Dinamakan demikian
karena daerah asal pembuatannya bernama Lagosi. Sebuah desa yang terletak di
salah satu sudut kota Sengkang, Sulawesi Selatan, tepatnya di kecamatan Pammana. Sebenarnya motif ini juga dibuat di beberapa daerah/kecamatan lain, tetapi untuk kualitas tenunan dan motif bunga, tenunan dari daerah Lagosi memang
diakui sangat baik dan indah hingga dicari banyak orang. Itulah sebabnya, dimanapun motif tersebut dibuat, ia tetap disebut tenun Lagosi.
Motif tenun ini sebenarnya pernah menguasai pasaran sarung sutra sekitar dua puluh tahun silam. Tetapi karena semakin banyaknya bermunculan motif baru yang lebih bervariasi dengan teknik pembuatan yang lebih mudah, akhirnya
motif Lagosi ini tersisih sedikit demi sedikit hingga akhirnya keberadaannya sudah sangat jarang ditemui.
Teknk
pembuatan motif Lagosi mirip dengan teknik songket yang berasal dari
daerah-daerah lain di Indonesia. Hanya saja perbedaannya terletak dari bahan
yang digunakan, dan tentu saja motif kain itu sendiri yang selalu berupa motif bunga besar yang di daerah Bugis disebut "Corak Bunga Loppo". Jika kebanyakan kain songket memakai benang emas atau perak untuk membuat motifnya, maka kain Lagosi ini justru memakai benang yang sama dengan bahan dasarnya tetapi dengan warna yang berbeda, sesuai motif bunga yang dikehendaki.
Dahulu, kain lagosi atau Lipa Lagosi (demikian kami di Sengkang-Sulawesi Selatan juga menyebutnya) terbuat
dari bahan dasar sutera, sehingga membuat harganya lumayan tinggi. Tak tak heran jika kain/Lipa Lagosi ini menjadi salah satu tolok ukur status sosial bagi pemakainya. Ini dapat
dimaklumi karena selain bahan dasarnya
yang memang mahal, juga karena
kerumitan pembuatan motifnya sehingga otomatis upah pengerjaannyapun lumayan
mahal.
Motif bunga dibuat dengan cara menyelipkan satu persatu benang sesuai warna yang diinginkan pada kain dasar dengan memakai rumus atau hitungan tersendiri. Hitungan harus dilakukan secara teliti agar tak salah menyelipkan benang motif keatas bahan dasar agar motif yang akan dibuat
sesuai dengan hasil yang diinginkan.
Tidak seperti kebanyakan penenun motif lainnya yang kadang bercanda disela sela kegiatan menenun mereka. Penenun kain Lagosi ini
akan serius menenun sambil menghitung helai demi helai benang yang dirangkai untuk membuat motif,
sebab jika salah dalam menghitung, maka motif/bunga yang akan dibuat akan
cacat.
Setelah sempat “Mati Suri” dalam waktu lama, Lipa Lagosi ini kembali
menggeliat, bahkan sekarang menjadi kain primadona yang sangat dicari dan
diminati bukan saja di daerah Sengkang-Sulawesi Selatan saja, tetapi juga di beberapa kota
besar di Indonesia.
Hal ini tentu saja tak lepas dari peran para perancang busana
yang dengan keahliannya menyulap kain yang dahulu pemakaiannya hanya sebatas
sarung/kain bawahan, menjadi aneka busana yang sangat trendy, sehingga
mendongkrak kedudukan Kain Lagosi ini menjadi salah satu bahan
yang sangat dicari oleh para penggemar Fashion, khususnya mereka yang berasal dari kalangan menengah
keatas. Masih seperti dahulu, ia tetap menjadi
lambang status sosial dari para pemakainya meski bahan dasar yang
dipakai bukan lagi sutera seperti
dahulu :)
Hanya saja, bagi penggemar fashion kelihatannya harus lebih bersabar dalam memperolehnya, karena sejak boomingnya kain ini maka keberadaannya
pun kembali mulai sulit diperoleh serta harga yang memperlihatkan
kecendrungan untuk terus meningkat. Ini tak lain karena semakin banyaknya permintaan pasar, sementara SDM yang tersedia terbatas. Ya, karena kerumitannya, maka tak semua penenun dapat mengerjakan kain seperti ini. Umumnya mereka yang membuat motif seperti ini adalah penenenun yang sudah sangat berpengalaman, bahkan sebagian besar dari mereka telah berusia lanjut. Hal ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri, sebab jika tenun ini tak dilestarikan, bukan hal yang mustahil bahwa pada akhirnya kain ini akan lenyap dari perbendaharaan kain nusantara :(






Hrg berapaan ?
BalasHapus