Assalamu 'alaikum teman-teman, apa kabar? Semoga hari ini makin sehat dan bahagia. Aamiin.
Sering ikut kajian kan? Terus, di kajian itu teman-teman ngapain?
Duduk aja sambil serius mendengarkan, bisik-bisik tetangga, atau...... mainin hape?? Yuk ah, jangan sungkan atau malu-malu mengaku. Jangan khawatir, tidak akan dibocorkan dehh, soalnya yang menulis ini juga seperti itu, duluuu... 😊
Duduk aja sambil serius mendengarkan, bisik-bisik tetangga, atau...... mainin hape?? Yuk ah, jangan sungkan atau malu-malu mengaku. Jangan khawatir, tidak akan dibocorkan dehh, soalnya yang menulis ini juga seperti itu, duluuu... 😊
Alhamdulillah sekarang tidak lagi.... hehee.
Yang sudah merasakan manfaat mengikuti kajian pasti akan ketagihan kan?! Tentunya, karena dari majelis-majelis itu kita mendapatkan banyak sekali pengetahuan tentang ilmu keagamaan yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita sebagai hamba.
Masalahnya, meski kita sudah mengikuti kajian dengan serius, ilmu itu tidak sepenuhnya bisa kita ingat. Bener nggak! Tidak jarang, ketika mengikuti kajian, kita sampai manggut-manggut saking fahamnya. Eehhh... pas majelisnya bubar, ilminya buyar juga deh, yang tertinggal hanya kisah-kisah lucunya saja. Benar apa enggak salah....? Ayo ngaku !!!
Teruuss, gimana dong biar isi kajian yang sering kita ikuti itu bisa tertinggal di ingatan?
Nah.. pernah dengar hadist tentang mengikat ilmu dengan menuliskannya kan?
Bahkan sahabat yang mulia, diantaranya adalah Anas Radhiyallahu 'Anhu pernah lho berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anakku-anakku, ikatlah ilmu ini ( dengan tulisan )", sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimy.
Bahkan sahabat yang mulia, diantaranya adalah Anas Radhiyallahu 'Anhu pernah lho berkata kepada anak-anaknya, "Wahai anakku-anakku, ikatlah ilmu ini ( dengan tulisan )", sebagaimana diriwayatkan oleh Ad-Daarimy.
Sayangnya, masih banyak diantara kita yang tak mau repot mencatat isi kajian yang diikuti dengan berbagai alasan.
Emang iya sih, tidak mudah mencatat semua kata yang keluar dari mulut si pembawa materi, apalgi kalau gaya bicaranya yang super duper cepat bak kereta ekpress kan...?? Hihi.... mending duduk aja dengerin atau mainin pulpen deh.. #share_pengalaman :)
Ehh... tapi tau nggak, ada lho cara gampang menulis isi kajian, dan ini sudah kupraktekkan sendiri.
1. Siapkan buku khusus untuk kajian.
Saya lebih suka memakai buku tulis biasa karena lebih mudah ketika menulis cepat dan lembarannya tak mudah copot. Kalau memakai buku notes yang kecil kadang malah lebih ribet karena harus sering membolak-balik. Jika memungkinkan, hindari mencatat pada kertas lembaran karena akan mudah tercecer. Buku catatan ini saya khususkan untuk mencatat semua materi kajian yang saya ikuti dari berbagai majelis. Makanya saya menyebutaya buku gado-gado ☺
2. Mencatat dengan ringkasan.
Hal ini akan memudahkan kita untuk menulis dengan cepat dan bisa mengejar apa yang dikatakan si pemateri.
Hal ini akan memudahkan kita untuk menulis dengan cepat dan bisa mengejar apa yang dikatakan si pemateri.
Misalnya menggunakan simbol-simbol tertentu untuk kata-kata yang umum, misalnya "yang" ditulis dengan huruf ""y", kata "di atas" disimbolkan dengan tanda panah ke atas, begitupun sebaliknya, dst.. Pastikan bahwa ringkasan yang kita buat benar-benar kita fahami untuk memudahkan kita membaca kembali catatan kita ketika hendak memindahkannya ke buku lain.
3. Meringkas dalil-dalil.
Nah, untuk yang ini memang butuh ketelitian karena dikhawatirkan kita salah dalam mencatatnya. Untuk dalil-dalil dalam al-Qur"an, kita cukup mencatat nama surah dan ayatnya. Biasanya saya menulis juga sedikit awal ayatnya dengan tulisan bahasa indonesia, untuk menjaga jangan sampai saya salah mendengar nomor ayatnya.
Nah, untuk yang ini memang butuh ketelitian karena dikhawatirkan kita salah dalam mencatatnya. Untuk dalil-dalil dalam al-Qur"an, kita cukup mencatat nama surah dan ayatnya. Biasanya saya menulis juga sedikit awal ayatnya dengan tulisan bahasa indonesia, untuk menjaga jangan sampai saya salah mendengar nomor ayatnya.
Misalnya, untuk QS. Al-An'am: 14. (Qul liman maa fissamawaati wal ardhi...). Setelah menulis surah dan nomor ayatnya, biasa saya lanjutkan dengan sedikit tulisan ayatnya sesuai apa yang saya dengar, (qullimammaa fissamawati wal ardhi...). Ini gunanya agar kita tak salah menulis dalil, mengingat ada banyak ayat-ayat dalam al-qur'an yang bunyinya sama pada awal ayatnya. Seperti Qs. Al-An'am ini, dimana awal ayat 11, 12, 14 dan 15 itu sama awal ayatnya, yaitu "qul". Nah, jika kita mencatat hanya pada kata "qul" saja, dikhawatirkan kita salah mendengar nomor ayat sehingga dalil yang dimaksud tentu tidak tepat.
Untuk dalil-dalil hadits pun saya pergunakan cara yang sama. Misalnya dalil tentang kecintaan Allah terhadap seorang hamba. Dalil yang panjang ini biasa saya ringkas dan menulis pada bagian awalnya saja seperti ini; "Hadist Abu Hurairah; ' Sesungguhnya Allah jk menctai sorg hmba, mk Ia akan memanggil Jibril...'."
Dalil tersebut cukup ditulis sebagian saja, untuk kemudian dilengkapi ketika akan menyalinnya kembali di buku kajian.
Dalil tersebut cukup ditulis sebagian saja, untuk kemudian dilengkapi ketika akan menyalinnya kembali di buku kajian.
4. Memindahkan catatan sesegera mungkin.
Imam Syafi'i pernah berkata bahwa ilmu laksana hewan buruan, dan tulisan adalah pengikatnya. Ikatlah hewan buruanmu dengan tali pengikat yang kuat. Diantara bentuk kebodohan adalah jika engkau memburu rusa, engkau tinggalkan buruanmu tersebut bebas ( tanpa diikat ).
Ya, catatan materi kajian yang kita tulis di buku sementara tadi, hendaknya segera kita pindahkan sambil melengkapi dalil-dalilnya, karena makin lama kita mengabaikannya, bisa jadi membuat kita makin malas memindahkannya, apalagi jika catatan sudah terlalu banyak menumpuk seiring makin seringnya kita mengikuti kajian-kajian berikutnya.
Mungkin ada yang berfikir seperti ini, " Ngapain juga harus ribet mencatat seperti itu, sekarang sudah gampang kok, tinggal berselancar di halaman mbah google, semua bisa didapat."
Yup, benar! Tapi mari kita lihat firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam QS. An-nur: 24 yang artinya, " Pada hari ( ketika ) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka yang dahulu mereka kerjakan."
Juga dalam Qs. Yunus : 61 yang artinya:
" Wahai Muhammad, bagaimanapun keadaan kamu, apapun ayat Al-Qur'an yang kamu baca dan apapun perbuatan yang kamu dan ummatmu lakukan, pasti Kami menyaksikannya. Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Tuhanmu. Amal sebesar dzarrah di bumi dan di langit, lebih kecil atau lebih besar daripada itu semuanya tercatat dalam buku catatan yang jelas."
Ya, niat utama untuk melakukan itu semua adalah sebagai salah satu bentuk ibadah yang kita harap Allah ridhai. Kita berbaik sangka, bahwa kelak tulisan tersebut akan dibaca oleh seseorang atau banyak orang lalu mereka memperoleh faedah dari tulisan kita tersebut. Ia akan menjadi sadaqah jariah yang insya Allah pahalanya akan mengalir terus ketika kita telah tiada kelak.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
" Sesungguhnya diantara amal kebaikan yang akan menyusul seorang Mukmin setelah kematiannya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak shaleh yang ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, mesjid yang didirikan, rumah untuk ibnu sabil yang dibangun, sungai yang dialirkan atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya pada masa sehatnya dan masa hidupnya. Semua amal itu akan menyusulnya setelah kematiannya." (HR. Ibnu Majah, Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)
Wallahu a'lam
Posting Komentar