Wanita Paruh Baya Itu...

Kamis, 22 Mei 2014

Wanita separuh baya itu nyaris meraung. Rasa sesak di dadanya ingin ia keluarkan. Ia merasa begitu tak berdaya dengan keadaan yang harus dia hadapi sekarang. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengeluarkan rasa yang mendesak desak itu.

Ia tak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia hanya bisa menangisi ketidak berdayaan. Suara hujan yang menimpa atap rumahnya yang terbuat dari seng menenggelamkan suara tangisnya. Ia tak perlu khawatir suaranya akan terdengar. Suaminya sedang pergi kepasar membeli keperluan dapur. Anaknya yang bungsu masih terlelap dalam balutan selimutnya. Mertuanya yang mulai pikunpun pasti tak akan mendengar raungannya.

Rasa tak berdaya, sedih dan amarah berbaur dan sekarang perlu ia keluarkan agar dadanya kembali merasa lapang.

Ia marah pada dirinya sendiri atas kelemahannya menolak rasa dendam atas perlakuan yang selama ini ia peroleh dari ibu mertuanya. Dia sadar bahwa perasaan itu tak boleh ia simpan. Dan ia telah berusaha semampunya untuk menghilangkannya tetapi perasaan itu terus saja kembali mengutak-atik perasaannya setiap ibu mertuanya memanggil dan menyuruhnya.

Ibu mertuanya kini mulai pikun, dan takdir telah mebawanya kepada keadaannya sekarang. Ia harus merawat ibu mertuanya yang selama bertahun tahun telah menggoreskan luka yang sangat dalam dihatinya.

Ia bahkan nyaris sudah tak bisa lagi mengingat setiap kata  yang pernah ia terima dari mulut ibu mertuanya itu. Ruang kepalanya begitu penuh dengan hal yang sangat menyakitkan. Kata kata yang sinis menampar, pandangan yang tajam menusuk.

Ia  merasa seolah hidup di ujung jari telunjuk ibu mertuanya. Hampir setiap langkah dan perbuatannya tak lepas dari  pengawasan dan kehendaknya. Bahkan kadang ia merasa seolah nafas yang ia keluarkanpun harus sesuai dengan apa yang ibu  mertuanya kehendaki.

Bertahun-tahun ia tertekan dan tak bisa berbuat apa-apa. Ibu mertuanya begitu dominan dalam keluarga dan suaminyapun begitu lemah untuk mengambil keputusan.

Begitu banyak kepahitan yang harus ia telan, dan kini takdir menghendaki ia harus bisa melupakan semu. Namun ia sangat lemah, tak berdaya untuk menghapus semua kenangan pahitya.

Disisi lain ia sangat sadar bahwa perasaan itu tak boleh ia biarkan terus bersemayam dalam hatinya. Ia sudah pernah merasakan akibat dari memendam perasaan itu sebelumnya.

Tiga tahun lalu ia sempat drop akibat depresi, dan sekarang ia tak ingin merasakannya lagi. Ia harus bisa melepaskan diri dari rasa itu. Dan sekarang ia masih terus berjuang melawan rasa sakit itu.

Ia masih sering merasa begitu sedih setiap mengingat  kata menusuk atau pandangan tajam yang ia terima dulu.

Sebagai manusia biasa, kadang perasaan untuk membalas rasa sakitnya mendesak desak kepermukaan. Ia ingin mengabaikan mertuanya. Tetapi disisi lain ia begitu sadar bahwa hal itu tak boleh ia lakukan. Ia tahu bahwa kedudukannya sebagai menantu wanita mewajibkannya untuk memelihara dan merawat mertuanya, sebagaimana yang ia peroleh dari kajian-kajian agama yang ia ikuti selama ini.

Ia harus ikhlas menjalani apa yang sekarang ia hadapi. Ia harus melupakan semua keburukan yang pernah ia terima. Ia harus bisa melawan perasaannya itu. Ia harus bisa memenangkan perjuangan dalam batinnya. Ia harus bisa memenangkan peperangan antara kewajibannya sebagai hamba Allah yang menuntutnya untuk berbakti kepada orang tua dengan perasaan sedih dan sakitnya yang harus ia lawan.

Ya, mungkin inilah perjuangan yang harus ia kalahkan untuk memperoleh keridhaan Allah. Ia harus kuat dan harus menang! Dan ia sadar betul bahwa tak ada sesuatu atau seseorangpun yang bisa membantunya selain Dia Sang Maha Rahman.

Air matanya masih terus mengalir dan sekarang harus segera ia hapus. Ibu mertuanya harus segera ia bersihkan dari pupnya. Ia mengusap air matanya kemudian meneguk sedikit air untuk mengilangkan rasa yang menggumpal di kerongkongannya lalu bersegera  menuju kamar mandi tempat ibu mertuanya menunggu sedang menyelesaikan hajatnya. Ia melangkahkan kakinya masih dengan sesegukan yang tertahan....

Posting Komentar