Hmmm ... ia faham maksud dari kata dan gambar yang terpampang di layar hapenya. Ia faham bahwa ia harus menuangkan ide yang ada dalam benaknya. Mengolahnya menjadi kata yang akhirnya menghasilkan sebuah tulisan yang apik dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Ya, sama seperti ia mengolah beberapa bumbu yang ada di dapurnya, meraciknya menjadi satu hidangan yang dapat dinikmati oleh semua anggota keluarganya.
Ide ... tak menjadi masalah baginya. Ia tak perlu bingung mencari. Setiap saat ide itu berseliweran dibenaknya. Mungkin karena kebiasaannya sejak kecil mengamati apa saja yang ada disekitarnya sehingga mudah baginya mendapat cerita dibalik apa yang dilihatnya.
Sayangnya cerita itu hanya ia simpan saja di benaknya. Tak jarang ia senyam-senyum sendiri manakala melihat suatu kejadian yang kemudian ia rangkai menjadi suatu kisah dalam fikirnya. Atau ketika ia menikmati kuncupnya kembang tanaman di taman mungilnya, yang membuat fikirnya melanglang buana ke alam literasi yang lagi-lagi tak bisa ia tuangkan.
Kadang ia gemas sendiri setiap berhadapan dengan laptop. Ketika kata-kata yang tadinya sudah tersusun rapih di benaknya akhirnya buyar seketika karena tak tau bagaimana menuliskannya. Ia hanya bisa mematung memandangi layar di depannya dan membiarkan jemarinya mematung diatas tuts laptopnya, dan akhirnya tak sepatah katapun yang tertuang. Ia pun pasrah, tak mau lagi mencoba.
Ia menjadi begitu nelangsa, dan akhirnya membuatnya tak mau lagi perduli. Ia tak mau pusing, dan tak mau berusaha lagi menyusun kata. Jikapun ia bisa merangkai kata, tapi ia tak tau lagi cara mengalirkannya ke dalam alur cerita dalam tulisannya.
Ya, sama seperti apa yang dilihatnya saat ini. Tiga kata itu menari-nari di benaknya. Fikirnya melukiskan banyak kisah yang ingin ia tuangkan ke dalam bentuk tulisan, namun belum bisa ia kerjakan hingga catatan ini ia buat.
Ia ingin berkisah tentang kesehariannya, bererita tentang orang-orang di sekelilingnya yang banyak memberinya pembelajaran tentang kehidupan.
Ingin sekali ia bercerita tentang masa kecilnya yang penuh liku dan sarat dengan kisah yang mengharu biru.
Ingin ia berkisah bagaimana ia menjalani hari-harinya sebagai seorang menantu. Juga berkisah tentang dirinya sebagai seorang ibu yang membesarkan keempat anak titipan Allah dengan segala hiruk-pikuknya.
Atau berkisah tentang teman-temannya yang sering berkeluh dèngan suka dan juga segudang masalah. Tapi keinginannya itu hanya terpendam di dalam hatinya, memenuhi ruang fikirnya dan dan membiarkannya mengendap hingga akhirnya cerita itu tenggelam semakin dalam dan hilang seiring muculnya kisah baru yang menjelma menjadi ide baru yang lagi-lagi tak bisa ia tuliskan.
Ia begitu ragu untuk memulainya. Lebih tepatnya ia khawatir untuk menuangkannya. Khawatir ceritanya takkan meberi kebaikan apa-apa selain rasa puas usai mengeluarkan segala keluhnya.
Keluh .... ya, mungkin ia memang ingin mengeluh melalui tulisan. Tapi apa gunanya? Tak ada keuntungan yang ia peroleh dari keluhnya. Orang lainpun takkan memberinya solusi terbaik. Begitu fikirnya.
Ya, mungkin itu yang membuatnya menahan diri. Ia takut akan apa yang ia tuliskan kelak hanya akan menjadi beban dikemudiaan hari. Ia begitu berhati-hati untuk merangkai kata sejak ia tahu bahwa setiap kata dan langkah kaki bahkan isi hati, kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Akhirnya ia mendiamkannya.
Diam ... Hmmm ... tapi sampai kapan ia bisa bertahan? Ia dalam dilema ....
Disatu sisi ia sangat ingin menuangkan segala ide yang ada di dalam benakkya, tapi di sisi lain ia tak mau tulisannya itu menjadi beban baginya yang akan memperberat amal keburukannya.
Ahhah ... beban ...
Inikah yang membuatnya begitu sulit menuangkan idenya? Karena ia menganggap tulisan itu sebagai beban yang kelak akan ia pertanggung jawabkan?
Inikah yang membuatnya begitu sulit menuangkan idenya? Karena ia menganggap tulisan itu sebagai beban yang kelak akan ia pertanggung jawabkan?
Hmmm ... mengapa ia begitu naif. Bukankah ia bisa menjadikan tulisannya sebagai ladang amal jika ia mau.
Ya, ia bisa berbagi sesuatu yang bermanfaat melalui ide-ide yang sering bermunculan di benaknya. Ia hanya perlu meramu tulisannya sedemikian rupa menjadi sebuah rulisan yang bernilai ibadah. Ya, persis seperti ia meramu beberapa bumbu menjadi sajian yang nikmat untuk keluarganya.
Hmmm, ya ... sekarang ia mulai menulis ....
Posting Komentar