Sepenggal Kenangan

Senin, 06 November 2017

Dulu kami menyebutnya Rambutan Kampung. Ada juga yang menyebutnya Lappo-Lappo. Apapun namanya, tanaman ini pernah menggores kisah di masa kanak-kanakku.
Kala kaki kecilku mengikuti langkah bapak meniti jalan setapak sambil menahan kendi air yang bergoyang di atas kepalaku. Sesekali wajah dan tubuhku kuyup oleh air yang tertumpah oleh dari mulutnya.

Jarak yang lumayan jauh harus kami tempuh demi memenuhi kebutuhan kami akan air bersih untuk masak dan minum. Untuk sekedar mandi, kami cukup ke belakang rumah (asrama), tempat para warga kampung membersihkan diri. Di sana, di pinggir persawahan, terdapat sebuah sumur yang tingginya nyaris sejajar dengan pematang sawah. Di sekelilingnya terdapat banyak bebatuan yang agak besar berserakan tak teratur. Bebatuan menjadi tempat kami berpijak agar terhindar dari air yang dihuni oleh lintah-lintah yang berasal dari persawahan.

Di situ kami membasuh diri sepagi mungkin agar dapat menikmati air yang masih berlimpah. Agak telat sedikit, maka kami harus bersabar menanti sampai air memenuhi kembali ceruk yang terdapat di tengah sumur agar bisa menimbanya. Timba yang tak memerlukan tali panjang. Cukup menggunakan gayung yang terbuat dari buah pohon maja kering. Sumur yang tak dalam, tapi sangat berarti bagi kami. Bercanda sambil menunggu ceruk penuh atau membuat mainan yang terbuat dari tanah liat. Tak jarang diantara kami memekik ketika seekor lintah berhasil menempel di kaki kecil kami.

Untuk memenuhi kebutuhan air minum, kami harus berjalan beberapa kilometer menuju tepi sungai berbatu. Bukan air sungai yang itu yang menjadi tujuan kami, melainkan sebuah sumur yang terbuat dari tembok berbentuk persegi empat panjang. Sumur ini nyaris tak pernah kering. Airnya terus memancar dari beberapa mata air yang berasal dari akar sebuah pohon yang sangat besar. Sumur itu bernama Bukkanneng.

Jika kemarau panjang melanda dan air bukkanneng mengering, maka kami akan berlomba menyusuri sungai berbatu yang berada tak jau darinya. Menyusuri tepiannya dan mencari sumur-sumur kecil yang berada di bawah akar-akar pohon yang banyak tumbuh ditepiannya. Setelah kendi terisi penuh, bapak akan segera membantuku menggulung kain sarung berbentuk konde, lalu menaikkan kendi kecil ke atas kepalaku.

Sepanjang perjalanan yang kulalui menuju rumah, terdapat banyak tanaman ini tumbuh liar. Bapak sering memetik untukku buah yang berwarna kuning. Rasanya yang masam sedikit manis cukup membuat rasa letihku terbayar.
Kini, tanaman liar ini banyak tumbuh di halaman. Sengaja kubiarkan tumbuh agar bisa menikmati rasanya, sekaligus menikmati sepenggal kenangan masa kanak-kanakku.

Posting Komentar