usaha mereka yang maksimal, dan jika mereka kalah, berarti mereka harus
berusaha lebih giat lagi untuk memperoleh hasil yang juga lebih baik tentunya 😍
Hal lain yang kulatih kepada mereka adalah bagaimana cara agar mereka tak menganggap
lomba itu sebagai sesuatu yang istimewa. Sebagian besar lomba yang mereka laksanakan tidak aku hadiri. Aku tak membiasakan harus mengantar atau menemani
mereka ataupun mempersiapkan sesuatu yang membuat mereka merasa diberi perhatian
khusus. Hal ini kumaksudkan untuk menimbulkan kepercayaan diri mereka untuk berjuang sendiri, sekaligus tidak membebani
mereka dengan kehadiranku di ajang lomba. Meski demikian, mereka tau bahwa aku dan ayahnya memberi dukungan dengan cara yang berbeda.
Kelihatannya hal ini sudah diterima dengan baik oleh
anak-anakku, sehingga mereka menganggap ajang lomba sebagai suatu permainan yang menyenangkan dan menjadi ajang hiburan. Mereka menghadapi lomba dengan santai, karena tak terbebani dengan status juara. Saking santainya, kadang mereka tak memberitahuku ketika mengikuti lomba. Baru ketahuan setelah beberapa saat kemudian seseorang mengucapkan selamat atas prestasi mereka, atau ketika melihat piagam penghargaan atas prestasi yang mereka raih :D
Bungsuta ini yang dulu ikut di MARI di... perempuan manis mirip mamanya, suka lomba juga.
BalasHapusIye. Kayaknya nurunki bakat mamaknya ke dia. Kalau diajak ke toko buku, suka juga kalap, baru aktif juga ikut kegiatan di sekolah. Banyak nacopas hobinya mamaknya. Hahaha
Hapus