Lembar almanak tahun 2019 baru saja tertutup. Kini lembaran baru tahun 2020 baru saja terbuka. Banyak catatan pencapaian yang terukir, juga banyak rencana yang belum tercapai. Then, what next?
Kucoba menelusuri jejak yang tertinggal di tahun sebelumnya. Kudapati begitu banyak kelalaian yang menyebabkan tak tercapainya rencana yang telah kutetapkan di tahun sebelumnya, 2018. Ah, perlu mencubit diri sendiri. Banyak alasan-alasan yang seharusnya tak perlu menjadi penyebab terhalangnya sebuah rencana, nyatanya masih terjadi.
Salah satunya adalah rencana untuk tetap menulis, mengisi blog sebagai salah satu wadah berbagi dan menyebarkan syiar , masih belum bisa tercapai. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tulisan yang kumaksud masih bisa dihitung jari. Mengapa? Kadang aku mencari jawab pada diri sendiri.
Momen pertemuan dengan teman penulis di penghujung tahun ini sedikitnya membangkitkan kembali keinginanku yang selama ini terlelap. Ya, seharusnya aku tetap menulis, sebagai bentuk rasa syukur atas karunia yang Allah berikan kepadaku dalam mengolah kata. Aku sadar, tak mungkin Allah memberiku kemampuan itu tanpa tujuan. Ada pertanggung jawaban di kemudian hari atasnya.
Pertanggung jawaban. Apakah itu yang membuatku "takut" untuk menulis? Bisa jadi!
Ya, rasanya itu salah satu alasan mengapa aku tak produktif menulis. Aku begitu takut bahwa apa yang kutulis kelak akan menjadi beban yang memberatkan. Lalu dalam penerungan yang panjang, jawabannya tiba-tiba terpatri sendiri dalam diriku. Ah, betapa naifnya aku.
Bukankah dengan tulisan aku dapat memperoleh ganjaran pahala? Ya, melalui tulisan aku dapat berbagi banyak manfaat yang mungkin saja para pembacaku beroleh manfaat. Mengapa aku masih ragu? Sama seperti hal lainnya, tergantung bagaimana kita mempergunakan apa yang Allah berikan kepada kita.
Jadi di sinilah aku. Di awal tahun dengan semangat baru. Mematrikan niat untuk menjadikan tulisan sebagai salah satu sarana untuk berbagi manfaat, yang dengannya kuharap limpahan pahala kebaikan untuk kupetik kelak. Di sana, di tempat di mana harta dan jabatan takkan bermanfaat. Bismillah, bi idznillah.

Yuk semangat, Kak Ida.
BalasHapusSaya pun, semakin banyak tulisan semakin sadar bahwa selain ganjaran pahala - in syaa Allah bisa jadi amal jariya, ada risiko dosa dalam tulisan-tulisan saya.
Saya berusaha berhati-hati saja menulis, terutama dalam memilih kata. Tapi tentunya kekhawatiran akan dosa tidak boleh menghalangi langkah baik kan, Kak? Apalagi kita bisa melakukannya.
Yup, betul sekali. Ketakutan akan dosa sama sekali tak boleh menghalangi kita berbagi kebaikan.
HapusMenulis adalah salah satu karunia yang Allah berikan tidak kepada semua orang, dan sudah sepatutnya anugerah tersebut dipergunakan untuk meraih pahala. Berbagi kebaikan melalui tulisan, insyaa Allah juga bebuah pahala.
So, keep writing. Semoga menjadi ladang pahala. Aaminn. :)