Cerita Dibalik Nobar Athirah 1

Kamis, 03 November 2016


Pernah lihat pasukan bersarung sutera masuk mall???
Seru, dan sudah pasti hampir semua mata tertuju padanya. Ya, masuk mall rame-rame dan pake sarung sutera aneka warna tentu saja akan menarik perhatian para pengunjung lain. Banyak yang kepo dan  bertanya, "ngapain tuh laskar bersarung masuk mall?" hihihi.



Ini bukan khayal tapi kisah nyata. Ceritanya, Yayasan Haji Kalla mengundang seratus penenun dari Sengkang untuk nobar (nonton bareng) film Athirah. Sudah tau kan film yang ku maksud? Itu lho, film yang bercerita tentang kisah ibunda pak Yusuf Kalla, Athirah.  Yang sudah nonton pasti tau  ceritanya. Yang masih penasaran, segera nonton yaaa! Hehe.

Undangan disampaikan langsung kepadaku sekaligus diminta untuk mendampingi mereka ke acara nobar tersebut. Mengapa saya? Begini ceritanya...

Awalnya mas Riri Riza datang bersama mbak Mira Lesmana dan rombongan berkunjung ke showroom, bertanya-tanya tentang pertenunan  dan banyak hal seputar kain tenun sengkang. Dan sungguh menjadi berita yang membahagiakan ketika mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka adalah dalam rangka pembuatan film Athirah yang lokasi pembuatannya  akan dilaksanakan di Sengkang dan dengan  latar belakang cerita  tenun! Dan tentu saja aku mengiyakan ketika mereka memintaku untuk bisa berbagi tentang hal tersebut.

Lalu apakah saya main film???
Mmmm ...mungkin saja seandainya tawaran dari mbak Chitra Subiyakto untuk memerankan penenun kuiyakan saat kesekian kalinya ia berkunjung ke tempatku. Tapi tawaran itu tentu saja kutolak karena beberapa alasan, pertama karena aku memang tak bisa menenun dan kedua karena penampilanku yang tentu saja takkan sesuai dengan setting cerita. Mana mungkin tempo dulu ada penenun yang berjilbab lebar, hehe. Jadi jangan mencari wajahku di film itu ya karena bakalan tidak nongol 


Yang banyak tampil di film tersebut justru kain-kain sarung produksi dan koleksi keluargaku, mulai dari sarung lawas produksi tahun 60an hingga sarung yang ku produksi khusus untuk pembuatan film tersebut, dimana saya ikut ambil bagian ketika membuat desain coraknya. Dan inilah yang merupakan salah satu alasan kuat yang membuatku berusaha sebisa mungkin untuk ikut menonton film tersebut. Nah itu mungkin salah satu pertimbangan mengapa fihak yasan menyampaikan undangan tersebut melalui saya.


Nah kembali kepada cerita nobar tadi...
Sebenarnya ketika undangan tersebut disampaikan, keadaanku sedang tidak sehat sehingga kusampaikan kepada fihak pengundang kalau kemungkinan besar saya tidak bisa hadir untuk mendampingi para penenun. Mereka maklum dan mengatakan kalau saya bisa mencari orang lain sebagai pengganti, yang penting ada seseorang yang bisa mendampingi para penenun tersebut. Lalu  kuhubungi seorang teman yang juga membawahi banyak penenun, menyampaikan undangan tersebut sekaligus meminta kesediaannya untuk menggantikan posisiku. Syukurlah, si teman bersedia sekaligus mendaftarkan anggotanya sebanyak 20 orang.

Alhamdulillah, persoalan pendamping telah teratasi, sekarang tinggal mengumpulkan penenun yang 60 orang lagi karena menurut penyampaian fihak pengundang, saya hanya perlu mencari 80 orang lagi karena quota yang 20 orang sudah diisi oleh kelompok lain.

Tidak mudah mengumpulkan penenun sebanyak enam puluh orang disaat kondisiku kurang sehat seperti ini. Apalagi pihak pengundang hanya memberi waktu seminggu untuk mendaftarkan nama-nama peserta. Hb-ku yang rendah membuat tubuhku lemah dan  pusing yang kadang membuat pandanganku seperti berputar dan gelap setiap merubah posisi kepala. Melihat layar handphone adalah pekerjaan yang sangat kuhindari karena membuat kepala dan rongga mataku sakit. Bagaimana mau menghubungi mereka jika ke kamar mandi saja aku harus dipapah!

Hari  berikutnya kondisiku masih belum juga membaik.  Sementara itu, nama peserta yang terkumpul belum   sepertiga dari jatah yang diberikan. Meski sebenarnya sudah ada beberapa orang yang mendaftarkan diri untuk ikut, namun sayangnya mereka bukanlah para penenun seperti yang diminta fihak pengundang, walau mereka bergelut di bidang pertenunan. Jadi namanya kutampung saja dulu sebagai antisipasi jika ternyata nanti nama yang terdaftar tidak mencukupi kuota yang diberikan.

Energiku terasa makin terkuras cepat, terbagi antara memikirkan bagaimana cara menghubungi para penenun sekaligus untuk memulihkan kondisi kesehatanku sendiri. Kuminta kepada suami untuk membelikanku sari kurma, karena sesuai pengalaman sebelumnya, sari kurma  dapat membantu menaikkan HB-ku dengan cepat tanpa harus meminum obat-obatan kimia. Anakku yang masih duduk di kelas enam juga kuminta tolong untuk mencari tau melalui internet, apa saja yang bisa membantu mengatasi kondisi seperti yang kualami ini secara alami.

Banyak cara kutempuh untuk segera memulihkan kondisiku sesuai petunjuk yang kudapat melalui halaman mbah google. Mulai dari mengkonsumsi rebusan kacang hijau dicampur gula aren,  memperbanyak sayuran hijau dan tentu saja mengkonsumsi madu dan sari kurma. Dan krena dorongan keinginan untuk segera pulih, sampai-sampai saya memesan Brokoli dan buah Bit dari Makassar karena kedua jenis buah dan sayuran ini tak ada di Sengkang!  Alhamdulillah hari keempat kondisiku berangsur membaik. Saya sudah bisa ke kamar mandi sendiri dan duduk agak lama.

Segera kuhubungi beberapa orang koordinator penenun untuk mendaftarkan nama-nama anggota mereka yang bisa ikut. Tak lupa  kusampaikan juga jika aku belum tentu bisa hadir menemani mereka dan meminta kepada para koordinator untuk mendampingi anggota mereka di acara tersebut. Dan seperti yang kukhawatirkan, ternyata banyak diantara mereka yang merasa keberatan dan berencana mengundurkan diri jika aku tidak bisa ikut bersama mereka 

“Aii pung aji, kalau tidak ikut ki, saya juga tidak jadi ikut.” Perkataan ini hampir seragam mereka ucapkan ketika kusampaikan ketidak pastianku untuk ikut mendampingi.
“Ikut maki, adaji orang lain yang wakilika untuk dampingiki” jawabanku ternyata tidak cukup untuk membulatkan hati mereka untuk ikut.
“Tidak sama pung aji kalau kita yang ikut. Kalau sama orang lain belumpi ditau bagaimana orangnya.”
“Bagaimana kami nanti di sana ...kalau ditanya-tanyaki sama orangnya pak Kalla, apami mau dibilang?”

Kekhawatiran dan alasan  mereka memang logis, disamping itu sebenarnya saya juga merasa tidak nyaman melepas mereka tanpa pendamping dari fihakku. Masa iya, saya yang memanggil mereka lalu melepas mereka begitu saja? Apalagi banyak diantara penenun yang mendaftarkan diri ini adalah mereka yang masih sangat awam dan tak terbiasa dengan acara-acara seperti ini.  Disamping itu, penyampaian fihak pengundang bahwa akan ada penyambutan dari fihak yayasan sekaligus sesi foto bersama dan akan diliput oleh wartawan, tentu saja menjadi pertimbangan khusus bagiku. Bagaimana mengatur enam puluh orang itu jika tak ada yang mendampingi?!


Kusampaikan hal ini kepada suami dan memintanya untuk menggantikan posisiku, tapi ia menolak. Aku mengerti alasan penolakannya, mengingat  sikon kami yang memang sebenarnya belum pulih setelah meninggalnya ibu mertua dua pekan lalu. Tentu masih sangat banyak urusan keluarga yang belum beres dan harus segera diselesaikan. Aku bingung, tak tau lagi mau mencari siapa untuk menggantikan posisiku.




Bersambung ...

4 komentar

  1. Masya Allah, sahabatku sudah jadi enterpreneur hampirki lagi jadi artis.
    Saya suka..saya suka..saya suka...
    Kapan Kopdar Ida, kangenku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe...dari dulu sudah jadi artis sekolah *eh.
      insya Allah kalau saya ke Makassar, singgahkà di sekolahta yang penuh memori itu...

      Eh, jadi pengen nulis cerita waktu dikejar-kejar pak Razak dulu hihi

      Hapus
  2. Deehh... padahal berharap ada kak ida yg ikut main di film atirah hehee

    BalasHapus