Alhamdulillah, semua peserta rombongan berada dalam kondisi yang baik, kecuali satu rombongan yang bus yang alat pendinginnya tidak berfungsi sehingga para penumpangnya yang berjumlah 24 orang mengalami kepanasan bahkan ada yang dehidrasi. Pantas saja ketika mobil kami berdampingan di daerah Mandai tadi, kulihat hampir semua membuka jilbab mereka. Bahkan ada yang membuka baju dan hanya memakai singlet dalaman !!!Astagfirullah.
Aku langsung menghampiri rombongan tersebut. Semua berwajah tak karuan. Ada yang terduduk lemas sambil bersandar pada teman lainnya dan hampir semua mengeluh pengap dan kepanasan. Ah, mengapa fihak koordinator lapangan begitu ceroboh memberi kami mobil yang kondisinya tak layak seperti itu?!
Bayangkan, melakukan perjalanan selama hampir lima jam dengan mobil tertutup rapat, hampir tak ada ventilasi kecuali jendela kecil di samping kiri kanan sopir seukuran sekitar 15 x 25 cm, tanpa pendingin dan terjebak macet pula selama hampir dua jam dibawah terik matahari!
Aku sempat bergidik membayangkan kondisi mereka saat itu. Terbayang olehku sekumpulan ikan dalam akuarium, tertutup rapat tanpa pasokan udara dan diletakkan dibawah terik matahari! Untungnya sebagian dari mereka memiliki fisik yang bugar bugar, sehingga meski berada dalam kondisi tersebut mereka masih bisa bertahan. Tapi tak sesikit juga meski banyak diantara mereka yang berkata bahwa sekitar setengah jam lagi mobil berjalan, kemungkinan mereka semua akan pingsan! Kusampaikan kondisi bis tersebut kepada fihak pengundang, dan mereka berjanji u tuk segera mengatasinya.
Tiba di lobby mall, kami langsung diarahkan untuk segera memakai sarung sutra dan segera masuk ke ruangan bioskop karena pertunjukan akan segera dimulai. Meski masih letih dan tentunya juga lapar, dengan patuh sebagian besar dari mereka segera mengikuti arahan pihak pengundang.
Pemandangan ini tentu saja menarik perhatian hampir semua pengunjung yang akan masuk dan keluar mall. Bahkan ada beberapa diantara pengunjung yang bertanya langsung kepadaku ,”Ada acara apa bu, kenapa semua pake sarung sabbe?”
“O ...Penenun Sengkang diundang sama Kalla grup untuk nonton bareng film Athirah” jawabku.
“Ihh ...cantik-cantiknya sarung sabbenya” celetuk yang lain.
“O ...Penenun Sengkang diundang sama Kalla grup untuk nonton bareng film Athirah” jawabku.
“Ihh ...cantik-cantiknya sarung sabbenya” celetuk yang lain.
Ada yang mengambil gambar rombongan kami, ada juga yang khusus mengambil foto sarungnya saja
Tak lama kemudian, hampir semua anggota rombongan sudah menaiki eskalator menuju studio XXI dengan diantar oleh salah satu fihak pengundang. Sementara itu saya masih tertahan di ruang emergency bersama anakku dan salah seorang fihak pengundang yang sekaligus bertugas sebagai koordinator lapangan untuk membantu memulihkan kondisi dua orang peserta yang sempat ambruk. Keduanya mengalami shock akibat kepanasan dan dehidrasi di dalam mobil yang AC-nya rusak tadi. Keringat dingin mengucur deras dan hampir tak bisa berjalan karena lemas dan pandangan yang menguning, (begitu pengakuan mereka setelah kondisinya membaik). Mereka hampir saja pingsan! Untungnya fihak security sigap membantu, memberikan kipas dan beberapa karyawan mall juga silih berganti memberi minyak kayu putih. Sekitar setengah jam kemudian barulah konsisi kedua penenun tadi membaik.
Pertunjukan sudah setengah main ketika aku masuk. Basri, sang koordinator lapangan tadi, kemudian menunjukkanku kepada salah satu bangku yang masih kosong pada baris ke empat dari depan. Pengaruh guncangan selama perjalanan tadi dan posisi duduk yang amat dekat membuatku tak bisa menikmati tontonan dengan baik. Kadang aku harus memejamkan mata ketika cahaya terang dari layar di depanku memantul tajam. Aku agak pusing ...dan tentu saja alur ceritanya tak tertangkap olehku dengan baik. Pesan yang kutangkap hanyalah bahwa Ucu remaja merupakan sosok yang begitu perhatian kepada ibunya, yang selalu berperan sebagai pendamping dalam menjalani hari-hari getir yang dialami sang ibu, juga gambaran tentang kesetiaan seorang Athirah pada suami yang telah menduakannya, yang masih setia mau membantu bangkitnya suami dari keterpurukan.
Satu hal yang membuatku masih tetap ingin bertahan melihat adegan di layar lebar yang menyilaukan itu adalah keinginanku melihat bagaimana para pemain memakai kain produksiku dan sarung dimana aku turut andil mendesain coraknya
Lumayan terhibur rasanya manakala melihat sebagian besar kain yang dipakai dalam adegan tersebut adalah kain produksi dan koleksi keluargaku. Baik ketika Mak Kerra bercerita tentang kisah kain tenun, ketika Ucu remaja ngambek di pembaringannya, ketika acara pesta, juga yang dipakai Sang Pakkacapi dan masih banyak adegan lagi. Ehhh, termasuk sarung yang jadi pusaka Athira yang dipakainya dan yang dijelujur. Daaan juga sarung yang ikut kudesain coraknya, ternyata jadi bahan jualannya Athirah!!!
Kukeluarkan smartphone lalu mengambil beberapa gambar ketika ketika kain- kain yang kumaksud tampil, rencananya untuk kujadikan bahan tulisan. Untungnya aku sudah mengambil beberapa gambar sebelum fihak keamanan mendekatiku dan menegurku, hehehe.
Usai nonton rombongan ditemui oleh ibu Imelda JK, dan surprise lagi ...karena ternyata produser film tersebut, mas Riri Riza juga hadir menyambut kami Lalu acara kemudian dilanjutkan dengan foto bareng di lobby theatre sebelum akhirnya menuju ke ruangan atas untuk makan siang dengan menu nasi kotak.
Usai santap siang (yang waktunya sudah hampir Ashar), rombongan ditemui oleh ibu Fatma Kalla, berbincang sejenak tentang sarung sutra dan permasalahannya, lalu rombongan diberi kesempatan untuk shalat dan melihat- lihat di mall selama dua jam sebelum akhirnya rombongan berkumpul kembali untuk balik ke Sengkang.
Kalau ditanya kesuksesan acara nobar ini, kukatakan fifty-fifty...
Jika tujuannya untuk mengajak para penenun untuk menonton, ya ...mereka sudah menonton filmnya. Hanya saja jika ditanya apakah mereka menikmati? Kurasa tak sesuai harapan.
Jika tujuannya untuk mengajak para penenun untuk menonton, ya ...mereka sudah menonton filmnya. Hanya saja jika ditanya apakah mereka menikmati? Kurasa tak sesuai harapan.
Keadaan mereka yang terlalu letih setelah terjebak macet selama kurang lebih dua jam di bawah terik matahari, setiba di mall langsung disuruh memakai sarung sutra dan digiring ke theatre tanpa minum dan dalam keadaan lapar, tentunya menjadi catatan tersendiri. Dengan adanya tragedi bus yang pendingin nya tidak berfungsi dan menyebabkan 24 peserta mengalami keadaan yang sama sekali tak nyaman tentu ini menjadi peringatan yang serius dan jadi masukan serius bagi panitia pelaksana, apalagi sampai kembali ke Sengkang mobil tersebut belum juga diperbaiki meski sudah berulang-ulang kuprotes. Untungnya udara malam dan hujan agak membantu sehingga keadaannya tak separah siang tadi. Tapi tetap saja, keadaannya tentu sangat jauh dari nyaman mengingat tak adanya ventilasi di mobil tersebut yang cukup untuk membuat udara segar masuk.
Jendela kecil dekat supir dan sedikit ruang terbuka selebar beberapa sentimeter di atap mobil pastilah tak cukup untuk menyegarkan mereka. Maka tak heran ketika keesokan harinya kuhubungi sebagian dari penumpang mobil tersebut, mereka mengalami vertigo dan mabuk perjalanan.
Meski demikian, kesan lucu masih bisa kutangkap dari cerita mereka ketika harus membantu memegangi beberapa orang teman mereka yang takut naik eskalator, bahkan salah seorang dari mereka harus dibantu oleh fihak keamanan untuk mematikan eskalator ketika hendak turun tangga karena menarik ulur kakinya beberapa kali sebelum akhirnya terlihat oleh fihak kemanan mall








Keren reportasenya kak. Jika saja peserta menginap dulu semalam paling tidak beristirahat sejenak dan dlm kondisi yg prima untuk nonton film ini sy rasa film atirah dpt memberikan stimulan bagi para peserta untuk produksi sarung sutra. Nakun demikian saya berharap bisa mengambil hikmah positifnya untuk menjadi acuan dlm meningkatkan produksi sutra di Sengkang.
BalasHapusTengkyuu Abby.
BalasHapusSemoga pengalaman ini bisa dambil hikmahnya. 😊