Buku ini kuterima 8 bulan lalu, pesan dari salah seorang teman. Namun karena berbagai hal, baru bisa membacanya sekarang.
Maasyaa Allah, apa yang ditulis oleh Kang Ulum A Saif dan Teh Febrianti Almeera ini seperti "memaksaku" untuk mengakui kebenaran apa yang mereka tulis.
Ya, dengan lapang dada harus kuakui bahwa aku memiliki luka pengasuhan yang cukup parah, dan harus segera kusembuhkan dengan bantuan-Nya tentunya. Bukan hanya lukaku, juga luka pengasuhan yang telah kutorehkan kepada mereka yang Dia titip kepadaku. Sengaja atau tidak sengaja. Astagfirullah.
Luka ini bukan tak kusadari. Namun selama ini tak berani kuakui. Ada banyak alasan untuk menolaknya. Banyak potongan-potongan kejadian yang sering melintas dan seperti membuat hatiku terluka, namun segera kututup. Tak tahu, alasan apa yang membuatku tak mau untuk memunculkannya. Maka aku lebih memilih untuk mengendapkannya.
Ia seperti puzel luka yang jika dirangkai, akan membentuk sebuah luka yang mengaga. Dalam. Mungkin itu sebabnya mengapa kuputuskan untuk menyimpan puzel itu di laci terbawah dalam benakku. Berharap ia tertimbun oleh waktu atau terhapus oleh lupa.
Namun ternyata aku salah. Semakin ia kutekan, semakin gencar pula ia mengetuk masa kekinianku. Aku tak tahu rasa apa namanya. Banyak rasa berbaur menyatu, sampai aku mendapat jawabnya di buku ini.
Buku ini menyadarkanku, betapa penting mengurai kembali luka lama tersebut. Bukan untuk menghakimi siapapun, apalagi membenci, namun untuk mengobatinya satu persatu. Mengobati luka diri dan luka orang-orang yang tercederai hatinya disebabkan oleh respon diri yang salah terhadap luka tersebut. Mengorek luka agar membersihkannya, menyembuhkannya dan berdamai dengan masa lalu.
Tak ada kata terlambat. Rabb yang Maha Bijak selalu punya cara yang indah untuk menolong hamba-Nya. Hanya perlu sabar dan terus memohon agar diberi jalan terang atas segala masalah. Kadang jawaban datang dalam waktu yang singkat, tak jarang butuh masa yang panjang serta melalui kisah yang berliku. "Berdoalah, maka akan kukabulkan." Janji-Nya pasti.
Buku ini sungguh menyadarkanku bahwa kita ini sebenarnya merupakan bentukan dari masa lalu, dari pola asuh orang tua kita. Dan dengan sadar atau tidak, kita terkondisikan untuk mengulang pola yang sama kepada anak-anak kita, sebagaimana orang tua kita yang mengulang pola asuh yang terbentuk dari orang tua mereka. Boleh jadi merekapun mengalami luka yang tak mereka sadari dan tak pernah sembuh sampai mereka meninggalkan dunia yang fana ini.
Lalu bagaimana menyembuhannya? Hanya dengan memaafkan? Semudah itu?
Bisa ya bisa tidak. Tergantung bagaimana respon kita menanggapi luka tersebut. Bagiku, hanya dengan pertolongan dan kehendak Allah jualah semua bisa terjadi. Allah yang membantu memahamkan dan menanamkan dalam dada bahwa semua kejadian pasti tak akan terjadi begitu saja.
Laa hawla walaa quwwata illa billah. Semua atas kehendak-Nya dan semua pasti ada maknanya.
Hanya dengan ikhlas menerimanya sebagai ketentuan dari Rabb yang Maha Mengatur, hati kan menjadi lapang. Memaafkan, dan mengambil ibrah atasnya lalu membuat perbaikan sesudahnya.
Buku ini sangat layak dibaca oleh mereka yang telah lama menjalani mahligai rumah tangga dan merasa memiliki luka pengasuhan, agar bisa lebih bijak dalam bersikap dan bertindak. Juga sangat baik dibaca oleh mereka yang akan melangkah ke jenjang pernikahan, agar tidak menciptakan luka-luka pada keluarga yang kelak akan dibina.
Baca sambil berkaca-kaca, mendadak introspeksi diri. Kesalahan apa yang selama ini sebenarnya hatiku menyadari tapi aku terlalu gengsi atau bahkan takut buat mengakui. Padahal keputusan untuk berlari semacam ini bukanlah haal yang bijak. Perlahan mulai menata hati agar bisa berdamai dengan masa lalu, mengobati luka yang terlanjur menganga biar bisa melanjutkan hidup dengan tenang.
BalasHapus