Juara Lomba

Jumat, 06 Maret 2020


Dengan girang dia memberi salam ketika memasuki pintu rumah."Assalamu'alaikum!" suaranya terdengar riang sambil membuka sepatunya dengan sedikit tergesa. Aku dan suami yang sedang sibuk melayani pelanggan sore itu otomatis membalas salamnya, "Wa'aalaikum salam warahmatullah" suara kami nyaris bersamaan dengan para pelanggan yang sedang memilih-milih kain tenun.


"Juara berapako, nak?"
"Juara Satuka ..." suara si bungsu terdengar bahagia.
"Alhamdulillah, juara satuki?" kataku menimpali. Kulihat tangannya memegang bungkusan dan sesuatu yang lain. Ia segera berlari ke ruang dalam.


"Bertanding apa anakta, bu?" tanya pelanggan yang sedang memilih sarung tenun.
"Ooh, tadi ikut cerdas-cermat tentang sejarah Wajo" jawabku sambil membantunya memilihkan sarung sesuai permintaannya.
*************

Ini pertandingan  kesekian yang dimenangkan oleh bungsuku. Sebelumnya ia memang beberapa kali  dalam lomba yang berbeda, baik dalam lingkungan sekolah ataupun pertandingan antar sekolah.

Bangga?
Mmmm ...jujur iya. Tapi aku berusaha mengubah rasa bangga itu menjadi  syukur atas prestasi yang Allah titipkan kepadanya. Aku selalu menanamkan kepada semua anak-anakku bahwa apa yang mereka peroleh tidak lepas dari campur tangan Allah. Mereka hanya harus berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik, dan hasilnya serahkan kepada Yang Maha Mengatur.

Aku hanya membantu memberikan motivasi kepada semua anak-anakku agar mereka berusaha mewujudkan sendiri apa yang mereka inginkan selama itu bernilai positif. Seperti ketika ia menyampaikan keinginannya untuk lomba kali ini, maka aku hanya mengarahkan untuk mencari tau tentang materi lomba di internet, berhubung buku untuk pengenalan tentang budaya dan sejarah Wajo agak susah ditemukan. Hal ini kupercaya akan membangkitkan ide kreatifnya untuk mencari  bahan yang ia perlukan dan tidak hanya mengandalkan bertanya langsung kepada kami, orang tuanya. Dan aku percaya bahwa dengan cara mencari tau sendiri, maka ilmu pengetahuan yang ia dapat akan menetap lebih lama di dalam benaknya dibanding ketika ia mengetahuinya secara instan dari kami atau dari orang lain.

Hal lain yang selalu kupesankan kepada anak-anakku adalah bahwa lomba itu bukanlah sesuatu hal yang wajib dimenangkan, sehingga membuat kita boleh menggunakan segala cara untuk memenangkan.

Kukatakan bahwa lomba adalah permainan, dimana kita harus menggunakan semua kreativitas, ide dan kemampuan yang ada. Hasilnya  tergantung bagaiman kita berusaha sebisa mungkin untuk melakukan hal terbaik yang kita mampu. Jika ingin memperoleh hasil yang maksimal, maka berusaha pun tentunya harus maksimal, pun sebaliknya.

Alhamdulillah, dengan melakukan cara ini, anak-anakku tidak merasa terbebani ketika melakukan lomba. Mereka menganggap lomba itu adalah suatu permainan untuk membuktikan kemampuan mereka. Jika mereka menang, tentunya itu adalah hadiah dari usaha mereka yang maksimal, dan jika mereka kalah, berarti mereka harus berusaha lebih giat lagi untuk memperoleh hasil yang juga lebih baik tentunya 😍

 Hal lain yang kulatih kepada mereka adalah bagaimana cara agar mereka tak menganggap lomba itu  sebagai sesuatu yang istimewa. Sebagian besar lomba yang mereka laksanakan tidak aku hadiri. Aku tak membiasakan  harus mengantar atau menemani mereka ataupun mempersiapkan sesuatu yang membuat mereka merasa diberi perhatian khusus. Hal ini kumaksudkan untuk menimbulkan kepercayaan diri mereka untuk berjuang sendiri, sekaligus tidak membebani mereka dengan kehadiranku di ajang lomba. Meski demikian,  mereka tau bahwa aku dan ayahnya memberi dukungan dengan cara yang berbeda.

Kelihatannya hal ini sudah diterima dengan baik oleh anak-anakku, sehingga mereka menganggap ajang lomba sebagai suatu permainan yang menyenangkan dan  menjadi ajang hiburan. Mereka menghadapi lomba dengan santai, karena tak terbebani dengan status juara. Saking santainya, kadang mereka tak memberitahuku ketika mengikuti lomba. Baru ketahuan setelah beberapa saat kemudian seseorang mengucapkan selamat atas prestasi mereka, atau ketika melihat piagam penghargaan atas prestasi yang mereka raih :D 

2 komentar

  1. Bungsuta ini yang dulu ikut di MARI di... perempuan manis mirip mamanya, suka lomba juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iye. Kayaknya nurunki bakat mamaknya ke dia. Kalau diajak ke toko buku, suka juga kalap, baru aktif juga ikut kegiatan di sekolah. Banyak nacopas hobinya mamaknya. Hahaha

      Hapus