Betapa ia takkan pernah memuaskan hati si pemiliknya. Akan terus mengumbarnya, menyebar kebencian dan umpat. Mengeluarkan serapah, tak hirau akan norma dan syariat. Puaskan hati atas nama kecewa.
Lalu, merasa legakah setelah meledakkan amarah, menumpahkan geram dan mengumbar kata tak pantas?
Duhai, betapa lemahnya hati.
Hanya karena kecewa atas ingin tak tergapai, angan tak teraih, lalu membiarkan lisan menari, menebas semua penghalang. Bermaksud melukai rasa sesama. Merasa bahagiakah?
Hanya karena kecewa atas ingin tak tergapai, angan tak teraih, lalu membiarkan lisan menari, menebas semua penghalang. Bermaksud melukai rasa sesama. Merasa bahagiakah?
Ah, betapa halusnya bisikan durjana. Menelusup penuhi rongga dada. Menutup celah kasih sayang, mengunci rapat pintu maaf. Lalu mata hatipun berbalut benci.
Kemana hendak berlari, ketika langkah tak lagi terarah. Kemana hendak menggapai, ketika batin lelah meronta. Dan hati yang menyimpan kecewa, akankah terobati dengan makin menajamkan lisan?
Kelak, ketika bilangan usia makin bertambah, lamat, khilaf itu akan menampak wujud. Perlahan raga mulai letih, merapuh oleh amarah yang tak jua reda.
Batin menjerit, sesal menyiksa. Membayang seluruh kisah yang telah terlanjur. Terngiang jejak lisan yang terhujam. Lalu hati merintih, meratap atas semua langkah yang salah menjejak.
Melangkah mundur tak akan lagi berguna. Lakon yang terlaku takkan lagi bisa dirubah. Lisan yang menghujam akan tetap meninggalkan luka. Tinggalah sesal menemani hari.
Maka sungguh bahagia hati yang lapang, memberi maaf atas khilaf, menyimpan kasih untuk sesama. Menanti cinta dari Sang Maha Pemberikasih.
Rasulullah SAW bersabda:
“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
“Jika hari kiamat tiba , terdengarlah suara panggilan, “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga.” (HR Adh-Dhahak dari ibnu Abbas Ra)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah bersabda yang artinya :
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah. Apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat).” (HR Al-Hakim)
“Barangsiapa yang didatangi saudaranya yang hendak meminta maaf, hendaklah memaafkannya, apakah ia berada dipihak yang benar ataukah yang salah. Apabila tidak melakukan hal tersebut (memaafkan) , niscaya tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat).” (HR Al-Hakim)
Sungguh indah janji Rabb Sang Mahamenjaga hati. Dan siapakah yang sanggup melakoninya tanpa rahmat dan hidayah dari-Nya?
Ah, rasa takut itu tetiba menyeruak.
Takut akan mengerasnya kalbu hingga tak hirau lagi atas segala nasehat. Takut akan dicabutnya rahmat sehingga tak lagi melihat aib diri, sibuk melempar salah kepada sesama. Takut akan hisab atas setiap langkah dan ucap yang teranjur. Takut akan sesal yang hadir ketika semua telah terlambat.
Maka akankah masih menyimpan bara dendam dalam dada? Tak inginkah bersegera menggapai kasih-Nya yang terjulur?
Hentilah sejenak, tundukkan pandang. Tafakkurlah, tanyakan pada sanubari, tidakkah bara akan turut membinasakan jua?
Bercerminlah pada diri, mungkin saja kecewa itu adalah teguran dari-Nya atas harap yang melangit. Atau ia adalah pembersih atas khilaf dan salah, ataukah ikhlas atas setiap coba kian menipis?Jawablah dan dengarlah sanubari.
Redalah, duhai amarah. Lalu raihlah rahmat Rabb-mu.
"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi).
Wallahu a'lam
Semoga kita bisa menahan amarah dan tak mudah mengumbarnya.
BalasHapusBtw, tulisan Mbak Ida semakin bagus.
Aamiin. Terima kasih, Mbak Devy.
HapusSaya banyak belajar dari Mbak Devy, entah melalui grup ataupun dari status-status mbak. Juga dari percakapan kita.
Jazaakillah atas segala masukan, support dan ilmu yang Mbak share secara langsung ataupun tak langsung.
Bahagia punya sahabat yang care, meski jarak membentang pisahkan raga 😍