Corona Merebak, Siapa Yang Terdampak?

Senin, 04 Mei 2020

Hari ke sekian ramadhan. Selain pandemi, berita yang wara-wiri di medsos adalah kenaikan tagihan listrik dan bantuan buat masyarakat yang terdampak langsung.

Fokus ke masalah bantuan, khususnya pada kata "masyarakat yang terdampak langsung", ini kategorinya bagaimana?
Jika melihat keadaan di lapangan, maka boleh dibilang semua lapisan masyarakat terdampak langsung. Semoga saya tidak salah, dan mohon maaf jika ada yang merasa tidak terdampak 🙏

Menarik membaca sebuah artikel yang membahas tentang pembatasan golongan yang terkena dampak pandemi. Benar, selama ini kita hanya fokus kepada masyarakat kecil dan kalangan bawah hingga nyaris lalai menyasar masyarakat lapisan di atasnya.

Misalnya para pengusaha rumahan, khususnya yang tidak berkaitan dengan makanan, yang harus pasrah menerima kenyataan bahwa segala bentuk kegiatan nyaris terhenti. Sayangnya, terhentinya proses produksi tidak berarti terhentinya proses pengeluaran biaya.

Saya mau bercerita pada lingkup yang lebih khusus, yakni produksi pertenunan .

Sejak awal-awal himbauan pemberlakuan social distancing, dampak pandemi mulai terasa. Pesanan yang dicancel mulai bertumpuk, padahal biaya produksi harus segera dibayar meski pemasukan dana makin tersendat karena kurangnya pembeli. orang lebih mementingkan membeli sembako dibanding barang lainnya.

Di sisi lain, penenun kian produktif menghasilkan kain karena tak ada lagi acara-acara (pengantin, aqiqah dsb) yang sering menjadi alasan telatnya mereka menyelesaikan pekerjaan. Mau tidak mau, produksi makin sering masuk yang artinya pembiayaan-pun makin lancar keluar. Besar pasak dari pada tiang!

Ada yang pernah bertanya, mengapa tak dihentikan saja proses tenunnya?

Pertanyaan ini kujawab dengan bertanya balik.

Berhenti sampai kapan? Apakah ada jaminan pandemi ini berakhir pada jangka waktu dua pekan, sebulan, atau berapa lama? Sementara peralatan tenun yang sudah terpasang seperti lungsi terancam rusak oleh serangga atau hal-hal lain jika tersimpan lama. Ini jika dilihat dari sisi peodusen.

Bagi penenun. Jika proses pertenunan tiba-tiba saja dihentikan, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pokok mereka? Adakah jaminan mereka dapat bantuan sebagaimana yang ramai dikabarkan lewat medsos?

Kenyataannya, ini ramadhan hari kesekian, tapi mereka belum juga mendapat apa-apa. Mereka hanya mengandalkan hasil tenun mereka. Ini berlaku bagi penenun yang punya koordinator atau penenun yang dibawahi langsung oleh pengusaha tenun. Bagaimana nasib penenun lepas, yang bekerja untuk diri mereka sendiri? Lebih parah lagi, karena di saat seperti sekarang ini, hampir tak ada lagi suplier yang mau menyetok barang. Silahkan membayangkan keadaan mereka 😔

Kembali kepada pihak yang terdampak langsung. Jika demikan kenyataannya, bukankah masyarakat yang terdampak pandemi ini sebenarnya terjadi pada hampir semua lapisan maayarakat?

Masyarakat bawah mengeluh karena susahnya memperoleh sembako disebabkan tak adanya kesediaan dana. Masyarakat menengah ke atas, juga tak lepas dari persoalan yang tak kalah serius, bagaimana mencukupkan dana yang ada untuk menutupi biaya-biaya yang harus dikeluarkan selama masa pandemi, sementara pemasukan nyaris terhenti. Semua saling berkaitan.

Beberapa teman yang bergerak di bidang  pariwisata, toko-toko pakaian, dan masih banyak lagi, juga menyampaikan masalah yang sama. Hampir semua kena dampak pandemi ini. Nyaris tak ada yang luput.

Lalu bagaimana?
Tak ada cara lain untuk keluar dari semua kesulitan ini selain berusaha sekuat daya. Semua harus bekerja sama, saling bersinergi dan menyamakan langkah untuk mencapai tujuan yang sama.

Kesadaran masyarakat sangat diperlukan agar tujuan tersebut bisa tercapai. Masyarakat sebagai ujung tombak harus lebih aktif berupaya untuk menghentikan penyebaran pandemi ini denga cara  mematuhi himbauan-himbauan dari pemerintah.

Sayangnya hal ini masih belum terlihat maksimal. Masih sangat banyak pelanggaran terjadi di mana-mana. Jalan-jalan masih ramai, mesjid-mesjid masih ada yang melaksanakan sholat-shalat wajib dan tarwih meski dengan cara main petak umpet.

Mengapa hal ini terjadi?

Bisa saja karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang apa yang sebenarnya mereka hadapi. Atau boleh jadi hal tersebut dikarenakan mereka memang sudah sulit mendengar himbauan atau nasehat. Dan jika hal ini terus dibiarkan berlanjut, maka bersiap-siaplah kita menghadapi kesulitan demi kesulitan dalam jangka waktu yang kita tak tahu kapan ujungnya.

Haruskah pasrah saja menghadapi masalah ini?

Tentu saja tidak!
Sebagai makhluk termulia yang diciptakan Allah dan dianugerahi dengan akal dan pikiran, tentu kita wajib berusaha keras menggunakan akal pikiran tersebut  untuk bisa keluar dari masalah ini.

Jika masalahnya disebabkan ketidak pahaman masyarakat, maka seharusnya mereka diberi edukasi dengan berbagai cara sampai mereka paham. Tidak mudah memang, mengingat karakter dan tingkat kecerdasan di masyarakat yang berbeda-beda, serta banyak faktor  yang memengaruhinya. Tak semua lapisan masyarakat dapat dengan mudah menangkap apa yang disampaikan. Butuh kesabaran untuk menyampaikan berulang-ulang hingga mereka mengerti.

Jika masalahnya adalah karena kebebalan mereka, maka sudah semestinya pihak yang berwenang harus bertindak tegas untuk segera mengatasi sebelum keadaan menjadi lebih parah.

Diatas semua usaha itu, sebagai seorang mukmin, kita punya senjata yang sangat ampuh untuk keluar dari segala masalah, yakni doa. "Berdoalah, maka akan Aku kabulkan." Itu janji Rabb kita.

Setelah segala ikhtiar sudah kita lakukan secara maksimal, maka iringilah dengan permintaan doa dengan berharap agar doa kita didengar, diiringi rasa takut bahwa doa kita tak akan dikabulkan (disebabkan kelalaian dan dosa-dosa kita).

Pergunakanlah waktu-waktu mustajab untuk berdoa, diantaranya di sepertiga malam terakhir, ketika berbuka dan sahur. Kita tak tahu doa dari lisan mana yang akan Allah ijabah. Maka mari bersama mengetuk pintu langit semoga pandemi ini segera berakhir.

Bertawakkallah setelah berikhtiar, sebagaimana bertawakkalnya seekor  burung yang menghararap rejekinya dari pepohonan, dengan berikhtiar terbang untuk mencapai sumber-sumber makanan tersebut.

Wallahu a'lam.


Posting Komentar