Bapak Pemikul Lesung Batu

Minggu, 22 April 2018

Tubuh gempalnya berayun seiring langkah beratnya menapak bumi. Pikulan di bahunya mengangguk-angguk mengiring setiap langkahnya. Cobek dan lesung batu dikedua pikulannya seolah tak mau tahu betapa mereka menggelayuti pundaknya.

Melintas ia tadi di kilasan pandangku.
Refleks, batinku terusik iba. Langkahku bergegas mengejarnya, menepuk tangan, lalu melambai padanya. Dengan berat ia memutar tubuh tambunnya berbalik ke arahku.


Setiba di hadapku, napasnya memburu. Butiran kristal seumpama jagung menitik deras di lipatan dahinya. Aku nyaris tang sanggup berkata. Cobekan dan lesung batu kini terlepas dari pundaknya.

Kutanya harga sambil menunjuk lesung terkecil, menyebut ia sejumlah angka. Jemarinya lalu melepas satu-satu susunan batu berlubang itu, menjejernya dekat ke kakinya.

Diangkatnya yang paling besar, lalu ia sodorkan padaku sambil mengatakan harga. Aku mahfum.
Ingin ia bersegera melepas beban dari pundaknya. 

Kembali dilepasnya susunan cobek dari pikulan sebelah. Menyodorkan padaku sambil menyebut nilainya.
"Ya sudah, saya ambil keduanya."

Samar, rasa bahagia menelusup manakala melihat sebaris senyum lega darinya. Ah, sesederhana itulah cara merasakan suka.

Bahagia manakala melihat orang lain dapat mengulas senyum lega. Terlebih ketika ia melafaz "Ya Allah ..." sambil mengangkat sisa pikulannya yang tak lagi seberat semula.

Kilas pandangnya tak dapat kukata. Lalu bergegas ia balikkan badan, coba sembunyikan basah matanya.
Entah, mengapa aku rasakan serupa.

Ah, bapak pemikul lesung Semoga Allah mudahkan bagimu rejeki yang halal dan thoyyib serta limpahkan berkah bahagia kepada keluarga yang menantimu di rumah.

Posting Komentar