Antologi Pertamaku

Kamis, 19 Maret 2015

Salah satu sisi positif bergabung dengan sebuah komunitas, adalah terpicunya kita lebih produktif. Seperti pada yang terjadi pada salah satu grup penulis di mana aku bergabung di dalamnya. Postingan teman-teman tentang tulisan-tulisan mereka yang telah dibukukan, mau tak mau membuat semangatku ikut terpicu. Ditambah dengan dorongan semangat dari teman-teman, maka kusetujui untuk ikut menjadi kontributor salah satu antologi.

Jujur, sebenarnya aku agak kurang siap mengikuti proyek ini mengingat tema yang ditetapkan belum terlalu akrab bagiku. Bahan tulisan yang berkaitan dengan budaya harus kucari dulu. Lalu aku mencoba mencari bahan apa yang kira-kira bisa kuangkat. Akhirnya setelah memilah-milah, kupilih salah satu tema khas dari daerah asalku. Yassiwajori.

Setelah menemukan sumber data yang akurat tentang kisah ini, mulailah kususun tulisanku sesuai dengan data yang diberikan oleh narsum. Setelah beberapa hari, tulisan tersebut akhirnya selesai juga kubuat. Tinggal menunggu koreksi dari narsum sebelum kuedit untuk terakhir kalinya. Kuhubungi si narsum tadi dan kami berjanji untuk bertemu sesuai dengan kelowongan waktunya. 

Ok,  aku bisa menyelesaikan pekerjaanku siang ini. Berbagi dengan ibu-ibu yang mau memperbaiki bacaan al-qur'annya dan membantu mengenalkan huruf hijaiyyah kepada ibu muda yang buta aksara Al-Qur'an di kampung sebelah. Tidak  lama koq,  sesudah Ashar kelas akan usai dan aku masih punya cukup waktu untuk mengedit tulisanku sebelum mengirimnya sebentar malam. Insya Allah.

Terkesan agak telat memang, karena nara sumber yang dapat membantu memberi data penting tulisanku baru punya waktu luang, beberapa jam sebelum DL berakhir. Aku tak punya pilihan lain,  karena tulisan yang akan kubuat menyangkut kebudayaan daerah di mana sekarang aku berada,  tentu saja tak boleh menulis serampangan,  karena ini masalah budaya. Ada nilai sejarah di dalamnya.
Singkat cerita.

Sepulang dari desa sebelah,  tulisan kuperiksa ulang,  mengeditnya dan siap mengirimnya malam hari. Begitu rencananya.

Azan Magrib berkumandang,  lalu aku bersiap melaksanakan shalat. Usai shalat dan membaca wirid,  kuhubungi nara sumber yang membantu memberiku data  agar berkenan memeriksa tulisanku sebelum kukirim ke email yang sudah ditentukan. Kubacakan tulisanku melalui handphone dan minta tolong kepada beliau untuk mengoreksi jika ada yang salah. Karena jaringan internet yang kurang baik sehingga menyebabkan suara tak jelas dan terputus-putus, ahirnya beliau memutuskan untuk datang sendiri melihat tulisanku. Beliau janji untuk datang setelah shalat Isya.

Kurang dari sejam setelah shalat Isya,  akhirnya beliau datang dengan sebuah buku yang sangat tebal. Sepertinya buku tentang sejarah dan kebudayaan Wajo. Isinya bekisar kurang lebih seribu halaman. Wooow.

Setelah berbincang sejenak,  lalu kusodorkan tulisanku. Mulailah beliau membaca tulisan yang sudah kucetak. Beliau lalu mengoreksi, mengganti,  mencoret, menambah dan mengurangi tulisan  yang dianggap tidak sesuai atau kurang tepat, baik dari segi bahasa ataupun makna, persis seperti menyetor tugas pembuatan skripsi. Hampir semua paragraf awal yang memuat tentang fakta sejarah tak luput dari coretan dan koreksi beliau. sesekali aku bertanya tentang kebudayaan Wajo di sela-sela kesibukannya memeriksa tulisanku.

Sungguh menakjubkan,  ternyata beliau merupakan nara sumber yang banyak dimintai keilmuannya tentang budaya oleh banyak fihak, termasuk dari Malaysia. Beliau banyak mendampingi orang-orang besar dalam penyusunan disertasi yang menyangkut sejarah dan kebudayaan, khususnya Bugis.
Walhasil,  acara pemeriksaan tulisan baru  usai menjelang pukul 22 malam, dilanjutkan bincang-bincang tentang beberapa kebudayaan daerah wajo yang ternyata sangat sarat dengan filosofi,  pesan moral yang sejalan dengan perintah agama, namun sekarang mulai ditinggalkan. 

Serunya,  sang suami yang menemani juga punya ketertarikan yang dalam tentang kebudayaan daerahnya sendiri sehingga mengalirlah cerita hingga malam makin beranjak, dan mataku  mulai terasa berat. Sepulang beliau,  laptop segera kunyalakan,  mencoba memperbaiki tulisan yang sudah dikoreksi tadi. Masih ada waktu sebelum Dl. Aku harus bisa!

Kupicu semangatku dan mulai mengetik kalimat sambil mencoba merangkai kembali kisah yang dipaparkan beliau. Sebaris,  dua baris kuketik untuk menulis kembali cerita tentang konsep budaya "YASSIWAJORI" yang sangat sarat dengan pesan moral dan motivasi. Tapi ahhh, waktu sudah semakin larut.  DL segera berakhir dan mataku kian berat untuk diajak melek. Alarm tubuhku sudah memberi isyarat untuk segera beristirahat. Keringat tanda rasa tak nyaman mulai menmbasahi tubuhku. Kepalaku terasa ringan sekali.

Okelah,  aku akan berbaring dan memejamkan mata sejenak dengan laptop yang masih menyala. Sepuluh menit insya Allah cukup untuk menyegarkan fikiran. Lalu aku tak ingat apa-apa lagi sampai alam bawah sadar menyentakkan aku untuk bangun dan menyelesaikan tulisanku. Segera kutekan tombol enter pada laptop dan ternyata waktu akhir pengumpulan tulisan sudah lewat 2 jam lalu. :-(

2 komentar

  1. Wuih kecehnya template blogta, sukaaaa.
    Mauka buka satu-satu menunya deh, siapa tahu ketemuka harta karun, ha-ha-ha

    BalasHapus
  2. Duh Kak. Padahal Bagus sekali mi itu tulisan ta', dapat narsum yang andal.

    Tapi tdk apa, siapa tahu kelak akan ada skenario lain. Tema kebudayaan selalu saja diangkat. Semoga nanti tulisan ta' menemukan jodohnya.

    BalasHapus