Dentuman Itu

Minggu, 19 Februari 2017

Pagi-pagi ketika sedang asyik menyiapkan makanan untuk santap siang. Tiba-tiba  terdengar dentuman sangat keras yang  mengejutkan. Spontan terucap tasbih dari mulutku. Aku tertegun.

Asisten yang ada di dekatku seketika itu juga mengucap zikir.
Sesaat kami terdiam...
"Itu suara apa ya kira-kira?" Tanyaku.
"Entahlah bu, mungkin ban mobil atau ... ." Suaranya menggantung.
"Ah, mudah-mudahan bukan suara gas yang meledak." Jawabku cepat.
"Amiin." Ucapnya.

"Masya Allah, jika suara ban pecah saja sudah sebegitu hebat dan mengejutkan kita, bagaimana kejadian di hari kiamat kelak ya?" Tanyaku lalu melafazkan ayat pertama pada surah al-Zalzalah.
Idzaa dzulzilatil ardha zilzalaha...

Aku terdiam oleh suaraku sendiri, ngeri membayangkan kejadian pada hari itu.
Terbayang  bagaimana keadaan manusia pada saat itu  yang sibuk mengurus diri sendiri, saling berlari mencari keselamatan tanpa memperdulikan satu sama lain.

"Pada hari itu manusia lari dari saudaranya. Dan dari ibu dan bapaknya. Dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap manusia pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkan." (QS. Abasa: 33 - 37)

Ah, jika saja kengerian seperti itu bisa setiap saat kita hadirkan pada fikiran kita, mungkin takkan ada lagi orang-orang yang mau berbuat kejahatan. Semua orang akan melakukan amal kebaikan agar bisa selamat di Hari Kemudian.

Lalu aku tersadar. Ah, mungkin aku berfikir terlalu jauh, dan bukan tak mungkin bahwa orang yang akan  mencemooh, lebih banyak dari orang yang tersadarkan dengan  fikiranku ini.

"Hai, nyadar doong, ini dunia ... lagian, apa sudah ada bukti orang yang melihat kejadian itu?"

Bukan mustahil, ucapan seperti ini akan terdengar lagi dari mulut mereka yang  masih belum faham. 

Kukatakan "lagi", karena kata seperti ini sering terdengar, meski dalam konteks bercanda.

Siapa aku?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sendiri mengalami ejekan, penghinaan, dicemooh, bahkan dimusuhi dan disakiti ketika mendakwahi ummatnya. Beliau tak bisa memaksa semua ummatnya untuk memenuhi ajakannya,  bahkan beliau tak dapat memberi hidayah kepada orang yang dikasihinya.

" Sungguh engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS. Al- Qasas: 56)

Ya, aku memang bukan siapa-siapa. Hanya seorang hamba yang akan terus berusaha menyampaikan sekecil apapun pengetahuan yang Dia titipkan kepadaku.  Yang akan selalu berusaha berbuat kebajikan dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran, serta mengambil pelajaran atas setiap kejadian.

Posting Komentar