Menulis, Haruskah Memiliki Bakat?

Senin, 30 Oktober 2017

Seringkali kita mendengar alasan seseorang yang mengatakan bahwa ia tak bisa menulis karena tak memiliki bakat. Hal ini menyebabkan mereka enggan, bahkan tak mau mencoba dengan alasan tak bisa.


Menjadi penulis sebenarnya tak perlu mengandalkan bakat, meski tak dipungkiri bahwa bakat berpengaruh di dalamnya. Namun hal itu bukanlah faktor utama untuk menunjang keberhasilan seseorang dalam menulis. Ini menurut saya lho ya. Hehe

Cukup harus tekun berlatih dan menggali potensi yang ada, dan yang paling penting adalah adanya kepercayaan diri untuk berani menuangkan ide-ide yang ada dalam pikiran untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Mengapa harus memperlihatkan tulisan kepada orang lain?  Tujuannya agar kita bisa tau bagaimana penilaian orang terhadap tulisan kita. Apakah maksud yang  kita sampaikan melalui tulisan  dapat dipahami oleh orang lain, atau apakh tulisan kita memberi manfaat kepada yang membacanya.

Menyajikan tulisan kepada orang lain juga bertujuan untuk mengetahui di mana letak kekuatan dan kekurangan tulisan kita. Hal ini perlu kita ketahui untuk menjadi bahan perbaikan dikemudian hari. Tentu saja hal tersebut memerlukan kepercayaan diri yang besar, karena tidak semua orang siap dan berani untuk menerima kritikan.

Nah, apakah itu berarti kita harus jenius dulu untuk menjadi seorang penulis?Mmm...

Memang, setidaknya seorang penulis itu harus memiliki keahlian untuk bisa merangkai kata agar bisa menuangkan ide-ide yang ia tangkap kedalam bentuk tulisan yang baik, sehingga orang lain dapat membacanya dan menikmatinya.

Penulis, jika diibaratkan  seorang ibu rumah tangga, tentunya senang dong ketika menyajikan suatu masakan kepada anggota keluarga lantas mereka lahap menikmatinya. Tentu bahagia rasanya karena jerih payah kita bisa membuat anggota keluarga puas menikmatinya.
Nah demikian juga dengan tulisan.

Banyak orang yang bisa menulis dan menerbitkan sebuah tulisan, tapi ya itu tadi .... Mungkin saja tulisan yang disajikan akan dibaca, tapi tak meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. Sama seperti hidangan tadi, mereka menyantapnya, tapi tak menikmatinya. Bisa jadi mereka hanya terpaksa menghabiskannya hanya karena butuh.

Nah disinilah keahlian seorang penulis dituntut. Mereka harus pandai-pandai mengolah kata sehingga tulisan yang mereka hidangkan dapat membekas di hati pembacanya. Tentu saja hal ini hanya bisa dicapai jika seorang penulis mempunyai banyak cadangan ide dan cara untuk meramu tulisannya itu sedemikian rupa.

Untuk mendapatkan itu semua, maka sudah pasti seorang penulis dituntut untuk banyak mengetahui banyak hal. Dan tak ada cara lain untuk memperolehnya selain dengan membaca! 

Dengan membaca, kita akan memiliki banyak pengetahuan dibanding mereka yang tak suka membaca. Kegiatan membaca akan membuka wawasan kita lebih luas terhadap banyak hal, sekaligus memperkaya perbendaharaan bahasa. Hal ini tentu saja  sangat  membantu kita dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan. 

Jadi apakah seorang penulis itu haruslah orang yang jenius? Bagaimana menurut anda? 

9 komentar

  1. Setuju banget sih. :D Asal latihan, pasti juga makin bagus hasil dalam merangkai kata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, betul. Makin banyak latihan, tentu makin mahir, ya.

      Makasih yaa, sudah mampir😊

      Hapus
    2. Yup, betul. Makin banyak latihan, tentu makin mahir, ya.

      Makasih yaa, sudah mampir😊

      Hapus
  2. Bakat memang bisa masuk, tapi kadang berbakat pun kalau tidak diasah juga jadi percuma. Yang penting memang rajin berlatih. Apalagi, semua orang pasti bisa menulis. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setuju. Bakat dipadu dengan sering latihan pasti akan hebat hasilnya 😊

      Hapus
    2. Iya, setuju. Bakat dipadu dengan sering latihan pasti akan hebat hasilnya 😊

      Hapus
  3. setuju dengan 2 master di atas, menulis butuh latihan tiap hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, dengan makin seringnya, akhirnya jadi mahir 😊

      Hapus
    2. Yup, dengan makin seringnya, akhirnya jadi mahir 😊

      Hapus