Salah satu
kelebihan yang Allah anugerahkan kepada wanita adalah kemampuan untuk melakukan
beberapa pekerjaan secara bersamaan. Tentunya ini harus disyukuri, mengingat
betapa banyak pekerjaan yang akan terbengkalai seandainya saja kita tak diberikan
kemampuan tersebut. Benar kan?!
Dalam
kegiatan sehari-hari kita sebagai ibu rumah Tangga, melakukan pekerjaan dapur
secara bersamaan tentu tak bisa terhindarkan. Misalnya memasak nasi sambil
menyiangi sayuran, atau menggoreng ikan sambil ngulek sambel dan sebagainya.
Dan itu sudah lazim dikerjakan oleh hampir setiap ibu rumah tangga. Kereen
bukan???
Tapi,
kadangkala kita juga melakukan kekeliruan dalam pelaksanaannya karena berbagai sebab,
misalnya lupa dan sebagainya. Seperti kejadian pagi ini yang akhirnya membuat
aku tersenyum sendiri karena tanpa sengaja berhasil menciptakan resep baru yang
sayangnya tak bias dikonsumsi, hehehe.
Ceritanya begini. Pagi-pagi usai membantu persiapan si Husnul ke sekolah, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga kulanjutkan
kembali, memasak bubur untuk ibu mertua yang sepuh sambil merapikan ruangan
dapur. Usai membersihkan ruang dapur, pekerjaan kulanjutkan ke depan,
membereskan ruang tamu sambil sesekali menengok isi panci yang sudah mulai
mendidih. Setelah bubur agak mengental, kutambahkan kembali air agar bubur
menjadi benar-benar lembut. Kukecilkan apinya lalu kembali ke ruangan depan
menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit. Setelah ruangan tamu beres,
kembali kutengok si bubur tadi, masih encer.
Kemudian nyala kompor kukecilkan. Masih butuh sekitar seperempat jam
lagi sebelum mengental. Kuputuskan untuk
membuka laptop dan memeriksa file tulisanku yang kebanyakan masih
berbentuk draft. Seperempat jam insya Allah bisa kumanfaatkan untuk memperbaiki
beberapa tulisan.
Lalu mulailah
aku mengedit tulisan yang semalam belum sempat kuselesaikan. Menambah beberapa
kalimat dan memperbaiki susunan kalimat yang kurasa perlu untuk kuperbaiki hingga selesailah sebuah tulisan yang langsung
aku posting di blogku. Dan pada saat yang hampir bersamaan, merebak pulalah bau
wangi khas yang dari
arah dapur. “Buburku gosong… “ ucapku sambil bergegas berdiri lalu berlari kearah dapur. Dan benar saja, si
bubur yang tadinya masih encer ketika kutinggalkan, kini berubah bentuk menjadi
seperti cake beras yang dihiasi dengan coklat di sana sini…:D
Aduuhhh…kok
bisanya yaa, aku sampai lupa begini. Kemudian kuambil
gambar bubur yang seharusnya sudah bisa kuberikan kepada si ibu mertua, yang
kini berubah menjadi bubur panggang yang wangi namun tak dapat dikonsumsi lagi.
*Efek Masak Sambil Menulis
He he... khasil akhirnya malah jadi seperti kerak telor, ya, Mbak Ida? ^_^
BalasHapusiya, mbak Devy. Wangi lhoo ^_^
Hapus