Melakukan perjalanan jauh yang menempuh waktu berjam-jam tentu sangat melelahkan dan membosankan, kan mak? Apalagi jika keadaan tubuh kurang fit atau perasaan sedang tidak mood, tentu akan membuat perjalanan emak sangat melelahkan dan membosabkan.
Dulu saya berada dalam kondisi seperti itu. Gerah, mual, dan keringat dingin membuat saya ingin segera tiba di tempat tujuan. Saat itu saya ikut menumpang mobil angkutan umum. Yang namanya angkutan umum, tentu situasinya tak senyaman menumpang kendaraan pribadi. Kadang ada penumpang yang merokok, yang membuat asap rokoknya menyesakkan dada. Belum lagi yang senang memakai minyak angin atau wewangian yang baunya tak cocok di penciuman. Uffth.
Seperti hari itu. Penumpang yang duduk di sampingku adalah seorang bapak paruh baya yang memakai minyak rambut yang sangat menyengat di penciumanku. Hal tersebut otomatis membuatku merasa tak nyaman. Sepanjang jalan aku berusaha menahan bau tersebut, dan akibatnya aku mengalami mabuk perhalanan. Mabuk yang hebat, sampai-sampai ingin rasanya segera turun dari mobil tersebut.
Parahnya, mabuk perjalanan itu tidak saja terasa ketika berada di mobil tersebut. Saking mabuknya, bahkan hanya dengan melihat baju yang kukenakan pada saat itu sudah cukup membuat perasaanku kembali mual. Hal tersebut membuatku trauma mengadakan perjalanan darat hingga waktu yang lama.
Bukan hal mudah bagiku untuk menghilangkan perasaan tersebut. Bahkan sampai harus memberikan baju yang kupakai tersebut kepada orang lain. Meski demikian, trauma mabuk perjalanan tersebut masih saja terus menghantui sampai bertahun-tahun. Setiap akan berkendaraan, suasana ketika berada pada situasi itu kembali tergambar di benakku. Akibatnya, saya sudah mengalami mabuk duluan sebelum menaiki kendaraan. Hiks.
Tentunya hal ini tak mungkin kubiarkan terus berlangsung. Tak mungkin bisa selamanya menghindari perjalanan jauhq, karena kadang ada hal-hal di luar dugaan yang mengharuskan kita untuk melakukannya. Keadaan inilah yang akhirnya mendorongku untuk mencari cara agar keluar dari derita mabuk perjalanan tersebut.
Hampir semua cara yang pernah disampaikan teman dan kerabat kulakukan, selain meminum obat anti mabuk yang memang kuhindari. Aku tak suka karena efek mengantuknya yang lama dan kadang membuatku lemas sesudahnya. Memakai minyak angin atau balsem hanya membuatku semakin mabuk karena baunya. Lalu ketika dalam suatu perjalanan, kucoba melawan rasa mabuk tersebut. Kubujuk dan kukatakan pada diriku agar tak menuruti bisikan untuk mabuk. Kulawan perasaan itu sekuat kubisa.
Awalnya kucoba mengalihkan perasaan mabuk tersebut dengan memperhatikan pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan. Mengamati bentuk-bentuk pepohonan, memperhatikan perbedaan bentuk batang dan daunnya, bahkan memperhatikan rumah dan pagar. Kucoba memperhatikan detail yang bisa saya kutangkap di sepanjang perjalanan.
Menikmati pemandangan yang terbentang, bentuk awan dan keindahan alam yang terbentang nyatanya sangat ampuh menghilangkan rasa mabuk perjalananku. Alhamdulillah, sejak saat itu, saya tidak lagi mengalami mabuk perjalanan meski harus melalui jarak yang sangat jauh.
Apalagi setelah adanya handphone cerdas yang bisa merekam keindahan gambar, maka semakin terasa nyamanlah perjalanan yang awalnya memabukkan. Perjalanan panjang yang dulunya memabukkan, kini berubah menjadi perjalanan yang menyenangkan.
Kalau aku biar gak mabuk nyemil makanan aja ;) hehehe
BalasHapus