Ini adalah kesekian kalinya penetapan hari raya berbeda waktunya.
Dan sepertinya rakyat sudah mulai terbiasa menerimanya. Perbedaan tersebut tidak hanya terjadi pada masyarakat umum, tetapi juga pada rumah tangga muslim. Syukurnya, perbedaan tersebut sekarang sudah dapat diterima dan dijalankan tanpa masalah.
Kami, adalah salah satu rumah tangga yang menerima dan menjalankan perbedaan tersebut dengan damai. Aku, suami dan dua orang anakku melaksanakan Idul Adha pada hari Sabtu, sementara anak keduaku dan suaminya serta anakku yang tertua melaksanakan shalat Ied pada hari berikutnya, Ahad.
Kami tentu saja punya alasan masing-masing. Anakku yang tertua sebenarnya mau ikut melaksanakan shalat Ied pada hari Sabtu, tapi terkendala macet yang menyebabkan mobil yang ditumpanginya dari pusat kota baru bisa tiba pada pukul delapan pagi.
Sementara menantu dan anak keduaku memilih melaksanakan shalat Ied bersama keluarganya. Alasannya untuk mengikuti pemerintah.
Aku dan suami memutuskan melaksanakan hari raya pada hari Sabtu dengan alasan bahwa ketika wukuf sudah dilaksanakan, maka kami yakin bahwa itulah hari Arafah yang sebenarnya. Berarti keesokan harinya adalah hari tasyrik.
Meski banyak alasan yang kudengar tentang latar belakang mengapa pemerintah menetapkan hari yang tidak sama, tapi bagi kami tidak cukup meyakinkan untuk mengikutinya.
Anjuran untuk mengikuti pemerintah rasanya tidak sekuat keyakinan kami atas hari Tasyrik yang kami yakini. Kami belum bisa menerima pemahaman bahwa wukuf yang dilaksanakan kali ini adalah atas keputusan pemerintah Saudi Arabia yang menginginkan pelaksanaannya bertepatan dengan hari Jum'at.
Kami masih terlalu yakin bahwa penetapan waktu wukuf itu adalah hak yang penetapan waktunya adalah sesuai ketentuan syariat. Ia tak boleh ditentukan oleh perorangan.ataupun lembaga sesuai keinginan mereka.
Kami sangat berpegang dengan apa yang selama ini kami yakini bahwa "Hajji itu adalah Arafah". Seyakin bahwa harinya telah dihitung oleh para ahli hisab sesuai spa yang diperintahkan Allah atas petunjuk RasulNya.
Alhamdulillah, aku dan suami.sudah melaksanakan wukuf beberapa tahun sebelumnya. Dan setau kami, jarak antara Mekkah dan Indonesia hanya berkisar lima sampai enam jam. Jadi menunda hari tasyrik sampai dua puluh sekian jam dari waktu wukuf belum bisa tercerna alasannya bagi kami.
Serba salah memang. Disatu sisi, kami harus mengikuti pemerintah sebagai salah satu bentuk ketaatan sebagai muslim. Tetapi di sisi lain, hati nurani tak mampu menepis kuatnya dorongan tidak mengikuti sesuatu yang kami yakini keliru. Dilemma memang....
Hanya Allah Yang Maha Benar.
Kami, aku dan suami hanya memasrahkan diri pada ketentuanNya.
Dia Yang Maha Tau dan Maha Benar.
Wallahu A'lam.
Posting Komentar