Bantulah, Maka Allah Akan Membantumu

Kamis, 23 Juli 2020

Alhamdulillah, pagi ini perasaan udah mendingan. Usai melaksanakan kewajiban sebagai hamba, lanjut memelihara ukhuwah secara vertikal kepada sesama melalui grup WA.
Di salah satu grup komunitas, dapat info kalau ada gempa di Malili. Outo deg-degan dan sedikit panik. Apalagi infonya disertai kiriman video yang lumayan mendebarkan. Innalillah 🥺Langsung mencoba menghubungi keluarga yang ada di sana, tapi tak satupun yang mengangkat telpon. Coba menghubungi anak yang di Soroako, juga belum nyambung. Allah Rabbi...
Duduk dengan perasaan yang campur aduk sambil membayangkan kejadian yang di video kiriman teman tersebut. "Semoga gak seperti itu kejadiannya, ya Rabb." Tiba-tiba diri ini jadi seperti tak bertulang 😥

Selang beberapa kemudian si kerabat tadi balik nelpon, memberi kabar kalau tidak ada kejadian di Malili, yang ada gempa kecil di Soroako. Deuh... anakku sedang tugas di sana. Astagfirullah.
Kembali mencoba menghubungi si anak, tapi masih belum nyambung juga. Akhirnya coba nanya ke grup lain. Alhamdulillah dapat kabar yang menyejukkan. Ditambah telpon dari anak sejurus kemudian yang mengabarkan jika dia bahkan tak merasakan adanya gempa. Alhamdulillah ya Rabb.
Agak siang, pikiran tertuju kepada adik yang sedang dalam masalah keuangan. Sejak pandemi, dia dirumahkan, sementara uang kontrakan harus segera dibayar. Sebagai kakak tertua mau tidak mau, ini menjadi pikiran juga. Dilema.

Di satu sisi pengen membantu, di sisi lain, ada perasaan yang berbisik agar membiarkan dulu dia mengatasi urusannya sendiri, apalagi ini bukan yang pertama. Beberapa tahun sebelumnya kejadiannya juga sama, ujung-ujungnya tetap mengulurkan tangan juga untuk membantu. Kalau selalu seperti itu, kapan si adik bisa belajar menangani masalahnya sendiri?
Kata hati berperang antara keigingan untuk menolong dan keinginan untuk membiarkan agar ia berusaha mengatasi masalahnya. Tapi bayangan wajah bingung si adek yang mengalami kesulitan mencarii pinjaman di masa pandemi ini selalu melintas. Ya untung kalau ia mendapat pinjaman yang wajar. Kalau sampai terjerat riba, gimana? Naudzubillah. Galau tingkat tinggi kemudian menghampiri.

Rupanya dorongan untuk menolong lebih kuat. Value yang ada di dalam diri menggeliat, berontak melawan semua pikiran yang berusaha menolak untuk menolong. Memosisikan diri pada keadaan di mana si adik sekarang berada, membuat hati meleleh. Ya Allah, memikirkan bagaimana  kondisi adik yang sekarang tak ada penghasilan karena harus dirumahkan, ditambah desakan harus melunasi sewa rumah, lumayan membuat energi. Bahkan hanya sekedar memikirkannya saja sudah membuatku lemeeesss. Gimana si adik dengan tanggungan seorang istri dan 4 orang anak yang semua butuh biaya di situasi sekarang? Uffthhh.

  

Akhirnya value menolong dan kaluarga lebih kuat mendorong diri untuk mengambil keputusan yang juga tidak mudah. Betapa tidak, dana yang dibutuhkan tidak sedikit menurutku. Terlebih lagi dana tersebut sebenarnya sudah punya pos tersendiri. Sungguh bukan pilihan yang mudah. Lalu petikan hadits ini melintas.

"Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat..."

Value spiritual ikut memperkuat keputusan. Yup, bismillah. Meyakinkan diri akan janji-Nya, ngambil hape, mengetuk nomor si adik dan menyampaikan uluran tangan tersebut. Ploooong.
Allahu akbar, sungguh janji Allah itu benar. Tak sampai dua jam kemudian, hape berbunyi. Dan berita yang sampai ke telinga betul-betul membuat hati ini bergetar. Terkagum-kagum atas skenario yang Allah atur. Betapa tidak, telpon yang masuk adalah permintaan pesanan kain tenun yang lumayan banyak. Rabb... alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. 💝

Maasyaa Allah, betapa Allah Maha Mengatur. Bayangkan, sejak bulan february orderan sepiiii banget. Nyaris gak ada. Orang lebih mengutamakan memenuhi kebutuhan bahan pokok dibanding yang lain.  Dan sekarang tiba-tiba Allah ganti dengan jalan yang tak terduga. Allahu Akbar. Uluran tangan yang senilai tujuh digit, langsung Allah ganti dengan bilangan delapan digit. Allahu Rabbi, sengguh Engkau Maha Pemurah 🥺💝

 
Maasyaa Allah, alhamdulillah,  semakin bertambah kesyukuran ini ketika malam ini diberi kemudahan lagi untuk ikut menimba ilmu tentang sedekah. Allahu Akbar 💝💝💝

Posting Komentar