Lampu led handphone jadulku berkelap kelip pertanda ada pesan masuk. Segera ia kuraih dari atas meja lalu membuka kunci tombolnya. Ada dua pesan yang masuk dari akhwat teman sehalaqah tarbiyahku yang lalu segera kubaca.
"Bismillah. Informasi dari murobbi kita. Disampaikan kepada seluruh akhwat taqwin yang tidak pernah datang tarbiyah empat kali berturut turut mulai pekan ini tanpa kabar kepada kami, maka terpaksa disuruh cari halaqah lain. Halaqah tarbiyah bukan majelis ta'lim yang semaunya saja datang dan pergi. Murobbi kita mau murobbiyah yang serius saja...syukran kerjasamanya...
Ufhhh...kutarik nafas dan menghembuskannya dengan keras...
Pesan itu sebenarnya bertujuan baik, yakni untuk menegakkan disiplin dalam halaqah tarbiyah. Tetapi apakah benar semua akhwat yang menerima pesan tersebut dapat memaknainya demikian?? Pesan yang kutulis distas sebagaimana adanya (hanya melengkapi huruf-hurufnya yang banyak disingkat-singkat untuk postingan ini) terkesan begitu arogan. Ah...hati kecilku terketuk, teringat kembali betapa bapak mengajar kami bertutur. Menyampaikan sesuatu dengan santun meski maksudnya untuk menegur. Menyampaikan bil hikmah, begitu kira kira yang dimaksud bapak.
Kembali ke pesan tadi.
Mungkin aku bisa menangkap maksud baik dibalik "ketegasan" kalimat-kalimatnya yang bercampur dengan ancaman. Tapi bagaimana dengan akhwat lain? Bagaimana jika akhwat yang menerima pesan tersebut kebetulan juga mempunyai tabiat yang keras sehingga menangkap pesan tersebut sebagai warning? Bukankah akhwat juga manusia biasa yang kadang berada dalam keadaan emosi yang tak pasti??
Mungkin aku bisa menangkap maksud baik dibalik "ketegasan" kalimat-kalimatnya yang bercampur dengan ancaman. Tapi bagaimana dengan akhwat lain? Bagaimana jika akhwat yang menerima pesan tersebut kebetulan juga mempunyai tabiat yang keras sehingga menangkap pesan tersebut sebagai warning? Bukankah akhwat juga manusia biasa yang kadang berada dalam keadaan emosi yang tak pasti??
Pesan ini, setidaknya menjadi muhasabah yang sangat berharga bagiku bahwa menyampaikan bilhikmah itu sangat penting. Sebab bisa jadi, mungkin maksudnya adalah untuk menegakkan kedisiplinan dalam kelompok, tapi dengan penambahan kata-kata pada poin-poin akhir rasanya tidaklah tepat, meski obyek yang dituju adalah mereka yang telah belajar ilmu syar'i selama bertahun-tahun. Pasti ada alasan yang jelas mengapa seorang mutarobbi sampai tidak menghadiri majelis ilmu sampai berkali-kali. Apalagi jika yang dimaksud adalah akhwat taqwin yang sudah cukup lama ikut bertarbiyah.
Tapi...ah, lama bertarbiyah, bisakah dijadikan tolok ukur kuatnya niat bermujahadah?
Dan pesan yang kuterima ini, jika sekiranya dibaca oleh mereka yang masih belum faham "mengapa mereka disebut akhwat taqwin", akankah berlapang dada menerimanya sebagai cambuk untuk maju, ataukah bahkan menerimanya sebagai pukulan yang menjerembabkannya??
"Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. AN- Nahl : 165)
Allahu a'lam.
#muhasabah
Posting Komentar