Ketika Ibu Jaman Old Belajar

Selasa, 06 Maret 2018

Bayangkan jika anda sekarang berusia diatas 50 tahun, dan selama ini melaksanakan sholat hanya bermodalkan surah alfatihah yang belum benar. Lalu atas izin Allah anda mendapat hidayah dan dimudahkan untuk belajar agama. Kemudian dari pelajaran tersebut anda baru sadar betapa banyaknya kekhilafan yang anda lakukan, dan tak terbilang waktu yang anda lalaikan selama ini. 
Bagaimana perasaan anda jika baru sekarang mengetahui bahwa pengetahuan agama anda begitu minim sehingga menyebabkan anda banyak melakukan kesalahan dan kemaksiatan? Menangis haru, tertunduk dengan membaca istighfar berkali-kali. Menggelengkan kepala sambil sesekali tersenyum pahit membayangkan kejahiliyahan masa lalu. 

Mereka bukanlah ibu zaman Now yang dapat mencari ilmu dengan mudah. Mereka tak paham internet. Mereka tak paham media sosial. Dering handphone mereka-pun bukanlah alunan lagu terbaru. Mereka adalah para ibu yang masih enggan melepas daster mereka, bahkan untuk bermajelis ilmu sekalipun. 

Meski demikian, semangat para ibu zaman Old itu sangat patut diacungi jempol. Mengeja A-BA-TA dengan terbata dan sesekali menunduk malu ketika lisan salah mengucap. Tak jarang kata maaf terlontar dari mulut mereka manakala menyadari betapa sering mereka harus dibimbing melafazkan huruf agar bisa menyebut dengan benar. 

Ibu zaman Old ini yang kadang hadir dengan aroma khas dapur mereka, sungguh menggugah nuraniku. Lalu sebait bisik perlahan membuka mata batinku. Aku pernah di posisi mereka.  Bersyukur bahwa Allah yang Maha Pemurah masih memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Meraih secercah cahaya melalui mereka yang Dia hadirkan untuk berbagi ilmu denganku. 

Kebenaran itu datang bukan dari pemilik nama terkenal yang terdapat pada halaman sampul kitab-kitab tebal yang jadi rujukan. Mereka mungkin belum hafal 30 juz alquran, atau belum pernah mengkhatamkan buku-buku tebal semacam Riyadus Shalihin, Fatul Majid dan semisal. Namun, setidaknya melalui lisan-lisan mereka Allah menitipkan ilmunya untuk sampai kepadaku. 

Mereka adalah wasilah sampainya ilmu kepadaku, sebatas apa yang mereka ketahui, sesuai paham yang Allah titipkan kepada mereka. Jika saja lisan-lisan mereka tak pernah menyampaikan sedikit ilmu yang mereka miliki, mungkin saja saat ini aku masih berada dalam kegelapan yang menyesatkan. 

Sepuluh tahun lalu bukanlah masa yang mudah bagi setiap orang untuk memperoleh ilmu seperti sekarang. Internet masih merupakan sarana yang asing bagi kebanyakan orang, terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok sepertiku. 

Demikian halnya buku. Tak mudah memperoleh buku rujukan, apalagi dengan pemahaman yang masih minim, ditambah semangat yang lemah untuk menelisik judul-judul bacaan yang "kurang populer" dan tidak sesuai selera (menurutku saat itu). 

Melalui lisan-lisan merekalah kesadaran untuk lebih memahami ad-dien ini membara. Melalui lisan-lisan mereka pula kesadaran untuk memperbaiki ucapan dalam melafazkan kalam-Nya dengan benar makin terpatri. Juga melalui lisan-lisan mereka, tertanam semangat untuk menjaga keutamaan diri sebagai wanita muslimah yang Allah beri keistimewaan dan Allah jaga kehormatannya melalui hijab. 

Alhamdulillah. Tak henti puji terucap dalam lisan dan diamku, manakala menyadari betapa besar rahmat Allah yang tercurah. Ah, andai saja aku harus menunggu para masyaikh itu datang untuk mengajarku, atau menunggu mereka yang harus khatam qur'an dan kitab-kitab tebal untuk menunjuki jalanku, mungkin saat ini aku masih berada dalam kubang kebodohan dan maksiat. 

Andai saja ilmu itu hanya bisa kuraih melalui pondok para santri, maka tentu keadaanku akan tetap seperti para ibu yang kini berada di hadapanku. 

Alhamdulillah. Segala puji hanya bagi Rabb, Pemelihara alam semesta atas segalanya. Semoga Allah memasukkan aku, mereka yang telah mengorbankan waktu, pikir dan tenaganya untuk berbagi denganku, juga kepada ibu-ibu jaman old ini kedalam golongan orang-orang yang tersebut pada hadist ini: 
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).

2 komentar

  1. Sedih bacanya, untung saja aku termasuk ibu zaman now yang dengan mudah mencari ilmu.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah, kita masih diberi usia yang insya Allah akan sangat bermanfaat. Mari isi dengan kebaikan dan menebarkannya melalui tulisan. Betewe tulisan'ta sangat menginspirasi, ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya.

    BalasHapus