Dimana Allah?
Seorang ibu muda mengeluh kepada p tentang masalah yang sedang dihadapinya. Qadarullah, rumah tangga yang awalnya diharap akan bahagia, ternyata diterpa badai di tengah jalan sehingga menyebabkan bahtera yang dibina selama lebih sepuluh tahun terombang-ambing.
Si ibumuda yang memiliki 3 putradanputriberadadalam dilemma yang tak mudah untuk dihadapi.Di satu pihak, dia sudah tak mampu menjalankan biduk rumahtangga yang sudah rapuh. Sejak kelahiran anak pertama, bibit-bibit ketidak beresan dalam mahligai yang mereka hadapi sudah mulai terasa. Namun karena banyaknya pertimbangan yang tak bisa ia putuskan sendiri membuatnya memilih untuk tetap bertahan hingga anak kedua dan ketiga lahir. Pahitnya hidup berumah tangga tetap ia jalani hingga batas kesabaran sebagai manusia akhirnya terkalahkan oleh beratnya beban masalah yang terus mendera.
Dari hasi lpembicaraan secara mendalam, akhirnya terungkap alasan mengapa si ibu muda tersebut bisa bertahan sekian lama dalam situasi tersebut. Rupanya rasa takut akan ketidak pastian hidup sebagai single parent yang membuatnya rela menjalani hidup menderita selama bertahun-tahun. Perasaan yang manusiawi, jika kita memakai kacamata awam.
Siapa sih yang bisa menjalani hidup sendiri dengan beban tiga orang anak yang sedang beranjak remaja? Bayangan tentang sulitnya biaya hidup di tengah zaman seperti sekarang tentulah sangat menakutkan bagi seorang ibu muda yang tak punya keahlian khusus. Bagaimana memenuhi kebutuhan sehari-hari ditambah biaya kesehatan dan sekolah ketiga anak-anaknya tentu menjadi momok yang menyeramkan untuk dihadapi sendiri.
Kenyamanan menerima nafkah dari suami, telah menghilangkan segala upaya untuk berusaha sendiri. Ditambah kesibukan mengurus rumah tangga tentulah membuat si ibu hampir tak memiliki pengetahuan sedikitpun tentang bagaimana cara bertahan bertahan hidup. Selama ini dia hanya tahu menerima dari suami. Dan ketikatiba-tiba sumber kehidupan tersebut tiba-tiba tak lagi didapatkan, maka tentulah ketakutan untuk melanjutkan kehidupan semakin menghantui.
Bagai layangan putus, sebagaimana yang heboh diperbincangkan di jagat maya baru-baru ini, merupakan perumpamaan yang cukup kuat bagaimana menggambarkan perasaan frustasi dan ketidak berdayaan seorang ibu. Berjuang sendiri tanpa beban, mungkin masih mudah ia hadapi. Namun menantang kerasnya kehidupan dengan beban tiga orang anak di punggung, tentu bukan perkara yang mudah. Wajar jika kecemasan, kekhawatiran, bahkan ketakutan untuk memulai bangkit dan melangkah menjadi momok yang sangat menakutkan
“Dan sungguh, akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan,’Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”( QS. Al-Baqarah; 155-157)
Lalu Dimana Allah?
Lihatlah, betapa lemahnya manusia ketika berharap dan bersandar hanya kepada sesama makhluk. Dengan mudah, setan akan makin mempermainkan perasannya dengan menambahkan perasaan takut, merasa sempit dan akhirnya merasa seluruh jalan terasa tertutup. Kehidupan terasa begitu sempit dan perasaan tak berdaya akan makin membuatnya semakin erat bergantung kepada sesama makhluk.
Lalu kemakah Allah? Apakah ia lupa bahwa sesungguhnya Allah-lah yang berkuasa mengatur segala apa yang terjadi di jagat semesta ini, dan tak satupun luput dari pengetahuannya.
“Allahlah yang menciptakan tujuh langit dan begitupun bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Ath-Thalaq: 12)
Bukankah tak ada satupun yang terjadi pada makhluk ciptaan-Nya berlaku atas sepengatahuan-Nya?
“Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daunpun Yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebuti biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya ‘Jadilah’ maka terjadilah ia” (QS. Yasin; 82)
Lalu mengapa manusia melupakannya?
Bukan Layangan Putus
Sebagai seorang muslim, semestinya permasalahan seperti ibu muda tadi takkan terjadi jika saja keimanan kita akan kekuasaan Rabb Semesta Alam kuat terpatri di dalam jiwa. Dialah Rabb Yang Mahamengatur, dan tentu tak akan membiarkan hambanya terombang ambing dalam kesulitan seandainya saja mereka mau berpegang pada buhul Allah yang kuat, bukan bergantung kepada kekuatan makhluk yang lemah dalam segalanya.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman:22)
Seorang mukmin yang bergantung pada buhul Allah yang kokoh, tentu tidak akan berputus asa atas cobaan yang mendera. Ia harus menanamkan pada jiwanya bahwa ia bukanlah bagaikan sebuah layangan putus, dan meyakini bahwa segala apa yang menimpa dirinya adalah atas kehendak Rabb Sang Maha berkehendak yang telah tercatat di Lauh Mahfuz.
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al-Hadid; [57]: 22).
Menengok Ke Belakang
Kebanyakan manusia ketika diterpa bencana dan menghadapi cobaan, mencari salah pada luar diri mereka sendiri. Mereka mengeluh, seakan-akan menolak takdir yang menimpa, bahkan tak jarang menyalahkan takdir atas musibahnya. Mereka merasa tak pantas menerima cobaan tersebut dan bertanya, mengapa bencana dan cobaan menimpanya. Pun tak sedikit dari mereka yang lantas menyalahkan Allah atas ujiannya.
Mereka lupa untuk mencari sebab pada diri mereka sendiri. Bahkan sebagian besar dari mereka lalai dari peringatan Allah bahwa sesungguhnya bala dan bencana tidaklah Allah ciptakan kecuali atas dosa-dosa mereka sendiri. Seharusnya mereka mau muhasabah, menengok ke belakang pada jejak masa lalu mereka, dan menanamkan dalam hati bahwa bisa jadi bencana dan cobaan yang menimpa disebabkan atas dosa-dosa yang pernah dilakukan.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” QS. Asy Syuraa: 30)
Ibnu Qayyim al-Jaujiyah dalam kitab Ad-Daa’ wa Ad-Dawaa’ menulis bahwa berbagai kepedihan yang ditimpakan kepada hati merupakan hukuman qadariyah yang disebabkan oleh perbuatan dosa. Ini merupakan hukuman yang lebih berat disbanding hukuman jasad, karena ia akan semakin berat dan bertambah hingga akhirnya akan mempengaruhi jasad. Maka tak heran, sering kita menjumpai orang-orang yang mengeluh mengaku sakit, tetapi ketika dibawa berobat ternyata dokter tank menemukan penyakit serius pada jasmaninya.
Beliau juga mengatakan, “Diantara akibat dari berbuat dosa adalah menghilangkan nikmat, dan akibat dosa adalah mendatangkan bencana (musibah). Oleh karena itu, hilangnya satu nikmat dari seorang hamba adalah karena dosa. Begitu pula datangnya berbagai musibah juga disebabkan oleh dosa.” (Al Jawabul Kaafi- Musibah Datang Karena Maksiat dan Dosa/ Rumaysho.Com/ Muhammad Abduh Tuasikal)
Aku Sesuai Persangkaan Hambaku
Ketika seorang ditimpa musibah lalu dengan ikhlas ia menerima takdir dan menjalaninya, tentu akan merasakan manisnya iman. Hendaknya ia harus yakin bahwa takdir apapun yang Allah tetapkan atasnya datangnya dari Rabb Penguasa Alam Semesta.
“Kebajikan apapun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri...” (QS. An Nisa: 79)
Berbaik sangka atas seluruh takdir Allah adalah obat yang sangat mujarab dari segala persoalan yang ada. Menjalani ketentuan yang digariskan dengan lapang dada merupakan bentuk persangkaan baik seseorang kepada Allah, bahwa sesungguhnya ia diberi ujian untuk meninggikan derajat sekaligus membersihkan dari dosa-dosanya.
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu alayhi wasallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari pada itu (kumpulan malaikat). (HR. Bukhari dan Muslim)
Bersabar dalam menghadapi masalah, disamping memperoleh pahala dan keutamaannya juga akan membawa keridhaan atas segala takdir Allah. Meyakini bahwa segala musibah dan cobaan yang menimpa tak lain adalah karunia dari Allah yang Dia berikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Maka hendaknya seseorang yang mendapat ujian tersebut harus tetap sabar dalam menyikapi hal tersebut agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang Allah.
“Dari Shuaib, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “ Tidak diputuskan terhadap seorang mukmin suatu ketetapan melainkan itu baiok baginya. Jika mendapat kebahagiaan ia bersyukur dan itu baik baginya, dan jika ditimpa mudharat ia bersabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath-Thabrani.
Selalu Ada Jalan Keluar
“... Barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya mengatakan bahwa meski ayat di atas dalam tekstual membahas tentang talak dan cerai, namun konteks tersebut berlaku secara umum. Maksudnya siapapun yang bertaqwa kepada Allah dan meniti ridha-Nya dalam berbagai kondisi, maka Allah akan memberinya balasan pahala di dunia dan akhirat. Diantaranya adalah diberikannya jalan keluar dari berbagai kondisi sulit dan susah. Sebaliknya, siapa yang tidak bertakwa kepada Allah, maka akan terjatuh dalam rantai belenggu yang tudak akan mampu keluar dan terlepas dari ikatannya.
"Dan memberinya rezeki dari dari arah yang tidak di sangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq:3)
Selanjutnya, syekh mengatakan bahwa Allah Azza wa Jalla memberi rejeki kepada orang yang bertakwa dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah dalam urusan agama dan dunianya dan bergantung sepenuhnya kepada Allah dengan maksud untuk mendapatkan apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudharat, serta percaya sepenuhnya bahwa Allah akan memberi kemudahan dan mencukupkan keperluannya. Maksudnya, Allah akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah.
“...Dan barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya akan Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya." (QS. Ath-Thalaq: 4)
Mengenai ayat ini, Syaikh berkata, 'Maksudnya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, maka urusannya akan dimudahkan dan segala yang sulit akan dimudahkan.'
Demikianlah Allah memberi petunjuk, bahwa sesungguhnya hanya dengan bertawakkal, segala permasalahan yang pelik akan dapat dihadapi dengan tenang. Menjalankan perintah-Nya semampu yang kita bisa dan berusaha sekuat daya untuk menjauhi larangan-Nya, akan membawa kita kedudukan yang mulia di sisi Allah, sekaligus mendapatkan janji-Nya.
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Anfal:29)
*******
Wallahu a'lam.
Kota Sutera, 18 Rabiul Awal 1441H/ 15 November 2019
Hemm pertanyaan kayak gini sering juga terlintas di pikiran, saat sulit seakan Allah itu ga ada, ga bantu kita. Padahal di saat kita senang pun kita lupa dengan Allah :)
BalasHapus