Amanah

Selasa, 30 September 2014

Si pengantar tamu itu bertanya padaku, "Bu, tamunya gak ada yang beli?"
"Nggak pak. Mereka beli di tempat lain yang lebih murah."
"Mereka keliatannya tidak tau membedakan mana yang asli dan yang bukan," kataku lagi.
"Ya..udah bu...nggak usah bilang ke mereka."
"Emang harganya beda ya,  punya ibu harga berapa?" lanjut ia bertanya.
"150 pak."
"Yang lain jual berapa bu?"
"Seratusan"
"Kok punya ibu lebih mahal?" tanyanya lagi.
"Iyalah pak, kualitasnya kan beda. Barang yang saya jual asli, sedang yang lain jual barang tiruan."
Si pemandu memilah-milah kain.

"Keliatannya tamu bapak tidak tau bahwa mereka membeli barang yang palsu."
"Biar bu,  nggak usah ibu bilang ke mereka, biar tidak saling menjatuhkan citra." katanya enteng.
"Ya nggak gitu dong pak. Nanti bapak akan kena dampaknya lho. Coba bapak fikir, kalau mereka sampai ke negaranya lalu mereka tau bahwa barang yang mereka beli itu palsu kan mereka bisa komplain pada bapak sebagai pemandu mereka."
"Apalagi jika mereka menulisnya di internet, kan bisa merusak citra bangsa kita juga." lanjutku.
"Begitu ya bu. Jadi mengatakan sebenarnya aja ya.."

Ufhh...
Sepeninggal rombongan tamu dari Perancis itu aku berfikir sendiri...
Ah, betapa rendah tanggung jawab si pemandu itu terhadap amanah yang diembankan kepadanya.
Coba kalau posisinya dibalik, akankah ia berlapang dada menerima seperti apa yang tamunya alami??

#prihatin

Posting Komentar