Karakter seseorang baru akan terlihat jelas setelah kita bermulazamah selama beberapa waktu. Dan jika kita harus menilai seseorang, maka sebaiknya kitapun harus jujur menilai diri sendiri.
Jika kita bisa melihat ketidak sempurnaan akhlak pada diri seseorang maka yakinlah, bahwa orang lainpun akan melihat hal serupa pada diri kita.
No body ferfect, hanya kata itu yang harus kita tanamkan kepada diri sendiri.
ADAB memang sesuatu yang mendasar dan harus dimiliki oleh setiap orang dalam pergaulan. Itulah sebabnya mengapa para ulama terdahulu memang lebih mendahulukan belajar adab daripada mempelajari ilmu.
Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) berkata:
الحكايات عن العلماء ومجالستهم أحب إلى من كثير من الفقه لأنها آداب القوم وأخلاقهم
“Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalm majlis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka.”
Adab akan terbawa kemanapun dan secara spontan akan keluar tanpa disadari. Ia akan melekat pada diri seseorang sehingga menjadikannya sebagai karakter yang menunjukkan siapa dan bagaimaana seseorang tersebut. Jika terbiasa sejak dini dan melazamkannya maka ia akan keluar dengan sendirinya.
Pendidikan adab harusnya dimulai dari keluarga sendiri. Dari lingkungan keluarga kecil, adab antara ibu dan bapak. Adab antara anak dan orang tua. Adab antara yangtua terhadap yang muda, pun sebaliknya.
Dan dari pembentukan adab dari lingkungan terkecil inilah yang akhirnya bisa menentukan bagaimana kehidupan ditingkat yang lebih luas bisa terwujud.
Adab antara seorang teman kepada teman lainnya. Adab antara seorang bawahan kepada atasannya dan yang lebih luas lagi adalah bagaimana seorang menentukan adab terhadap pemimpinnya.
Saya yakin bahwa seorang ibu berperan sangat besar dalam mendidik anak-anaknya, agar senantiasa menjaga adab.
Ibulah yang menjadi pengasah bagi terbentuknya adab seorang anak, sebagaimana ibunda Imam Malik mengajarkan kepada sang anak agar belajar adab dulu sebelum belajar ilmu.
"Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata,‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik, pen)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.”
Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu;
“Yang menghadiri majelis Imam Ahmad ada sekitar 5000 orang atau lebih. 500 orang menulis [pelajaran] sedangkan sisanya hanya mengambil contoh keluhuran adab dan kepribadiannya.”
Imam Ibnu Wahab berkata:
“Aku lebih mengutamakan belajar adab kepada Imam Malik dibanding belajar ilmu darinya.”
Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi):
“Kisah-kisah tentang kehidupan para ulama dan duduk dalm majlis mereka lebih aku sukai dari mempelajari banyak ilmu, karena kisah-kisah itu penuh dengan ketinggian adab dan akhlak mereka.”
Betapa ulama terdahulu sangat mementingkan pelajaran adab sebelum mempelajari ilmu, sehingga kita dapati keberkahan ilmu yang mereka peroleh dari para guru mereka terus dapat kita rasakan hingga saat ini.
Mari memuhasabah diri. Sudahkah kita cukup menerapkan adab dalam keseharian kita?
Adab terhadap guru.
Adab terhadap orang yang lebih tua.
Adab terhadap orang berilmu.
Adab terhadap teman.
Adab terhadap tetangga... dst.
Juga adab terhadap diri sendiri?
#muhasabah
Posting Komentar