Mana mungkin, mana bisa... kata hatinya.
Wanita itu masih terbilang baru di lingkungannya. Menurut pandangan matanya, wanita itu belum bisa, belum berhak mengikutinya. Ia masih minim pengalaman, ia masih kurang ilmu, kata hatinya berbisik. Ia bukan siapa-siapa, ia bukan apa-apa. Kemarin ia masih seorang wanita yang tidak tau apa-apa, mana mungkin sekarang ia bisa ikut gabung bersama para wanita lainnya yang lebih pengalaman dan lebih banyak mengetahui??
Wanita itu masih terbilang baru di lingkungannya. Menurut pandangan matanya, wanita itu belum bisa, belum berhak mengikutinya. Ia masih minim pengalaman, ia masih kurang ilmu, kata hatinya berbisik. Ia bukan siapa-siapa, ia bukan apa-apa. Kemarin ia masih seorang wanita yang tidak tau apa-apa, mana mungkin sekarang ia bisa ikut gabung bersama para wanita lainnya yang lebih pengalaman dan lebih banyak mengetahui??
Ia tak tau mengapa ia tak suka pada wanita ini. Ada perasaan tersendiri dalam hatinya setiap melihatnya. Ia merasa wanita itu telah menelikungnya dengan berfihak kepada orang yang menciptakan opini kurang baik terhadapnya.
Wanita itu dulunya pernah mencoba dekat padanya, mengambil hatinya, tapi ia sudah terlanjur tak suka pada pendekatan pertamanya. Ada sikap yang tak disukai dari wanita itu. Ia lancang, keras kepala dan kelihatannya seperti pemberontak, tak tau menempatkan diri dan tak beradab. Begitu kata hatinya menilai wanita itu.
Bisa jadi penilaian itu ia buat berdasarkan kesimpulan yang ia dapat dari cerita cerita yang didengarnya dari berbagai fihak. Wanita itu berpendirian keras dan kaku, sukar dibentuk. Bahkan tak segan untuk berontak kepada keluarganya sendiri. Ia hanya mau menjalankan apa yang menurutnya benar!!!
Tapi apakah benar hal ini yang menyebabkan ketidak sukaannya akan keberadaan wanita itu dalam acara yang akan dihadirinya nanti?
Sebuah bisikan halus menegurnya.
"Hai, begitu angkuh dan sombongnya engkau, merasa lebih baik, lebih mulia dan lebih segalanya dibanding wanita itu".
"Apakah menurutmu engkau bisa memperoleh apa yang kau dapat sekarang tanpa campur tangan Sang Maha Pengatur?"
"Apakah engkau ingin memprotes takdir Allah atasnya?"
"Sadarkah, kemuliaan seseorang diperoleh bukan karena harta, kepandaian ataupun kedudukan seperti yang ada padamu?"
"Semua itu hanyalah pinjaman belaka, kemuliaan bisa saja Allah berikan kepada siapapun yang Ia kehendaki."
"Bukankah Allah juga memberi kemuliaan kepada seorang tukang batu yang tangannya dicium oleh manusia paling mulia se dunia, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?"
"Bukankah tangan kasarnya yang hitam dan melepuh itulah menyebabkan manusia paling sempurna berkata bahwa tangan kasar itu yang tak akan disentuh oleh api neraka?"
"Hai, begitu angkuh dan sombongnya engkau, merasa lebih baik, lebih mulia dan lebih segalanya dibanding wanita itu".
"Apakah menurutmu engkau bisa memperoleh apa yang kau dapat sekarang tanpa campur tangan Sang Maha Pengatur?"
"Apakah engkau ingin memprotes takdir Allah atasnya?"
"Sadarkah, kemuliaan seseorang diperoleh bukan karena harta, kepandaian ataupun kedudukan seperti yang ada padamu?"
"Semua itu hanyalah pinjaman belaka, kemuliaan bisa saja Allah berikan kepada siapapun yang Ia kehendaki."
"Bukankah Allah juga memberi kemuliaan kepada seorang tukang batu yang tangannya dicium oleh manusia paling mulia se dunia, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?"
"Bukankah tangan kasarnya yang hitam dan melepuh itulah menyebabkan manusia paling sempurna berkata bahwa tangan kasar itu yang tak akan disentuh oleh api neraka?"
Ia terhenyak. "Astagfirullah 'aladzhim",lirih suaranya keluar. Ia seperti baru tersadar dari tidurnya. Mengapa ia bisa memelihara rasa ini dalam dadanya?
Wanita itu bisa jadi punya kekhilafan atasnya, tapi bukankah ia juga sering berbuat khilaf? Dan bisa jadi kekhilafan yang wanita itu perbuat atas dirinya juga terjadi diluar kesadarannya sebagaimana ia pun sering berbuat begitu!
Iya, ini pasti was-was syaithan yang menuyusup dalam dadanya, meniupkan rasa ketidak sukaan dan kebencian atas nikmat yang Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki. "Audzubillahi minasysyaithanir rajim".
Dia harus bangkit, harus menata kembali hatinya. Pasti ada penyakit yang bersarang dalam dadanya hingga menyebabkannya merasa benci dan tak suka.
Hasad, ya... sepertinya penyakit hasad telah menyusupi relung hatinya.
Ohhh... ia bergidik. "Astagfirullah ya Kariim" kembali ia beristigfar.
Ohhh... ia bergidik. "Astagfirullah ya Kariim" kembali ia beristigfar.
Ia takut sendiri membayangkan akibat dari penyakit hasadnya ini. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana kelak pada hari pembalasan ketika ia mendapati catatan amalnya habis terbakar oleh kebencian, kedengkian pada saudarinya itu.
"Jagalah dirimu dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu merusak kebaikan. Sebagaimana api memakan kayu bakar ."(HR. Abu Daud No. 4257 dari Abu Hurairah)
Ya, saudarinya....
Bukankan setiap muslim itu bersaudara dan tidak sepantasnya seorang saudara merasa marah ketika saudaranya yang lain memperoleh nikmat.??
Bukankan setiap muslim itu bersaudara dan tidak sepantasnya seorang saudara merasa marah ketika saudaranya yang lain memperoleh nikmat.??
“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Ketakwaan itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan beliau mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” (HR. Muslim no. 2564)
Ia merasa lemas....
"Astagfirullah ya, Allah", untuk kesekian kalinya ia beristigfar.
"Astagfirullah ya, Allah", untuk kesekian kalinya ia beristigfar.
"Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan diriku dan kuatkanlah aku dari pada sebaik-baik urusanku. Ya Allah, berikan kepadaku ampunan atas segala yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan, apa yang aku lakukan dengan tidak sengaja mapun yang aku lakukan dengan sengaja, juga apa-apa yang aku ketahui maupun yang aku tidak ketahui."
Lamat-lamat, doa itu ia lantunkan seiring butiran bening yang bergulir lembut ke pipinya.
*image by google
*image by google

Posting Komentar