Anak itui sudah mengusik rasaku sebagai seorang ibu sejak pertama ia berkunjung ke rumah bersama kedua orang tuanya.
Ada sedikit rasa ketidak sukaan ...bukan terhadapnya, tetapi pada sikap kedua orang tuanya yang terkesan kurang bijaksana dalam mendidik si anak.
Kukatakan kurang bijaksana, tentu saja dari ukuranku. Ya, agak sedikit menyayangkan melihat sikap ibu bapaknya yang hanya tau berteriak melarang dengan suara ribut menegur "kelincahan" si anak yang menurutku sedikit diluar batas.
Saking lincahnya, si anak dengan leluasa dan tak mempan dilarang berlarian ke tempat-tempat privacyku bahkan sampai ke meja jualan dan membuka laci lalu mengambil beberapa lembar uang dari dalamnya >_<
Tentu saja serba salah bagiku. Mau menegur anaknya, khawatir orang tuanya tidak menerima baik. Membiarkan saja, membuat si anak jadi makin keluasa, bahkan sampai merusak beberapa barang. Saking lincahnya, seingatku anak ini tak pernah tak menumpahkan apapun jika berkunjung ke rumah.
Ufthhh...kadang aku harus menahan perasaan jika mereka, anak dan si ibu berkunjung ke rumah. Bukan masalah apa, hanya merasa tidak nyaman saja melihat pembiaran sikap anak yang menurutku agak hiper aktif ini. Kedua orang tuanya seolah tak mampu mengatasi si anak. Bahkan pernah, ketika si anak membuat "masalah ", si ibu hanya menegur seadanya saja sambil menyodorkan lembaran rupiah agar anaknya segera membeli jajan di tetangga. Tak lain tentunya untuk mengalihkan perhatian si anak dari "kenakalan"nya. Namun bukannya si anak menurut, melainkan anak kecil berusia lima tahunan itu tiba-tiba mengambil sebatang kayu yang tergeletak di halaman lalu berlari ke arah mamanya dan memukulkan ke wajah si mama. Astagfirullah, untung saja mata si mama tak terkena, merki sudut matanya memerah bekas pukulan kayu si anak.
Aku pasti berdusta jika berkata tak geram, tetapi tentu saja aku harus menahan diri....
Sejak kejadian tersebut dan juga beberapa kejadian sesudahnya, aku jadi lebih faham bahwa siakap seorang anak terhadap lingkungannya sesungguhnya terbentuk dari kebiasaan si anak di rumah. Jika seorang ibu terbiasa menegur seorang anak dengan suara ribut tanpa memberikan pengertian, adanya si anak malah semakin sulit diatur, bahkan seperti merasa puas jika si ibu terlihat kewalahan dan ujung-ujungnya akan mengalah dengan kebandelan si anak lalu membujuk si anak dengan materi sebagai pengalih perhatian. Heeemmm
Entahlah, mungkin aku tidak terlalu benar dalam menilai karena sekali lagi kukatakan, aku menilai sesuai ukuranku. Menurut naluriku sebagai seorang ibu yang punya empat orang anak, anak ini sebenarnya cerdas seperti yang kutangkap dari pandangan matanya. Hanya saja mungkin karena kesibukan kedua orang tuanya dan usia muda mereka yang masih minim pengalaman dalam mendidik anaklah yang menyebabkan si anak mendapat kurang perhatian dari kedua orang tuanya.
Berkaca dari pengalaman anak ini, aku makin merasakan betapa mulianya jika sejak kecil kita sebagai orang tua memberikan pendidikan adab kepada anak-anak kita, karena sesungguhnya kelakuan anak kita di luar rumah adalah cermin didikan kita di dalam rumah.
Dan tidaklah heran jika sekiranya para ulama kita terdahulu lebih mementingkan untuk mendahulukan pendidikan adab daripada ilmu kepada anak-anak mereka sebagaimana beberapa dalil berikut ini.
Imam Abu Abdillah Sufyan Ats-Tsauri Rahimullah, beliau menceritakan, "Mereka para Sahabat dan Tabi'in tidak mengeluarkan anak-anak mereka untuk pergi menuntut ilmu sehingga anak-anak mereka diajari adab-adab terlebih dahulu dan memperbanyak ibadah selama 20 tahun lamanya".
Imam Malik bin Anas berkata: "Ibuku memakaikan aku imamah (surban) di kepalaku kemudian beliau berkata; 'Pergilah kepada Rabi'ah. Pelajari adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya."
Subhanallah, sungguh patut menjadi bahan renungan yang mendalam bagi siapa saja yang mau mengambil pelajaran dari hadist diatas. Pantaslah, jika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berkata dalam sebuah haditsnya :
Posting Komentar