Kain Lagosi, Motif Lawas Yang Kembali Menggeliat

Minggu, 19 Mei 2013



Dinamakan  demikian karena daerah asal pembuatannya bernama Lagosi. Sebuah desa yang terletak di salah satu sudut kota Sengkang, Sulawesi Selatan, tepatnya di kecamatan Pammana. Sebenarnya motif ini juga dibuat di beberapa daerah/kecamatan lain, tetapi untuk kualitas tenunan dan motif bunga, tenunan dari daerah Lagosi memang diakui sangat baik dan indah hingga dicari banyak orang. Itulah sebabnya, dimanapun motif tersebut dibuat, ia tetap disebut tenun Lagosi.

Motif tenun ini sebenarnya  pernah menguasai  pasaran sarung sutra sekitar dua puluh tahun  silam. Tetapi  karena semakin banyaknya bermunculan  motif baru yang lebih bervariasi dengan  teknik pembuatan yang lebih mudah, akhirnya motif Lagosi ini tersisih sedikit demi sedikit hingga akhirnya  keberadaannya sudah sangat jarang ditemui.

Teknk pembuatan motif  Lagosi mirip dengan teknik songket yang berasal dari daerah-daerah lain di Indonesia. Hanya saja perbedaannya terletak dari bahan yang digunakan, dan tentu saja motif kain itu sendiri yang selalu berupa motif bunga besar yang di daerah Bugis disebut  "Corak Bunga Loppo". Jika kebanyakan kain songket memakai benang emas atau perak untuk membuat motifnya, maka kain Lagosi ini justru memakai benang yang sama dengan bahan dasarnya  tetapi dengan warna yang berbeda, sesuai motif bunga yang dikehendaki.
Dahulu, kain lagosi atau Lipa Lagosi (demikian kami  di Sengkang-Sulawesi Selatan juga menyebutnya) terbuat dari bahan dasar sutera, sehingga membuat harganya lumayan tinggi. Tak  tak heran jika kain/Lipa Lagosi ini menjadi salah satu tolok ukur status sosial bagi pemakainya. Ini dapat dimaklumi karena selain bahan dasarnya  yang  memang mahal, juga karena kerumitan pembuatan motifnya sehingga otomatis upah pengerjaannyapun lumayan mahal. 
Motif bunga dibuat dengan cara menyelipkan  satu persatu benang  sesuai warna yang  diinginkan pada kain dasar dengan memakai rumus atau hitungan tersendiri. Hitungan harus dilakukan secara teliti agar tak salah menyelipkan benang motif keatas bahan dasar  agar motif yang akan dibuat sesuai dengan hasil yang diinginkan.

Tidak seperti kebanyakan penenun motif lainnya yang kadang bercanda disela sela kegiatan menenun mereka. Penenun kain Lagosi  ini akan serius menenun sambil menghitung helai demi helai benang yang dirangkai untuk membuat motif, sebab jika salah dalam menghitung, maka motif/bunga yang akan dibuat akan cacat.


Setelah sempat “Mati Suri” dalam waktu lama, Lipa  Lagosi ini kembali  menggeliat, bahkan sekarang menjadi kain primadona yang sangat dicari dan diminati bukan saja di daerah Sengkang-Sulawesi Selatan saja, tetapi juga  di beberapa kota besar di Indonesia. 
Hal ini tentu saja tak lepas dari peran para perancang busana yang dengan keahliannya menyulap kain yang dahulu pemakaiannya hanya sebatas sarung/kain bawahan,  menjadi  aneka busana yang sangat trendy, sehingga mendongkrak kedudukan Kain Lagosi  ini menjadi salah satu bahan yang sangat dicari oleh para penggemar Fashion, khususnya mereka yang berasal dari kalangan menengah keatas. Masih  seperti dahulu, ia  tetap menjadi  lambang status sosial dari para pemakainya meski bahan dasar yang dipakai  bukan lagi sutera seperti dahulu :)

Hanya saja, bagi penggemar fashion kelihatannya  harus lebih bersabar dalam  memperolehnya, karena  sejak boomingnya kain ini maka keberadaannya pun kembali mulai sulit diperoleh serta harga yang memperlihatkan kecendrungan untuk terus meningkat. Ini tak lain karena semakin banyaknya permintaan pasar, sementara SDM yang tersedia terbatas. Ya, karena kerumitannya, maka tak semua penenun dapat mengerjakan kain seperti ini. Umumnya mereka yang membuat motif seperti ini adalah penenenun yang sudah sangat berpengalaman, bahkan sebagian besar dari mereka telah berusia lanjut. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri, sebab jika tenun ini tak dilestarikan, bukan hal yang mustahil bahwa pada akhirnya kain ini akan lenyap dari perbendaharaan kain nusantara :(


1 komentar