Betapa seringnya kita mendengar atau bahkan mengalami sendiri bahwa dalam kehidupan bersosial kita kadang mengalami perpecahan. Saling tersinggung, marah, kesal, bahkan mungkin saling bermusuhan terjadi karena adanya kesalah fahaman dan ketidak cocokan satu sama lain.
Lambat laun hal ini tentu saja akan membuat ikatan ukhuwah semakin melemah dan tak mustahil akan terlepas sama sekali. Jika dibiarkan berlarut, hal ini tentu akan menyebabkan ikatan sosial yang terjalin akan hancur dan runtuh. Bukan disebabkan karena serangan dari luar, tapi justru mengalami pengeroposan dari dalam.
Jika ditelaah, faktor utama terjadinya hal ini disebabkan karena kurang siapnya hati kita untuk menerima gesekan yang terjadi.
Dalam sebuah lingkungan sosial dimana beberapa orang yang berkumpul bersama dan membentuk suatu ikatan dalam rangka mencapai suatu tujuan, tentu akan sulit menghindari terjadinya gesekan antara satu sama lain, mengingat beragamnya karakter dan sifat masing-masing individu. Apalagi ditambah dengan beban amanah yang berat, tentu membuat sensitifitas perasaan mudah terusik, sehingga tak jarang mereka terkadang lebih memilih untuk mengedepankan perasaan ingin dimengerti dan mengenyampingkan perasaan orang lain.
Tapi apakah harus membiarkan hal ini terjadi dengan memakai alasan kemahfuman sebagai sifat dasar manusiawi yang butuh dimengerti?
Mungkin disinilah masalah utamanya. Kita pada umumnya menuntut orang lain untuk mengerti keadaan dan perasaan kita. Kita butuh agar orang lain untuk bisa memahami dan memaklumi segala tindakan kita dengan alasan "Begitulah saya, karakter saya memang seperti itu dan kalian harus faham dan harus menerima saya apa adanya!".
Duhai ...jika setiap orang berprinsip seperti ini, maka berapa kuatkah kita mampu menahan beban perasaan untuk bisa memahami segala katakter manusia yang berbeda? Sampai kapan kita bisa bertahan untuk memerima hal itu? Sanggupkah kita terus menerus menekan perasaan dan bersabar untuk bisa menerima karakter-karakter yang kadang tak berkesesuaian dengan kepribadian kita?
Jika kita berada dalam situsi seperti itu, tentu saja lama kelamaan akan berdampak pada pola fikir, kepribadian dan perasaan kita. Lalu mengapa kita tidak berusaha mencoba merubah keadaan ini?
Jika kita berada dalam situsi seperti itu, tentu saja lama kelamaan akan berdampak pada pola fikir, kepribadian dan perasaan kita. Lalu mengapa kita tidak berusaha mencoba merubah keadaan ini?
Ya, kita bisa mulai dari diri sendiri dengan cara merubah pola fikir bahwa gesekan yang sering terjadi bisa saja diminimalisir jika setiap individu bisa merubah ke-egoan untuk dimengerti menjadi pribadi yang bisa mengerti.
Sudah pasti hal ini membutuhkan perjuangan yang tak mudah, kaarena butuh usaha keras dan tentu saja hati yang lapang unuk bisa melakukannya.
Ya, berlapang dada untuk bisa memahami berbagai karakter dan kepribadian dari setiap individu dan mengannggapnya sebagai suatu pribadi unik dan menarik yang kita butuhkan.
Hanya perlu menanamkan pada fikiran kita bahwa dibalik kekurangan seseorang, pasti banyak kelebihan yang bisa jadi tak kita miliki dan mungkin saja sangat kita butuhkan untuk menutupi kekurangan yang kitamiliki. Selain itu, kita tentu harus banyak muhasabah, bahwa jika kita melihat banyak kekurangan pada diri seseorang, maka tentu orang lain juga akan melihat hal yang sama pada diri kita.
Ya, berlapang dada untuk bisa memahami berbagai karakter dan kepribadian dari setiap individu dan mengannggapnya sebagai suatu pribadi unik dan menarik yang kita butuhkan.
Hanya perlu menanamkan pada fikiran kita bahwa dibalik kekurangan seseorang, pasti banyak kelebihan yang bisa jadi tak kita miliki dan mungkin saja sangat kita butuhkan untuk menutupi kekurangan yang kitamiliki. Selain itu, kita tentu harus banyak muhasabah, bahwa jika kita melihat banyak kekurangan pada diri seseorang, maka tentu orang lain juga akan melihat hal yang sama pada diri kita.
Nah, jika semua individu dalam suatu perkumpulan berprinsip seperti ini, tentu tidak mustahil bahwa suatu wadah yang diusung oleh pribadi pribadi seperti ini akan kuat dan tak mudah goyah oleh terpaan dari luar.
Tidak mudah, bukan berarti tidak bisa. Kita hanya perlu banyak-banyak meminta pertolongan kepada Zat Yang Maha Menguasai Hati untuk bisa mewujudkannya.
"Ya Allah sungguh aku berlindung pada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, pikun, kekerasan hati, lalai, berat tanggungan, kehinaan dan kemiskinan. Aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran, kekufuran, kefasikan diri, perpecahan, sifat munafik, sum'ah (amalnya ingin didengar oleh orang), riya' (amalannya ingin dilihat manusia), dan aku pun berlindung kepada-Mu dari tuli, bisu, gila, lepra, sakit belang,juga keburukan berbagai macam penyakit." (HR. Hakim dan Ibnu Hibban, dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu)
Keinginan yang baik, semoga segera terwujud dalam naungan berkah Allah Swt. Aamiiin.
BalasHapusAamiin. Insya Allah.
Hapussyukron telah mampir dan meninggalkan jejak.
semoga kita semua bisa berlapang dada dalam mengatasi setiap masalah yang datang. berlapang dada atas apa yang telah ALLAH gariskan untuk kita semua. Aamiin
BalasHapusAamiin.
HapusTerimakasih ya, sudah mampir dan meninggalkan jejak.