Ceritanya nih, adik saya yang lama enggak bertemu, datang ke Makassar dalam rangka tugas dinas. Nah, yang namanya tugas dinas kan enggak bisa tuh ngatur waktu seenaknya. Ada tenggat waktu yang harus dipenuhi.
Jadi karena adik saya enggak bisa berkunjung ke daerah tempat saya ( Sengkang), maka disepakatilah saya yang akan ke Makassar.
Lalu sayapun ke Makassar bersama Husnul, anak bungsuku bersama adik laki-laki yang jadi mahramku dan seorang anak perempuanya.
Asyiknya, si adek yang dari Jakarta ini nginap di hotel yang lumayan "wah" dan sudah pesan kamar dobel, jadi saya tak rempong lagi mencari-cari tempat buat kami berempat. Psst yang ini jangan ditiru ya
Jam 22 malam, kami tiba di hotel setelah sebelumnya sempat berputus asa karena telepon kami tak diangkat-angkat. Saking putus asanya, saya bahkan sempat memutuskan untuk mencari penginapan lain. Untungnya, setelah menelpon kesepuluh kalinya, si adek yang tertidur akhirnya menjawab panggilan teleponku. Alhamdulillah.
![]() |
| Pemandangan malam hari dari tempat kami nginap |
Rasa senang terlihat dari seringnya ia mengeluarkan komentar-komentar yang kadang membuat kami tertawa. Hihihi ... cerita warga desa masuk kota. Nginap di hotel mewah lagi
Kesempatan datangnya adik ini kami pergunakan untuk bertemu dengan adik-adik lain yang kebetulan berdomisili di Makassar, sekaligus bersilaturahmi dengan sanak keluarga yang lain. Nah, kalau reunian begini kan tidak seru tuh kalau tidak pake acara makan-makan. (Menurut saya sih)
Tiba-tiba kepikiran gimana ya, kalau pindah hotel saja. Biar selisih biaya penginapan hotel yang lumayan mahal (menurutku) bisa dipake buat kumpul-kumpul sambil makan-makan dengan saudara. Mulia kan? Ehemmm.
Sesudah berembuk dengan si adik, diputuskanlah untuk mencari hotel yang lebih murah.
Lalu, sesuai rekomendasi si adik yang satunya lagi (yang ngantar ke Makassar), kami putuskanlah untuk pindah ke hotel yang tepatnya berhadapan dengan hotel mewah tersebut. Lumayan, selisih 500 ribu.
Lalu pergilah si adik yang laki-laki tadi memesan kamar buat kami. Menurut dia yang pernah nginap, tempatnya lumayanlah. Ya, sudah ... kami percaya saja dengan apa yang dikatakannya.
![]() |
| Itu tuuhh ... mantan hotel kita |
Tapi ala maak, ketika kami masuk ke tempat tersebut si Husnul langsung protes karena kasurnya yang keras, ruangan yang sempit dan kamar mandi yang jorok dan segala macam kekurangan dibanding hotel yang baru saja kami tinggalkan. Kami hanya tersenyum mendengar celotehnya. Ya iyalah, membandingkan antara hotel bintang empat dengan penginapan sekelas losmen tentu tak sebanding
Tapi iya juga sih, masa iya mau tidur berempat di kamar yang seperti ini. Akhirnya kami mencoba nego kepada pihak penginapan untuk mencari kamar lain yang lebih bersih. Alhamdulillah dapat di lantai atas, namun bau rokok memenuhi setiap sudut ruangan. Apa boleh buat. Ini ruangan terakhir yang kosong.
Setelah memasukkan koper, kami segera meninggalkan kamar penginapan tersebut menuju tempat adik-adik yang lain sekaligus berziarah ke makam bapak. Dilanjutkan berkunjung ke tempat etek yang sudah lama tak bertemu.
Sepulang silaturahmi, dalam perjalanan menuju penginapan kembali. Saya dan si adek perempuan membahas suasana penginapan yang menurut kami tak layak. Rupanya perasaan kami sama. Kurang sreg dengan suasana penginapan dan memutuskan untuk mencari penginapan lain.
Setelah mencari, akhirnya kami dapat juga hotel yang lumayan. Hanya beda seratus ribu tetapi fasilitas yang diberikan lumayan. Malah kalau dihitung-hitung, biaya penginapan yang sebelumnya kami pesan jadi terkesan lebih mahal.
Akhirnya jadilah kami pindah ke hotel yang baru. Lebih lapang, lebih bersih dan lebih layak, meski suasananya sedikit agak mistis. Pendapatku ini ternyata juga dirasakan juga oleh si adik.
Mungkin karena kamar kami berada jauh di belakang dan harus melewati koridor yang panjang dan berbelok dengan hiasan gambar orang yang sedang menari, adu kerbau, dan gambar yang memperlihatkan upacara adat Sulawesi Selatan. Gambar ini lumayan besar dan terpajang di sepanjang koridornya. Gambar-gambar inilah yang membuat perasaan sedikit seram, ditambah suasana koridor yang sangat sepi dan lengang. Ihhh.
![]() |
| Sarapannya oke, meski semalam tak bisa tidur nyenyak 😁 |
Banyak cerita tentang perjalananku kali ini. Namun hanya bisa kubagi sebagian.
Intinya, niat awal yang baik untuk menghemat biaya penginapan menjadi cerita yang unik karena kurangnya perhitungan matang dan terburu-buru.
Kami yang tadinya berniat menghemat lima ratus ribu, akhirnya tertawa sendiri mengingat cerita penginapan murah yang ternyata malah membuat kami mendapat hotel yang sedikit menyeramkan. Apalagi, kami harus beberapa kali terbangun di tengah malam lantaran beberapa kali mendengar suara kursi atau lemari yang digeser.
"Siapa tuh yang pindahan tengah malam buta begini?" Kata si adik.
Aku hanya tersenyum sambil berusaha tidur kembali, meski tak berhasil lantaran seringnya mendengar bunyi tersebut. Hiii.



Posting Komentar