Sekolah Perempuan

Senin, 22 Agustus 2016

Awalnya,  kukira Sekolah Perempuan itu  seperti sekolah pada umumnya yang ada guru,  papan tulis,  meja-kursi yang murd-muridnya terdiri dari para wanita dewasa. Baru tau sesungguhnya setelah ikut menjadi salah seorang muridnya ☺.

Ceritanya, saat itu saya betul-betul lagi mengalami kebuntuan untuk menulis setelah istirahat cukup lama. Banyak alasan mengapa saya vacum menulis,  tepatnya curhat ding, hehe..

Banyak ide yang berbaris di dalam kepala,  dan semua seperti berlomba untuk mencari jalan keluar,  tapi si empunya kepala belum tau cara membuka kerannya. Sampai pada suatu pagi,  rasa ingin menulis yang mendesak-desak mendorongku untuk menghubungi mbak Indari via inbox. Ya,  tentu saja curhat tentang bagaimana saya bisa kembali menulis. Soal curhatan saya, gak usah ditulis di sini ya. Biar saja jadi rahasia saya berdua dengan mbak Indari. Ehem...ehem...
Singkat kata,  dari percakapan via inbox itu akhirnya terdaftarlah aku sebagai salah seorang calon murid baru Sekolah Perempua gelombang ke 7.


Nah... cerita serunya baru mulai di sini...
Ternyata,  cara belajar di Sekolah Perempuan sangat beda dari sekolah pada umumnya. Kalau sekolah umum belajarnya pada waktu pagi dan muridnya berkumpul dalam satu kelas, di Sekolah Perempuan beda. Kami belajar pada malam hari sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan,  dan para muridnya tak harus meninggalkan rumah. Yup,  kami belajar dari rumah masing-masing. Papan tulisnya adalah layar laptop masing-masing.

Webinar,  sistim belajar yang asyik dan menyenangkan, karena belajarnya boleh dimana saja,  dan dalam posisi bagaimanapun. Bebas... tak perlu takut dicubit oleh para ibu guru. Kan gurunya tidak melihat,  hehe. Jadi mau duduk manis,  selonjoran,  atau sambil baring juga oke, silahkan...
Yang mau belajar sambil ngemil atau makan serius juga monggoooo...
Yang penting, pastikan bahwa sarana  untuk mendukung kelancaran proses belajar tersedia seperti laptop, terutama harus memastikan apa jaringan internet cukup mendukung.
Jaringan internet. Nah.... inilah keseruan yang kumaksud.

Ceritanya (lagi) begini. Sebenarnya, ketika mendaftar jadi calon murid Sekolah Perempuan, notebook yang selama ini kupakai kukira masih baik. Ternyata setelah coba kunyalakan,  si notebook eror total, tak bisa dipakai lagi. Duuhhh,  padahal kelas sudah hampir dibuka. Alhamdulillah,  dengan sedikit membujuk suami tercinta maka sebuah laptop barupun sekarang siap menemaniku masuk kelas baru. 
Sehari sebelum pelajaran dimulai, perlengkapan kupersiapkan. Selain laptop,  tentu saja mempersiapkan jaringan internet. Kuminta kepada ponakan untuk menyambungkan jaringan hotspot yang ia kelola.
Dan taraaaaa..... tibalah pada malam pertama kelas dibuka....
Tapi ternyata oh,  ternyata.... aku tak bisa menemukan ruang kelasnya meski sudah mencoba berkali-kali,  hiks. Jaringan di tempatku yang suka naik turun bertingkah lagi. Kadang ruang kelasnya sudah dapat,  tapi tak bisa masuk. Atau kadang sudah bisa masuk tapi akhirnya terpental keluar lagi gegara jaringan yang ngadat. Guemeeeessss....Tapi seru juga sih... kejar-kejaran dengan signal sampai harus pindah berkali-kali.

Pernah membayangkan? Sedang asyiknya belajar,  lalu gurunya berlari kesana kemari dan kamu harus mengejarnya agar tak tertinggal pelajaran...
Nah,  mirip seperti itu. Kadang lari ke dekat pintu,  kadang lari ke ruang makan hanya untuk mendengar suara para cikgu yang merdu mendayu-dayu. Ehem..
Pokoknya seperti lagu ndang-ndut gitu deh... jatuh bangun akuuu mengejaaarmuuu...

Untungnya, kita selalu diawasi oleh salah seorang "guru piket" yang memantau proses belajar lewat grup Fesbuk. Jadi kalau ada yang terpental keluar kelas,  cikgu yang lagi bertugas jaga malam itu akan dengan setia mengarahkan kembali agar bisa masuk kelas. Ohh... so sweet.
Dan jangan khawatir,  bagi yang ketinggalan pelajaran,  bisa kok mengejar ketinggalan karena ada rekamannya.

Yang paling asyik,  setiap peserta Sekolah Perempuan dibimbing oleh seorang mentor sampai bisa menulis dan menghasilkan sebuah buku dalam jangka waktu 3 bulan. Tentu saja tergantung sang siswa,  apakah bisa memenuhi target yang 
ditentukan atau tidak.

Tentang membuat buku ini,  aku termasuk orang yang belum bisa menghasilkan buku sampai sekarang. Bukan berarti  tak mau. Jalan untuk itu masih terus kutapaki.  Insya Allah,  semoga Allah memudahkan untuk itu.



Posting Komentar