Dulu, aku sering mendengar kisah yang aneh-aneh plus sedikit serem sekitar bulan Muharram. Ada yang bilang bulan Muharram itu panas sehingga enggak baik buat nikahan, katanya bakalan nggak langgeng. Ada pula yang bilang tidak baik memulai usaha pada bulan Muharram karena katanya nggak barokah dan masih banyak lagi kisah yang berdasarkan "katanya" tadi.Tapi benarkah demikian? Bagaimana sih sebenarnya bulan Muharram itu menurut agama Islam? Yuukk kita intip...
Apa Sih Bulan Muharram Itu?
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam penanggalan Islam yang dikenal juga dengan penanggalan Hijriah, yang dimulai pada masa kekhalifahan Umar Bin Khattab Radiallahu 'Anhu.
Menurut sejarahnya, pada saat itu sang Khalifah merasa kesulitan untuk membalas surat-surat yang masuk berdasarkan urutannya karena belum adanya sistim penanggalan. Hal tersebut akhirnya memunculkan wacana diperlukannya penanggalan yang baku dan seragam untuk berbagai urusan kenegaraan dan kemasyarakatan.
Lalu sang khalifah bermusyawarah dengan para Sahabat. Dan setelah mempertimbangkan berbagai usulan, akhirnya disepakati bahwa peristiwa hijrah Nabi SAW dari Makkah menuju Madinah dijadikan sebagai patokan dalam perhitungan awal tahun kelender Islam.
Mengapa Disebut Bulan Haram??
Allah Subhanahu Wata'ala sendiri yang mengatakannya dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)
Dari Abu Bakrah radhiallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Al Qodhi Abu Ya'la rahimahullah mengatakan bahwa dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan, dimana hal tersebut juga diyakini oleh orang Jahiliyah.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.
Ada Apa Sih Dengan Bulan Muharram?
Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan. Karena kemuliaannya, bulan ini juga disebut bulannya Allah (Syahrullah).
Hasan Al-Bashri mengatakan:
"Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini." (Lathaiful Ma’arif, halaman 34)
"Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini." (Lathaiful Ma’arif, halaman 34)
Imam At-Thabari dalam Tafsirnya mengutip atsar dari Ibnu Abbas r.a. : "Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai bulan-bulan suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih pada bulan ini juga lebih besar."
Didalam bulan Muharram ini, Allah Subhanahu Wata'ala juga menetapkan satu hari yang sangat istimewa yang dikenal sebagai sebagai hari Asyura yang jatuh pada tanggal 10 di bulan tersebut. Sebagaimana Abu Hurairah radiallahu 'anhu berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya'."
Bagaimana Mengisi Bulan Muharram?
Banyak amalan yang yang dapat dilakukan di bulan Muharram, tetapi puasa adalah salah satu ibadah yang paling dianjurkan.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: 'Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram'." (H.R. Muslim)
Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, beliau menceritakan: "Saya tidak pernah melihat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memilih satu hari untuk berpuasa yang lebih beliau unggulkan daripada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura dan puasa bulan Ramadhan. (H.R. Bukhari, Muslim)
Asyura adalah hitungan ke sepuluh pada bulan Muharram hari dimana kita sangat dianjurkan untuk melaksanakan puasa untuk medapat keutamaannya.
Dari Abu Qotadah Al Anshoriy, berkata,“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).
Ketika Nabi shallallallahu 'alaihi wasallam sallam tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’. Beliau bertanya, “Hari apa ini?” Mereka menjawab, “Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa-pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. (HR. Al Bukhari)
Meskipun bulan Muharram memiliki kemuliaan sedemikian rupa, tetapi kita tidak dianjurkan untuk berpuasa sebulan penuh di dalamnya, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun sama sekali tidak pernah berpuasa selama sebulan penuh selain bulan Ramadan. Maka hadits di atas dipahami bahwa hendaknya memperbanyak ibadah puasa pada bulan Muharram.
Allahu a'lam.
Masya Allah ... kita' bahas dengan dalil2nya Kak ....
BalasHapusTulisannya mantap
iye...kebetulan itu yang kutau :0
BalasHapusMaksih sudah mampir..tulisanta lebih mantap lagi :D