Dia kucing kampung biasa, seperti umumnya kucing-kucing yang dipelihara di rumah. Yang membuatnya istimewa adalah bahwa si Letoy ini adalah satu-satunya kucing yang berhasil selamat dari 11 ekor seangkatannya.
Ia berhasil bertahan melalui masa kritisnya ketika berusia beberapa bulan sementara teman-temannya yang lain tak berusia panjang.
Kemampuannya bertahan itu yang membuat aku memberi perhatian khusus padanya, seperti ada rasa kedekatan yang terjalin diantara kami. Bisa jadi hal ini terjadi karena sejak kecil ia beberapa kali mengalami sakit yang lumayan parah dan menyebabkan beberapa saudara dan "sepupunya" mati, dan saat itu akulah yang merawatnya. Aku yang mencampurkan obat kedalam minumannya dan meminumkannya menggunakan dot bekas.
Kini ia telah menjadi kucing dewasa dan sudah dua kali melahirkan anak-anaknya. Sekarang dia sedang mengandung, kehamilan ketiga. Dan mungkin, karena seringnya ia mengalami sakit parah sewaktu bayi itulah yang menyebabkan tubuhnya mungil dan letoy. Jika berjalan ia agak lamban dibanding kucing-kucing lain. Bahkan saking letoynya, ia jarang sekali mengeluarkan suara. Ya, aku jarang sekali mendengarnya mengeong.
Tapi meskipun demikian, ia kucing yang sangat berani. Ia berani menyergap apa saja yang dilihatnya, termasuk ular hitam yang sangat agresif seperti yang kulihat pada petang beberapa hari lalu.
Ini memberiku pelajaran bahwa seekor binatangpun, jika kita perlakukan dengan baik, akan merespon balik kebaikan yang telah kita berikan. Mereka tentu tak bisa mengucapkan terimakasih secara langsung, tetapi kadang mereka memperlihatkan perlakuan yang seolah mewakili kata itu. Seperti si Letoy ini yang sering menungguiku di halaman depan seperti hendak menyambut kedatanganku ketika aku kembali dari bepergian.
Posting Komentar