Cerita Dibalik Nobar Athirah 2

Jumat, 04 November 2016



Kekhawatiran dan alasan  mereka memang logis, disamping itu sebenarnya saya juga merasa tidak nyaman melepas mereka tanpa pendamping dari fihakku. Masa iya, saya yang memanggil mereka lalu melepas mereka begitu saja?


 Apalagi banyak diantara penenun yang mendaftarkan diri ini adalah mereka yang masih sangat awam dan tak terbiasa dengan acara-acara seperti ini.  Disamping itu, penyampaian fihak pengundang bahwa akan ada penyambutan dari fihak yayasan sekaligus sesi foto bersama dan akan diliput oleh wartawan, tentu saja menjadi pertimbangan khusus bagiku. Bagaimana mengatur enam puluh orang itu jika tak ada yang mendampingi?!

Kusampaikan hal ini kepada suami dan memintanya untuk menggantikan posisiku, tapi ia menolak. Aku mengerti alasan penolakannya, mengingat  sikon kami yang memang sebenarnya belum pulih setelah meninggalnya ibu mertua dua pekan lalu. Tentu masih sangat banyak urusan keluarga yang belum beres dan harus segera diselesaikan. Aku bingung, tak tau lagi mau mencari siapa untuk menggantikan posisiku.

Pasrah, bukan berarti tak berusaha. Masih ada tiga hari kesempatan sebelum berangkat. Aku masih bisa berusaha mencari orang lain untuk menggantikan posisiku. Aku yakin, Allah pasti memberi jalan keluar atas setiap kesulitan jika kita memintanya. Maka makin kuintensifkan doa-doaku setiap usai sholat dan pada setiap kesempatan. Laa hawla wa laa quwwata illah billah. Aku yakin, Dia takkan mungkin memberiku masalah tanpa jalan keluar. Ya, dalam keadaan seperti ini, keran doa dan berbaik sangka atas semua ketentuan-Nya harus dibuka lebar-lebar.Doa harus makin deras dikucurkan...

“Rabb, jika berangkat ke Makassar adalah pilihan terbaik dari-Mu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratku maka mudahkanlah. Tapi jika hal itu memberi kemudharatan untuk kebahagiaan dunia akhiratku, maka gantikanlah aku dengan sesuatu yang lebih baik.”
Hampir setiap usai sholat, doa ini kupanjatkan. Aku benar-benar tak tau lagi harus berbuat bagaimana. Setiap orang yang kuhubungi untuk menggantikan posisiku, selalu punya alasan penolakan.

Kesehatanku belum pulih benar, sementara desakan para penenun agar aku ikut mendampingi mereka semakin menekan perasaanku. Ya, benar juga kata mereka, aku tak bisa melepaskan mereka begitu saja, apalagi banyak diantara mereka yang baru kali ini akan menginjak mall. Bahkan beberapa diantara mereka sudah menyampaikan kalau sebenarnya mereka takut untuk ikut, takut naik tangga jalan!  Alasan yang membuatku tertawa sekaligus merasa tersentuh. Ah...


Sehari sebelum berangkat, alhamdulillah kuota terpenuhi, itupun banyak yang harus kecewa karena terpaksa kutolak. Peserta yang mau berangkat ternyata melebihi kuota yang ditetapkan oleh fihak pengundang. Untungnya beberapa diantara mereka yang sudah sering berkunjung ke Makassar mau berlapang dada dan mengundurkan diri  serta memberi kesempatan kepada teman mereka yang baru pertama kali akan menginjak kota. Oh, so sweet  Satu masalah teratasi. Tinggal mencari jalan keluar, siapa yang mendampingi mereka.

Usai sholat Ashar, kudekati suamiku yang sedang menonton di ruang depan.
“Pa, kitamo pale yang temani penenun, karena belum fit sekalipi perasaanku ini..”kataku sambil duduk di sampingnya.
“Janganmi deh, kau mi yang pergi” katanya tanpa berpaling dari layar tivi.
“Kenapa ka na tidak mauki? Kasian itu mereka, banyak yang baru mau injak Makassar. Takutki beng naik tangga jalan kodong", kucoba menyentuh perasaannya.
“Jangan mi, kaumi yang temani ka tidak tauka nanti mau bagaimana menghadapi mereka karena perempuan semua ..”ia mengunci hatinya.
“Jadi bagaimana mi? Bantuma pale cari jalan keluarnya”. Aku masih berharap ia bisa bergeming.
“Passeddi bawanni atimmu jokka ndi!” (bulatkan hatimu untuk berangkat dik!) katanya kalem dalam bahasa bugis.
Aku terdiam. Aku tau, dia tak bisa lagi merubah keputusannya.

Anehnya, jawaban itu seperti memberikan suatu kekuatan yang sangat besar kepadaku. Ia seolah memberiku spirit yang mendorongku untuk membulatkan tekadku untuk berangkat. Suamiku memberiku restu!! 

Ya, seperti itu perasaanku. Aku seperti punya kekuatan baru, aku harus kuat, apalagi anak lelaki tertuaku bersedia mendampingiku sekaligus menjadi mahramku! Maka tak ragu lagi,  usai melaksanakan sholat magrib aku mengubah lafaz do'aku.
“Rabb, bantu aku dan mudah kan bagiku untuk berangkat besok. Sehatkan aku ya Rabb,  jaga aku, pelihara aku, kuatkan aku serta berilah aku hikmah dari padanya”. Doa itu kulafazkan seiring derai air mataku. Aku tau, hanya Dia yang bisa menolongku saat ini, dan memang sudah seharusnya hanya kepadanyalah Aku menggantungkan harapanku.

Usai sholat Isya, tubuhku terasa ringan. Kusiapkan segala keperluan yang akan kubawa besok, sampai tak terasa jam sudah menunjukkan hampir pukul 23. Mataku sudah semakin berat. Bersegera aku menuju pembaringan, berdoa mohon di mudah kan untuk terlelap, jangan sampai insomniaku terulang lagi seperti beberapa malam terakhir. Alhamdulillah, tak lama kemudian aku terlelap...

Pukul 4.30 aku terbangun. Gerimis kecil sisa semalam masih juga turun. Ada sedikit kekhawatiran akan terjadinya hujan lebat seperti subuh sebelumnya. Bisa-bisa jadwal keberangkatan jadi molor jika itu terjadi. Untungnya tak lama kemudian gerimis berhenti.

Belum pukul enam, satu persatu penenun mulai berdatangan. Dan sesuai penyampaian dari fihak pengundang bahwa paling lambat setengah tujuh, rombongan sudah harus meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian mereka sudah hadir semua.

Setengah tujuh, mobil belum juga tiba. Kuhubungi nomor telepon kordinator lapangan yang ditugaskan untuk menjemput kami. Ternyata supir bus yang mau menjemput tidak tau jalan. Akhirnya aku memberitahu agar si supir minta ditemani oleh salah seorang satpam dari kantor Yayasan Kalla Sengkang, tempat mereka menginap semalam. Syukur, tak perlu menunggu lama akhirnya bis jemputanpun tiba dan rombongan berangkat sebelum pukul tujuh 

Ringkas cerita, perjalanan kami dari Sengkang lumayan berjalan lancar. Hanya sesekali ada anggota rombongan yang minta singgah untuk ke toilet. Sampai di daerah Mandai,  perjalanan kami mulai tersendat dan terjebak macet sekitar dua jam. Tentu saja hal ini membuat semua susunan acara yang sudah disepakati akhirnya berjalan tak sebagaimana mestinya.  Seharusnya, sesuai jadwal sebelumnya,  kami tiba paling lambat pukul dua belas siang. Lalu ramah tamah dengan  fihak pengundang sambil makan siang sebelum acara nonton bareng. Apa boleh buat, rombongan baru tiba setelah pukul satu.

2 komentar

  1. Sehat selalubyah kal ida... dan tetep semangat mengkoordinor dan membina perempuan2 sengkangenjadi perempuan yg lebih produktif. Semangaattt

    BalasHapus