Manusiawi , Ataukah Hati Yang Kian Membatu?

Jumat, 12 Agustus 2016

Manusiawi, satu kata yang sering sekali kita gunakan untuk membenarkan khilaf dan maksiat yang kita perbuat.
Marah, sedih, sakit ...ketika seseorang menghianati kepercayaan yang kita berikan. Manusiawi.

Lalu nafsu menghasut untuk melampiiaskan dengan berbagai cara.
Membalas menyakiti dengan perbuatan atau kata-kata. Menyebarkan aib, menghasut, agar ia merasakan sakit yang serupa, membukusnya dengan kata "CURHAT", menumpahkan segala kesal.
Dan  ketika nafsu makin terturutkan, tak sadar diri makin jauh terbenam dalam khilaf. Berlari mencari penghiburan pada hiruk pikuk dunia yang menyilaukan. Menenggelamkan diri dalam lingkungan yang memberi kehangatan semu sesaat.
Lalu langkah makin jàuh berlari ...
Lupa kepada Yang Mahamelihat ...
Lalai kepada Yang Mahamendengar ...
Berkeluh pada makhluk yang juga punya segudang lara. Mengadukan nasib kepada sesama yang tak punya kuasa atas segala makhluk.
Berlari ...makin menjauh dari Sang Mahapengasih. Mencari secercah bahagia pada kubangan maksiat yang melenakan.
Duhai, mengapakah hati demikian membatu, sehingga nasehat tak lagi ampuh, petuah tak lagi hirau?
Cobaan, nestapa dan lara, sesungguhnya bisa jadi adalah teguran yang Dia berikan agar diri kembali ingat akan langkah keliru  yang mungkin selama ini tak disadari.
Masihkah menyadarinya???
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, itu (dari) kesalahan dirimu sendiri ...". (QS. An-Nisaa: 79)
"Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." ( QS. Asy-Syura: 30)
Atau sudah semakin tertutupnyakah hati oleh maksiat sehingga tak peduli lagi dengan segala isyarat yang Dia beri???
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia menceritakan; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya seorang mukmin, jika ia mengerjakan suatu perbuatan dosa maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika ia bertaubat, menarik diri dari dosa itu dan mencari rudha Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika disanya bertambah, maka bertambah pula nodanya sehingga memenuhi hatinya. Itulahyang disebut ar-ran (penutup) oleh Allah Ta'ala dalam firmannya, 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang telah mereka usahakan itu menutupi hati mereka'." ( HR. Imam Tirmidzi dan Nasa'i)
Berlarilah ...menjauhlah ...
Hingga suatu saat diri akan terengah, lalu langkah akan terhenti ...
Dan semua tak lagi bisa diperbaiki!!!
Mungkin pada saat itu diri baru akan tersadar,  lalu terpaksa mengakui akan kuasa-Nya.  Naudzubillah.

Posting Komentar