Ingin Belajar Olah Vocal

Jumat, 22 Januari 2016

Ups,  pasti ada yang mengira saya lagi mepersiapkan diri untuk ikut salah satu lomba atau kontes pencarian bakat dalam bidang tarik suara,  bener kan? Hehe...  Enggaklah karena saya yakin benar bahwa saya bakalan gak lolos deeh mulai dari babak penyaringan. Gak usah tanya alasan mengapa,  soalnya yang tau kualitas suara dan kemampuan saya menyanyi itu,  yaa tentu saya sendiri... Kalau ada yang protes tentang pendapat saya ini,  yaa silahkan,  monggo... gratis tanpa bayar 

Gini nih sebenarnya...
Fikiran iseng untuk ikut olah vocal ini timbul beberapa waktu lalu ketika usai berbagi ilmu dengan beberapa teman pada salah satu acara kajian. Pas lagi asyik menerangkan sesuatu,  seorang teman yang nota bene saat itu adalah muridku,  (cie...cie) menegur sambil menepuk pundakku dan berkata, "Umm...ngomongnya pelan-pelan saja".

Ups, spontan deh aku terdiam sejenak dan senyum kecut. Gak muna kok,  rasanya keki banget ditegur seperti itu di depan teman-teman lain yang saat itu posisi  mereka  adalah sebagai muridku. Mungkin  aku  kurang peka,  karena saat iru si teman membawa anaknya yang masih kecil dan sedang tertidur di sampingnya.

Tapi apa iya sih aku salah,  karena saat itu suer aku gak memperhatikan sampai kesitu. Aku hanya fokus kepada materi yang sedang aku bawakan. Dan saking seriusnya dan semangatnya,  aku gak sadar kalau suaraku membuat si teman tadi khawatir kalau anaknya akan terbangun mendengar suaraku yang lantang. Hehehe...

Soal suara ini, aku merasa oke-oke saja tuh karena selama ini gak (belum) ada yang protes. Seingatku,  dengan suara lantang yang aku miliki ini,  para guru di sekolah dulu sering memilihku untuk memimpin upacara bendera,  membaca UUD dan semacamnya baik di sekolah sendiri ataupun pada upacara-upacara yang dilaksanakan pada tingkat kecamatan,  bahkan sampai ke tingkat kabupaten.

Yup,  dengan modal suara lantang ini aku pernah diberi amanah   menjadi komandan upacara pada Lomba Tingkat ( dalam bidang kepramukaan) yang dihadiri oleh bapak walikota dan gambarku sempat terpajang di koran lokal dengan momen tersebut. Tapi yaa...itu dulu,  ketika masih jaman-jamannya jambore dan sejenisnya. Yaa... seumuran SD,  SMP gitu deh,  sudah lewat puluhan tahun lalu.. 
Juga  dengan suara yang dianugrahkan Allah inipun beberapa kali aku sempat mengharumkan nama sekolah karena menag dalam beberapa lomba  deklamasi dan sering diikutkan oleh guru-guru dalam kelompok paduan suara di sekolah ( berani nya cuma ikut nyanyi rame-rame biar gak ketauan suara aslinya,  qiqiqi...).  Nah,  berarti gak ada masalah kan dengan suaraku... (  menurut pengakuanku sendiri sih  )

Tapi eits,  untuk percakakan sehari-hari aku berbicara dengan suara yang biasa-biasa aja kok. Gak pakai suara super power gitu...
Nah,  kalau ada yang protes sepert si teman tadi,  mungkin memang aku harus muhasabah karena  tidak semua orang bisa menerima apa yang kita anggap biasa-biasa saja.

Ya,  mungkin bagi saya hal tersebut biasa karena sudah menjadi pembawaan sejak kecil.  Tapi okelah,  ada baiknya saya mencoba belajar dari rasa ketidak sukaan orang lain. Mencoba untuk menjadi lebih baik,  rasanya gak masalah kok.
Memang sih baru satu orang ini yang menegurku secara langsung, tapi teguran pertama ini kurasa cukup bagiku untuk muhasabah.

Bukan tak pernah mencoba, hanya saja ketika aku sedang asyik betbagi dengan teman-teman atau ibu-ibu,  suaraku mengalir begitu saja tanpa bisa  kubendung seiring keluarnya ide dari kepalaku.
Ahh.

2 komentar

  1. Hehehe, terkadang jadi diri sendiri itu lebih baik lho. Karena tiap manusia memang diciptakan berbeda.

    BTW, sudah follow blognya, ya? ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul...betul...betul...
      Makasih ya, sudah meninggalkan jejak 😍

      Hapus