Muhasabah

Senin, 03 Oktober 2016

Belum genap sebulan ...di hari yang sama (Minggu) dan kondisi yang sama, aku harus rawat inap lagi.
Seperti bulan lalu, gegaranya makan pepaya yang akhirnya membuat perutku sakit, melilit, muntah dan diare parah. Jika bulan lalu hanya mengalami lemas, kali ini sampai membuat pandanganku menguning dan akhirnya gelap disertai keringat dingin yang mengucur deras. Saya bahkan sampai berfikir kepada hal-hal yang buruk ...jika Allah berkehendak mengambilku ...ah, aku masih belum siap rasanya.

Di tengah kekacauan perasaanku, aku masih sempat meminta tolong kepada salah seorang anakku untuk membuatkan air hangat dicampur madu, sebelumnya akhirnya tubuhku benar-benar terkulai. Untung Allah memberiku kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju kursi sudut dan menghemoaskan diriku diatasnya. Pandanganku jadi gelap ...kosong dan perasaanku melayang ...kepala terasa ringaaaan dan entahlah, bagaimana menggambarkannya. Sangat tidak enak.
Alhamdulillah aku masih tetap sadar dan dapat melafazkan tahlil, istigfar dan zikir-zikir lain yang terlintas di benakku. Kugenggam lebgan anakku yang tertua mencoba  mencari penguatan. Kudengar suara orang-orang bergantian membaluri tubuhku dengan minyak herbal. Ada yang mengipasi dan mendekatkan aroma terapy di hidungku. 

Entah berapa lama aku dalam kondisi seoerti itu sebelum perasaanku sedikit membaik.  Kuminta larutan madu yang tadi dibuatkan oleh salah seorĂ ng anakku lalu meneguknya beberapa kali. Perutku sakit sekali. Entah sudah beberapa kali aku kebelakang. Feses mulai mengucur dan perasaan mualpun mulai menyerang. Meski diawal-awal gejala sakit perut tadi pagi aku sudah mengunyah daun jambu batu dan meminum airnya, sepertinya tak terlalu menolong. Aku membutuhkan bantuan medis segera sebelum dehidrasiku makin parah.

Kusampaikan kepada saudara iparku yang ikut membalurkan minyak herbal ke tubuhku untuk meminta tolong anaknya mengantarkanku ke klinik karena suamiku baru saja keluar membelikanku obat. Aku tak bisa menunggu lagi obat tersebut, perasaanku sudah tak karuan, dan tiba-tiba aku muntah. Air madu yang baru saja kuminum keluar semua, termasuk air rebusan daun jambu tadi. Kuminta anak-anak mengambilkan diapers punya mertuaku (beliau sedang dirawat rumah). Perasaan ingin kebelakang hampir tak tertahankan.

Beberapa saat akhirnya mobil siap mengantarku. Dengan ditemani seorang anakku, pegawaiku yang sering membantu di toko dan salah seorang tetangga. Aku menuju klinik dan langsung masuk ke UGD. Seorang perawat memeriksa tekanan darahku lalu memasangkan cairan infus. Perutku masih sangat sakit, dan tiba-tiba saja aku muntah. Banyak sekali...hampir semua  air yang kuminum tadi pagi keluar. Dokter jaga baru saja pulang, dan akan kembali sesudah duhur. Kadarullah ...
Beberapa saat kemudian aku dibawa ke ruang perawatan. Masih dengan perut yang sakit dan sesekali muntah ...rasa kantuk menyergapku tapi aku tak bisa memejamkan mata karena sakit pada perutku. Kuminta kepada suamiku untuk menyampaikan ke perawat, mungkin mereka bisa membantu, tapi hasilnya aku harus menunggu sampai dokter datang :(

Suamiku ...pasti dia capek sekali. Dia sedang keluar mencarikanku obat ketika aku berangkat keklinik, lalu segera menyusulku ...kuminta tolong agar ia mencarikanku minyak herba yang biasa kupakai untuk menghilangkan kembung. Dan sekali lagi ia harus keluar menerjang teriknya mentari.
Setelah meminum minyak herbal tersebut, sakit perutku agak mereda. Tak lama kemudian isi lambungku keluar begitu saja tanpa bisa kutahan. Untung aku memakai diaper dari rumah. Aku bangkit dari pembaringan dan berniat kekamar mandi untuk ganti ketika dokter datang.
Alhamdulillah, setelah diberi obat anti diare dan muntah aku merasa agak baikan.

Takdir Allah, sungguh sudah digariskan. Jika Dia berkehendak, maka pasti akan terjadi.
Aku yang selama 5 tahun belakangan ini tak pernah lagi mengkonsumsi obat-obatan, kini harus tunduk. Tetap berbaik sangka, bahwa semua kejadian ini pasti ada hikmahnya. Paling tidak, berharap bahwa ini akan menjadi penghapus dosa dan salah. Aamiin.

Pepaya, bukan itu yang membuatku berada dalam keadaan ini. Semua sudah digariskan, dan itu hanya penyebab. Pasti ada kesalahan yang kulakukan mungkin tanpa sadar atau dengan sadar, dan Dia menegurku agar kembali ingat. Ya, mungkin selama ini aku begitu bergantung kepada makhluk, menganggap herbal yang kukonsumsi secara rutin akan membuatku terhindar dari penyakit.  Mungkin aku khilaf dan berfikir bahwa hal tersebut akan membuatku selalu sehat. Aku mungkin lupa bahwa semua itu hanyalah sarana untuk berikhtiar, karena penentu segalanya adalah Dia, Sang Mahakuasa atas sesuatu. Astagfirullah.
n

Posting Komentar