Barakallah nak...
Ucapan doa itu pasti akan ku ucapkan seandainya yang bersanding di pelaminan itu adalah anakku.
Siapa yang tak merasa haru dan bahagia melihat kedua sejoli ini bersanding bahagia, kecuali yang cintanya ditolak Rafi atau Nagita alias bertepuk sebelah tangan kali yee...
Rona tersebut terbaca di hampir semua wajah yang menghadiri upacara sakral tersebut, terutama pada wajah ibunda Rafi, Amy. Dari pandangann dan senyum sumringahnya terpancar kebahagiaan yang kadang diselingi genangan air mata haru.
Betapa tidak, putranya yang selama ini sempat menjalin kisah kasih dengan beberapa wanita, akhirnya dapat menambatkan hatinya pada seorang wanita yang ayu, cerdas, hambel, yang juga kaya serta dari keturunan ningrat pula. Empat kriteria yang dianjurkan dalam agama dipunyai oleh Nagita.
Abu Hurairah Radhiallahu anhu mengabarkan dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, "Wanita itu dinikahi karena empat perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang memiliki agama, engkau akan.bahagia." ( HR. Bukhari dan Muslim).
Tentu saja apa yang Allah takdirkan bagi Rafi tidak lepas dari peran seorang ibu.
Ibu Amy yang dengan bijaksana membimbing dan mengawal perjalanan putranya mengarungi bahtera kehidupan hingga sampai kepelabuhan terakhir tempat ia menambatkan bahtera cimtanya.
Bukan perkara gampang tentunya, mengingat bagaimana lingkungan kehidupan Rafi yang penuh gemerlap kemewahan serta rawan terjerumus dalam kehidupan yang penuh resiko.
Terbukti, ketika Rafi tersangkut kasus narkoba. Terlihat bagaimana perjuangan ibunda Amy yang dengan gigihnya berjuang dibalik kelembutan yang ia miliki.
Begitupun ketika Rafi sebelumnya sempat menjalin kasih dengan wanita yang nyaris seusia dengannya. Dengan bijak, ia senantiasa mendampingi dan tetap mebimbing Rafi, meski bebarapa fihak mencibir putranya. Atau bahkan dirinya sendiri.
Sebagai seorang ibu yang punya anak seusia Rafi, aku dapat merasakan bagaimana perjuangan bathin seorang ibu melihat kenyataan tersebut.
Dalam hati yang paling dalam, tentu ada penolakan terhadap kenyataan yang terjadi pada anaknya. Disisi lain, ia harus menjaga perasaan putranya yang terlihat nyata amat mendambakan wanita tersebut. Hal itu terbaca dari jawaban-jawaban bijak yang ia lontarkan setiap ada yang bertanya bagaimana pendapatnya melihat hubungan putramya tersebut. Hmmm...perjuangan bathin yang tak mudah.
Lalu ketika semua berakhir bahagia, tentu saja takdir Allah ini tak lepas dari doa-doa yang dipanjatkan sang ibu untuk kebahagiaan putra tercintanya.
Aku yakin, sebab bukankah restu Allah juga tergantung atas restu orang tua/ ibu?
Dari Abdullah bin Amr, beliau berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua'." (HR. Baihaqy dll dengan lafadz yang berbeda).
Wallahu a'lam.
Posting Komentar