Maaf

Kamis, 06 Oktober 2016

Maafkan aku,  yang membalas julur tanganmu dengan jemari  menangkup. Juga maafku atas dinding tak kasat mata yang kupancang untuk menjaga jarak antara kita.  Pun  atas senyum yang kau ulas di atas gurat sedih dan kecewa yang tergambar pada ronamu.


Dinding tebal dan tinggi terbentang,  jauhkan jarak kita yang memang tak pernah dekat,  bak masa  ketika belia dulu.

Tak ku maksud angkuh sahabat, aturan aqidah  telah tergaris sempurna sebagai jalur tuk  kita melaju.Tak kini,  pun dulu,  rasa itu masih belum berubah. Engkau hanya sebatas sahabat sebagai mestinya bagiku, meski isyarat kasih telah kau pancar sejak berpuluh tahun lalu.

Maafkan ku yang sebabkan luka batinmu. Sebab rasa suka bukan benda yang dapat dibentuk sesuai ingin,  ia terlahir dari batin yang rela.

Sahabat, masihkah belum cukup lapang jua dadamu menerima takdir yang telah tergaris,  sehingga biarkan ragamu lena dalam duka yang tak bertepi,  biarkan jiwamu hampa  lalaikan asa kedua amanah yang Dia titip padamu.

Wahai,  jiwa nan kelana dalam duka, bahagia takkan kau jumpa pada khayal masa lalumu. Bangkit,  bangun berdiri dan buka mata hatimu!!! Di sana... di dunia nyatamu,  ada tiga hati yang menggantung asa padamu,  ia amanah yang harus kau pertanggung jawabkan kelak dihadapan Rabbmu.

Masa lalu... takkan pernah berbalik. Ia hanya meninggalkan jejak tanda bahwa kita pernah disana, pada rasa yang beda. Bukankah Dia tidak pernah salah menakdirkan nasib seorang hamba? Ya.... hanya hati kita yang lemah dan menolak garis-Nya.
Masihka mengejar bayang yang berlari...???

Ayo... bangun berdiri, sahabat!!! Tegarkan hatimu,  pandang jauh ke depan ke arah jalan panjang yang hendak kau tuju. Tapaki ia beriring ketiga belahan jiwamu.
Di sini,  akupun melangkah pasti bersama mereka yang Ia tetapkan untukku.

Posting Komentar