Kompak

Jumat, 15 Januari 2016

Mumpung idenya masih setia nangkring di otak,  langsung deh nulis ini 😊

Eh... setelah sekian lama,  malam ini baru nyadar kalau saya dan suami ternyata kompaaaak banget dalam hal membagi ilmu ke anak. Kesadaran itu baru timbul ketika lagi bersih-bersih meja makan.

Ceritanya,  bungsuku  ada PR Matematika yang harus dikumpul besok. Dan seperti biasanya,   yang dijadikan tempat bertanya dan menyelesaikan soal pasti si bapak. Nah...momen inilah yang menimbulkan ideku untuk menuangkan ini ke dalam tulisan.

Untuk PR hitung-hitungan,  anak-anak curhatnya ke bapaknya tuh. Nah,  emaknya kebagian  mata pelajaran selain itu. Bahasa,  Agama dan  yang berbau seni. Hihi.. sok nyeni ah...

Tapi bener lho,  dari SMP dulu,  aku memang kurang begitu menikmati pelajaran matematika. Entahlah apa penyebabnya.  soalnya itu jaman puluhan tahun lalu,  ingatan sudah rada-rada kabur,. Hehehe

Beda dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia atau Inggris. Kedua  mata pelajaran  ini sih favorit banget, meski waktu SMP dulu pernah dapat coretan kapur di kening oleh bapak guru guanteng, gegara gak hafal tenses,  haahaha.

Tapi eits... justru dapat coretan itulah yang akhirnya membuatku jungkir balik untuk menghafal daaaan akhirnya jatuh cinta beneran sama mata pelajaran ini. Apalagi mendengar bapak guru ganteng ber cas cis cus di depan kelas, wuihhh keliatannya kereeen banget  😍

Saking terkagum-kagumnya, timbul deh keinginan untuk bisa ber cas cis cus ria seperti pak guru ganteng yang baik hati ( yang ini karena pernah ngantar pulang). #halahh

Dengan bekal cas cis cus apa adanya itulah, aku kebagian tugas membantu anak-anak mengerjakan PR Bahasa Inggris. Kalau pelajaran Bahasa Indonesia sih,  selain belajar dari guru-guru di sekolah,  juga privat gratis dengan bapak di rumah. ☺

Bapak yang berasal dari  sebuah dusun di dekat Danau Maninjau,  sehari-hari  mengajar dan memberi nasehat kepada kami dengan menggunakan peribahasa. Dan sudah pasti dooong... bahasa yang kami pergunakan sehari- haripun bahasa indonesia dengan dialek Melayu. Makanya,  nilai Bahasa Indonesiaku waktu di sekolah dulu selalu yang terbaik. Ya iya lah,  soalnya saya sekolahnya di Makasar yang bahasa sehari-harinya beda banget😊

Berpantun,  deklamasi, keterampilan (jaman sekolah dulu sih namanya prakarya) dan mengarang  juga dapat privat gratis dari bapak. Hehe... baru nyadar lagi kalau bakat menulis yang  apa adanya ini juga ternyata warisan dari bapak juga. 

Tapi kalau pelajaran hitung-menghitung ini, aku nyerah deh. Aku gak bisa sabar dan telaten menerangkan kepada anak-anak. Beda dengan bapaknya.

Hihihi.... heran juga sih,  gimana dulu aku bisa menyelesaikan kuliah di Fakultas Ekonomi yang notabene mata pelajarannya kebanyakan pakai angka-angka. 😀
Yang jelas,  ternyata perpaduan kelebihan masing-masing yang saya dan suami punyai dalam bidang mata pelajaran sangat memberi efek positif pada anak-anak.

Alhamdulillah,  dengan kekompakan kami dalam membagi tugas mendampingi anak-anak belajar di rumah,  prestasi keempat anak kami di sekolah selalu bagus dan sering menjadi utusan  untuk mengikuti perlombaan antar sekolah bahkan sampai ke tingkat propinsi.

Nah,  tentang utusan sekolah ini,  kelihatannya anak-anak juga ikutan tuh kompak gak mau heboh melapor ke kami. Bener loh,   kadang kami tidak tau kalau anak-anak ikut bertanding atas nama sekolah. Taunya setelah guru berterimakasih karena sekolah dapat juara sekian dalam pertandingan mata pelajaran yang diwakili oleh anak kami. Atau ketika tak sengaja ketemu temannya dan menceritakan tentang prestasi mereka. Ah... so sweet... 😊

Mungkin karena anak-anak menganggap biasa kali yaa,  sehingga menang dalam pertandingan tidak harus diheboh-hebohkan. Memang sih,  selama ini saya dan suami juga kompak menanamkan ke anak-anak untuk tidak terlalu mengejar predikat juara di sekolah. Kami sepakat untuk memberi pemahaman kepada anak-anak   bahwa belajar itu tak harus mengejar peringkat kelas. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana memahami materi yang diajarkan guru dan memperhatikan dengan seksama ketika guru menerangkan.

Jika ternyata kemudian mereka mendapat predikat juara,  itu tak lain adalah anugrah yang Allah berikan karena mereka telah menjadi murid yang baik.
Tak lupa,  saya yang kebagian mendampingi anak-anak dalam mata pelajaran agama,  sering "menceramahi" mereka bahwa belajar itu adalah jihad bagi mereka agar keluar dari kebodohan. Tentunya hal ini saya sampaikan ketika usia mereka mulai faham. Ya, sekitar kelas empat gitu deh...

Diusia itu mulai kami fahamkan mengapa mereka harus belajar dan apa balasan bagi mereka jika tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar,  pun sebaliknya. Jadi soal tekanan untuk jadi juara kelas nggak benget lah. Alhamdiulillah,  hasilnya selama ini fine kok.  Anak-anak enjoy dengan cara kami.

Saking santainya,   kadang anak-anak masih saja asyik menikmati tontonan kesukaan mereka menjelang ujian. Eh,  sayanya yang malah uring-uringan. Bayangkan,  besok mau ujian nasional,  halahhh... malah si anak cekikikan nonton acara apaa gitu dari siaran tivi. Kalau sudah begitu,  keluar deh tuh kalimat panjang kali lebar dari mulut emaknya,  hihihi.

Beda jauh sih soalnya dengan aku ketika sekolah dulu yang ketika menjelang ujian, pasti deh akan mengurung diri dalam kamar ditemani buku-buku pelajaran. Keluar kamar hanya jika kampung tengah mulai keruyukan, hahaha.
Syukurnya,  meski tak setegang emaknya dulu menghadapi ujian sekolah,  anak-anak selalu berhasil memperoleh nilai yang memuaskan.

Alhamdulillah,  tentunya semua ini tak lepas dari campur tangan Allah Yang Maha Pemurah, yang memberi kemudahan kepada mereka untuk menerima ilmu yang diberikan oleh guru-guru mereka. Mudah-mudahan kekompakan saya dengan suami ini  berkah dan menjadikan mereka senantiasa ingat,  bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah milik Allah dan diberikan kepada siapa yang dikehendakinya.

Jika ingin berilmu,  tentunya mereka harus belajar bersungguh-sungguh sebagai salah satu bentuk ketaatan mereka sebagai hamba yang mempunyai kewajiban untuk mempelajari segala sesuatu agar dengan ilmu yang Allah berikan itu mereka bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik.

#Ide_mendadak

Posting Komentar