Cobalah jujur...menengok kedalam hati kita. Mungkin sering, atau setidaknya kita pernah merasa bahwa diri kita lebih baik dari orang lain.
Kita merasa lebih sempurna, lebih beriman sehingga mudah mencela dan meremehkan orang lain atas suatu tindakan yang orang lain lakukan yang tidak sesuai dengan syariat.
Bertanyalah pada diri sendiri, seberapa sering kita menghujat, mencela karena merasa diri kita lebih tau, lebih beriman. Lalu timbulllah ujub. Merasa bangga dengan diri sendiri
Audzubillahi minasy syaithanir rajiim...
Sebaiknya segeralah berta'awwudz...karena saat itu sebenarnya kita telah termakan godaan setan yang telah membisikkan rasa bangga itu.
Beristigfar.lalu segera menyadari bahwa segala yang terjadi pada makhluk ciptaan-Nya adalah atas kehendak-Nya semata.
Mungkin saat ini keadaan lahiriah kita terlihat lebih baik dalam pelaksanaan syariat. Tapi selalulah menimbulkan rasa kurang pada diri agar kita senantiasa terjaga dan selalu berusaha berbuat lebih baik. Mengapa..?
Karena kita tidak tahu apakah ketaatan yang kita lakukan selama ini berdasarkan ketaqwaan kita kepada Allah semata ataukah tercampur dengan perasaan riya karena ingin disanjung oleh sesama makhluk.
Hanya Allah yang tau kadar ketaqwaan kita.
Selalu berbaik sangka kepada sesama adalah lebih bijak.
Menanamkan dalam hati bahwa segala yang terjadi adalah atas kehendak dan kuasa-Nya. Apapun keadaan kita dan orang - orang sekitar kita hendaknya diyakini bahwa campur tangan Allah lah
yang bekerja. Allah yang memberi hidayah dan menggerakkan hati kita untuk berbuat taat kepadanya. Dan Dia pulalah yang menahan hidayah itu dari yang lain.
"Barang siapa yang yang Allah beri petunjuk, maka tiada yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tak ada yang dapat membetinya petunjuk."
Kita seharusnya bersyukur atas hidayah yang kita terima dan memeliharanya sebaik mungkin.
"Barang siapa yang dikehendaki Allah mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barangsiapa yang Dia kehendaki sesat, maka Dia jadikan dadanya sesat seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-An'aam: 125)
Jikapun kita melihat keadaan orang sekitar kita masih belum sesuai dengan apa yang disyariatkan, hendaknya kita berbaik sangka bahwa saat ini mereka belum tau dan belum mendapat petunjuk sambil memberitahunya secara perlahan dengan cara hikmah.
Hendaknya menjaga dan memelihara rasa takut (khauf) bahwa amalan kita masih lebih sedikit dibanding mereka. Hal ini perlu agak kita terpelihara dari sifat ujub yang bisa saja menggelincirkan kita kepada kelalaian.
Selalu berharap agar Allah menjaga keimanan dan ketaqwaan kita dan menanamkan dalam hati bahwa keadaan mereka adalah ibrah/pelajaran yang Allah perlihatkan bagi kita agar kita tidak menyerupai mereka. Tanamkan dalam diri bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, kita tak berhak menghujat mereka karena kita tak pernah tau kapan hidayah Allah akan turun pada hamba-Nya.
Bisa jadi saat ini keimanan kita lebih baik dari mereka. Tapi apakah kita bisa menjamin bahwa keimanan itu akan tetap bersemayam dalan qalbu, ataukah ia akan terkikis oleh rasa bangga pada diri sendiri? Sama seperti ketidak tahuan kita, kapan Allah akan memberi petunjuk kepada mereka.
"Allahumma yaa muqallibal quluubi tsabbit qalbi' 'alaa diinika"
"Wahai Tuhan yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu." (H.R. Tirmidzi)
Dari pada sibuk menghujat dan mencela kekurangan orang lain, lebih beruntung jika kita meladzamkan membaca doa diatas. Berharap rahmat dan ridha-Nya agar Dia senantiasa menjaga kita untuk tetap di jalan-Nya.
*Muhasabahdiri
Posting Komentar