Dulu saya suka sedih karena sering lupa. Kadang juga kesal, bahkan tak jarang marah pada diri sendiri.
Bayangkan, ketika sedang membutuhkan sesuatu benda tapi lupa nyimpan di mana, perasaan pasti uring-uringan. Belum lagi kalau lupa sudah janjian sama teman. Kasihan teman sudah nunggu lama, ehhh sayanya masih santai berleha-leha di rumah. Duh, rasanya menyesal sekali, sampai tidak tau mau bilang apa.
Karena merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut, akhirnya saya mencba mencari tahu tentang sifat pelupa tersebut. Selain faktor usia, ternyata ada juga penyebab lain yang membuat seseorang bisa menjadi pelupa. Misalnya pernah cedera kepala, sakit menahun dsb. Untuk jelasnya, silahkan sahabat mencari sendiri di literatur-literatur lain ya.
Yang mau saya ceritakan di sini adalah bagaimana akhirnya saya bisa bersyukur dengan keadaan tersebut.
Lho, mensyukuri sifat lupa? Yang benar saja!
Iya. Saya tak salah tulis. Setelah sekian tahun merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, akhirnya saya bisa bersyukur dan bisa menerima dengan ikhlas apa yang Allah takdirkan.
Iya. Saya tak salah tulis. Setelah sekian tahun merasa tidak nyaman dengan keadaan tersebut, akhirnya saya bisa bersyukur dan bisa menerima dengan ikhlas apa yang Allah takdirkan.
Tak gampang memang, perlu berlatih dan berusaha keras untuk bisa menerimanya sebagai suatu anugerah. Yang penting kita bisa bersabar dan berlapang dada serta mencoba mencari manfaat dari setiap takdir yang digariskan. Berbaik sangka saja pada-Nya bahwa apa yang menimpa kita pasti ada hikmahnya.
Lanjut ya, saya mau cerita tidak enaknya dulu.
Sebagai seorang emak, kita kan dituntut untuk bisa mengerjakan beberapa hal dalam satu waktu. Multi talenta, begitu katanya. Sambil masak, menyapu juga. Terus nyambi mutar cucian plus bersih-bersih rumah.
Nah di sini kadang saya sedih dan sedikit merasa bersalah, ketika masakan yang sudah diracik sedemikian rupa dengan bumbu penuh cinta, tiba-tiba gosong karena saya sedang memasak dan nyambi mengerjakan sesuatu yang lain. Hikz, akhirnya hanya bisa memandangi masakan yang harusnya bisa dinikmati dengan keluarga tercinta, dan hanya bisa menikmati aroma wanginya saja. Heu heu heu, mau nangis bombay rasanya. Sudah makanan terbuang, panci juga jadi gosong :(
Soal panci gosong ini, sudah jadi cerita berseri. Terakhir kemarin. Presto yang masih kinclong dan baru beberapa kali dipakai jadi korban. Bunyi nyaring yang diharapkan bisa menjadi alarm, ternyata tak pernah terdengar karena lupa mengeratkan tutupnya. Baru tersadar ketika semerbak jagung bakar menebar ke mana-mana. Hadew, apa boleh buat, jagung buat campuran sayur asem jadinya berubah jadi jagung bakar :D
![]() |
Yang tak kalah seru adalah ketika hadir pada satu kegiatan, lalu tiba-tiba ditodong buat memberi kata sambutan. Langsung melongo. Lupa kalau diri ini ternyata ketua panitia :D
Sekarang lanjut ke cerita senangnya.
Sebagai seorang emak, kadang saya suka menyimpan uang di tempat-tempat tertentu. Maksudnya buat jaga-jaga untuk keperluan mendadak. Namun sayangnya saya sering lupa menyimpannya di mana. Lalu ketika waktu telah berlalu dan duit itu temukan lagi, perasaan jadi senaaang sekali. Apalagi jika dapatnya pas dompet lagi menipis. Padahal, duit itu pernah saya cari ke mana-mana sampai ngubek-ngubek seisi rumah, hihihi.
Kejadian terakhir, dapat segepok duit di kantong tas, padahal niatnya mau nyari pulpen. Sempat heran juga, kok ada duit. Padahal tasnya sudah lama nganggur. Ealaaah, baru ingat beberapa hari kemudian kalau ternyata duit tersebut adalah pembayaran utang dari salah seorang pelanggan waktu saya keluar kota beberapa bulan lalu. Hehe
Nah, dari kejadian-kejadian yang berulang itulah akhirnya membuat saya sadar, bahwa sesungguhnya sifat lupa yang awalnya membuat saya merasa sedih, kesal dan sebagainya, akhirnya terasa ada manfaatnya juga. Alhamdulillah, sudah sepatutnya saya merasa bersyukur dan memuji Dia Yang Maha Mengetahui atas sifat lupa yang saya alami. Jika dulu saya sempat benci dan kesal dengan diri sendiri karena sipat pelupa tersebut, sekarang sudah tidak lagi. Benarlah apa kata Allah dalam Al-Qur'an;
"... Tapi boleh jadi kamu tidak menyenangai sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui". (QS. Al-Baqarah : 216).
Ternyata begitu banyak hikmah yang Allah beri dari lupa ini. Salah satunya adalah bisanya saya melupakan kenangan-kenangan pahit dan kurang berkenan yang terjadi di masa lampau. Hal ini tentu saja membuat dada saya makin lapang dan mudah memaafkan.
Bayangkan saja, seandainya Allah tak menganugerahkan lupa, maka betapa banyak manusia yang akan tenggelam ke dalam berbagai masalah kejiwaan. Kesedihan yang mendalam, dendam yang tak berakhir dan amarah yang selalu memuncak, bisa saja menimpa seseorang setiap saat disebabkan ingatan akan kezaliman atau pelakuan kurang adil orang lain terhadap diri kita. Hal ini tentu saja bisa memicu timbulnya berbagai perasaan yang kurang baik, dan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Jika dulu saya pernah meminta kepada Allah agar mengangkat sifat lupa tersebut, sekarang sudah tidak lagi. Saya sudah dapat menerima bahwa hal itu adalah salah satu anugerah yang patut saya syukuri. Saya hanya perlu berusaha keras agar dapat ikhlas menjalani segala akibat yang ditimbulkannya dan berharap pahala dari keadaan tersebut .
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573).
Sebagai gantinya, saya minta kepada Rabb Yang Maha Menjaga, agar memberi kebaikan dan menjaga saya serta orang-orang yang bermulazamah dengan saya dari segala keburukan yang disebabkan oleh keadaan tersebut. Aamiin


Posting Komentar