Kain Sutra Sengkang, Aku Ingin Menulis Tentangmu.

Selasa, 23 Desember 2014

Suka heran,  dapat semangat dari mana sampai bisa begitu menggebu ketika berbicara mengenai persutraan di Sengkang.

Seperti hari ini,  ketika berbicara dengan seorang wartawan,  yang saking menggebu-gebunya bercerita sampai tak ingat menanyakan namanya. Kalau tak salah,  wartawan tadi dari majalah Geologi,  lupa lagi...hehe.

Ya,  sebagai seorang pelaku bisnis yang bergerak di bidang persutraan,  tentu saja  perhatian atas nasib dan kelanjutan keberadaan sutera sengkang sangat menjadi perhatianku. Miris dan sedikit khawatir akan nasib nya yang hampir punah tanpa dapat berbuat banyak.

Sangat banyak kisah yang dapat kuangkat dari masalah persuteraan Sengkang,  tapi seperti kataku kepada si wartawan tadi,  aku butuh seseorang untuk mementori aku. Aku bisa menulis seperti isi blogku ini,  tetapi untuk yang berbau ilmiah,  aku membutuhkan seseorang untuk kuajak bekerja sama.

Sepertinya,  menulis buku tentang sutera sengkang ini sudah menjadi obsesiku. Tak perlu tebal,  meski seukuran buku saku asal bisa menyampaikan kepada khalayak dan orang-orang terkait tentang permasalahan persuteraan yang terjadi di Sengkang. Tentu saja,  alasan terkuat untuk menulisnya adalah agar adanya perhatian fihak terkait untuk kembali membangkitkan sutera sengkang yang sekarang terpuruk.

Ada perasaan menyayangkan jika akhirnya sutera Sengkang ini akhirnya benar-benar hilang dan diganti dengan bahan lain. Mengingat bahwa sebagian besar atau bahkan hampir semua pelancong domestik ataupun wisman yang  berkunjung ke Sengkang adalah untuk menikmati Danau Tempe dan Pertenunan Sutranya.

Tapi sungguh ironis,  karena kenyataan yang ada dilapangan bahwa kedua obyek tersebut hampir seperti tak terurus, khususnya pertenunan sutranya. Karena banyak diantara pelancong yang berkunjung mulai  kesulitan mendapatkan proses pertenunan sutra seperti beberapa tahun sebelumnya.

Sangat disayangkan,  mengingat betapa masyarakat luas sudah mengenal keberadaan Kain Tenun Sengkang dan mulai memburu produknya. Tetapi pada saat ini pula,  kualitas dan kuantitas sutra sengkang sangat susah dipertahankan.

Membanggakan sekali,  bahwa era tekhnologi canggih sekarang sangat memudahkauntuk memperoleh kain sengkang melalui gerai-gerai olshop yang bertebaran di dunia maya,  tapi sayang bahwa produk yang mereka tawarkan bukanlah produk sebagaimana yang mereka deskripsikan,  karena sebagian besar yang mereka tawarkan adalah bahan tenun non sutera. Miris! !!

Keadaan ini,  jika tidak cepat ditangani tentu saja akan sangat berpengaruh bagi kelanjutan keberadaan kaitenun sengkang itu sendiri. Tentu saja tidak mudah,  karena penanganan masalah ini tidak dapat dilakukaoleh satu fihak saja. Semua komponen hendaknya bekerja sama saling bahu membahu dan saling menguatkan untuk memperbaiki masalah ini. Dan saya,  sebagai pelaku bisnis kain sutra sengkang,  igin memulai dari hal sederhana seperti ini,  menuliskannya dengan harapan bahwa tulisan saya ini bisa menimbulkan keinginan para pelaku bisnis kain sutra untuk turut ambil bagian di dalamnya.

3 komentar

  1. Sering-sering ki' menulis tentang sutra Sengkang, Kak. Ta' sedikit mo saja. Bagusnya di sisi kanan blog ta' ini ada no kontak ta' sama deskripsi sedikit ttg kita' dan usaha ta' :)

    Mudah2an blog ta' bisa menjadi blog yagn paling banyak ditemukan orang kalo mencari kata "sutera Sengkang".

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip, insya Allah, semoga dimudahkanka karena belum adapi lepy penggantiku. Mohon supporta dan terimakasih atas saranta :-)

      Hapus
    2. Hai.. Ida, assalamu alaykum. Saya sudah baca selintas tulisannya. Menurutku, cukup menarik. Soal menulis buku tentang persutraan di Sengkang, saran saya, buatkan dulu outline tentang cakupan yang ingin ditulis, kemudian kumpulkan referensi. Tentang style (gaya) menulis, pertahankan saja yang sudah ada. Kamu sudah punya modal sebab sebagai pelaku langsung. nanti ketemuan dievent reunian di Akkarena baru kita lanjutkan, saya takut mengguruki cess.. hehehe... Abdul Rasyid Idris.

      Hapus