Bekal Perjalanan

Rabu, 07 Juni 2017

Teman, tahukah bahwa sesungguhnya kehidupan dan apapun yang Allah anugrahkan kepada kita saat ini sejatinya adalah pinjaman. Dan segala yang dipinjamkan mau tidak mau suka atau tak suka kelak akan dikembalikan kepada yang memberi pinjaman.


Apapun bentuk pinjaman yang Allah berikan kepada kita saat ini adalah bekal kita untuk menempuh perjalanan yang panjang dan jauh. Tubuh dan segenap indra yang Allah bentuk sesuai ingin-Nya adalah alat yang kita pakai untuk melakukakn perjalanan panjang tersebut.

Sejak dalam rahim ibu, sesungguhnya perjalanan hidup sudah kita mulai. Lalu Allah keluarkan kita dengan membawa perjanjian yang telah ditetapkan bagi kita. Bukankah Aku Rabbmu? Pertanyaan yang kita jawab, Benar, syahidnaa... saya bersaksi...

Persaksian itulah yang kita bawa keluar dari rahim ibu kita... Kita bersaksi bahwa Allah Rabb kita, yang menciptakan kita sebagai hamba yang berkewajiban untuk tunduk dan patuh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kita lahir dengan janji bahwa hanya Dia lah satu-satunya sembahan yang hak.

Dalam sebuah perjalanan panjang, tentunya kita membutuhkan bekal untuk dipergunakan hingga tiba di tempat tujuan.
Apa bekal yang telah kita siapkan teman?
Untuk melakukan perjalanan jauh, tentu kita hanya akan membawa bekal yang bermanfaat agar dapat digunakan selama dalam perjalanan hingga sampai pada tujuan.

Akhir perjalanan kehidupan tidak berhenti di alam kubur, sahabat. Karena sesungguhnya kematian itu adalah awal dipertanggung jawabkannya segala perbekalan yang kita kumpulkan selama perjalanan hidup kita di dunia.

Akhir perjalanan yang sebenarnya adalah ketika kita menghadap kepada-Nya kelak. Pada saat itu, semua bekal perjalanan yang kita kumpulkan di dunia akan dipertanggung jawabkan secara lengkap dan rinci.

Disana, langkah kaki takkan bergeser sebelum menjawab pertanyaan. Umur, bagaimana kita mengisinya. Harta dari mana dan bagaimana cara kita mendapatkannya serta untuk apa kita pergunakan. Usia akan dipertanyakan, pula setiap perkataan, canda kita, langkah kaki bahkan isi hati kita akan dimintakan pertanggung jawabannya. Semua ...

Dari Ibnu Mas’ud radliyallahu anhu dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersada:
“Kedua kaki anak Adam tidak akan beranjak pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima perkara. Tentang umur pada apa ia habiskan, kepemudaannya pada apa ia hancurkan, hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah ia kerjakan pada apa yang telah ia ketahui (ilmunya). [HR at-Turmudziy: 2416, Abu Ya’la, ath-Thabraniy, Ibnu ‘Adiy dan Ibnu Asakir. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan ].

Sahabat, jika kita akan melakukan perjalanan ke suatu tempat yang asing dan jauh, yang belum kita tau pasti  bagaimana situasi dan keadaannya, tentunya kita akan mempersiapkan diri dengan bekal terbaik kita. Dan sudah pasti kita akan berusaha untuk mencari tahu gambaran tentang tujuan kita.

Allah tak melepaskan kita begitu saja hidup di dunia tanpa memberi petunjuk dan aturan-aturan yang harus dipatuhi dan larangan yang tak boleh dilanggar. Dia telah mengingatkan kita dalam kitab suci yang diturunkan kepada kita, untuk menjadi pedoman dan petunjuk dalam menjalankan hidup di dunia. Adakah kita pernah meluangkan waktu untuk membaca pedoman hidup itu?

Baca sahabat, setidaknya bacalah artinya, terutama pada surah-surah terakhir (juz 30).

Dia Yang Maha Penyayang dan Pengasih telah memberikan kepada kita gambaran tentang tempat tujuan akhir kita. Dia Yang Maha Pemurah juga telah mengingatkan bagaimana keadaan di saat itu melalui ayat-ayat-Nya.

Lalu bagaimanakah keadaan kita sekarang? Sudahkah mempersiapkan bekal terbaik untuk perjalanan jauh nanti? Atau begitu lalainyakah diri kita akan hari dimana semua akan dipertanggung jawabkan tanpa ada orang lain bisa membantu?

Tak ada pasangan hidup, tak ada ibu, tak ada ayah, tak ada sanak-kerabat ataupun sahabat sejati yang akan membantu. Semua akan sibuk mempertanggung jawabkan bekal yang mereka bawa dari dunia.

"Maka apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya." (QS. 'Abasa: 34 - 37)

Maka apakah sudah kita perhatikan atau persiapkan bekal terbaik kita? Atau akankah kita menyesal ketika menghadap-Nya kelak, karena ternyata perbekalan yang kita bawa adalah sesuatu yang sama sekali tak berguna.

Jangan sampai bekal yang kita bawa menghadap-Nya kelak hanyalah amalan yang justru akan memberatkan beban dan mempersulit keadaan kita kelak.

Semoga Allah memberi kemudahan untuk mempelajari ad-dien ini, yang dengannya akan menjadi bekal bagi kita untuk mengetahui mana amalan yang akan dapat kita jadikan bekal yang menguntungkan, dan mana amalan yang akan menjadi bekal yang membebani kita di kemudian hari.

3 komentar

  1. Resonansi jiwa ini, seketika membasahi pencarian diri.
    "Jika engkau lupa di mana diri berasal, setidaknya engkau kenal ke mana tempat akhir tujuan mu kembali,"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak Indra, telah mampir dan meninggalkan jejak.

      Semoga Dia senantiasa membimbing kita untuk bisa tetap meniti di jalan-Nya. Aamiin 💝

      Hapus
    2. Terima kasih mbak Indra, telah mampir dan meninggalkan jejak.

      Semoga Dia senantiasa membimbing kita untuk bisa tetap meniti di jalan-Nya. Aamiin 💝

      Hapus