Jelang Lebaran di Tengah Corona

Rabu, 13 Mei 2020

Sepertiga akhir ramadhan. Menyusuri jalan kota yang mulai ramai. Pasar dan toko sudah buka, kecuali satu dua.
Manusia dengan berbagai kepentingan mulai bebas berlalu lalang.

Yang menarik perhatianku adalah jejeran penjual perabot rumah tangga. Di beberapa deret toko yang kulewati, beberapa orang sibuk mengangkut barang mewah ke atas mobil bak terbuka. Ada yang yang membawa kulkas, ada yang memuat kursi mewah berwarna emas. Di toko lain, satu set meja makan minimalis siap dinaikkan ke mobil yang stand by. Pemandangan yang membuat perasaanku campur aduk.

Di satu sisi, ikut bahagia melihat wajah-wajah ceria yang siap menyambut hari raya dengan segala pernak perniknya. Di sisi lain, ada rasa prihatin yang mendalam mengingat kondisi mereka  yang kesulitan memenuhi tuntutan perut-perut lapar mereka. 

Begitulah hidup. Selalu ada kontradiksi. Kita hanya boleh melihat sambil menahan lisan. Tak boleh terburu menjatuhkan kata, karena setiap tindakan pasti ada alasan yang melatarinya. Kita tak mungkin menyelami hati setiap manusia. Berpikir positif, rasanya lebih bijak. Sehat buat hati, juga untuk menjaga amalan ramadhan kita 🙂

Ramadhan di tengah pandemi ini sungguh memberikan banyak pelajaran berharga bagiku. Bahwa  begitu mudah bagi Allah untuk membalikkan keadaan melalui makhluk kecil yang bernama Corona. 

Tak dipungkiri, di saat seperti ini akan jelas terlihat bagaimana perhatian dan kepedulian antara sesama. Ada yang dengan berbagai cara membantu secara spontan, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Bantuan yang tidak melulu dalam bentuk materi, namun sungguh terasa sangat berarti. 

Bayangkan, ketika seseorang menengadahkan tangan kepada kita mohon bantuan, tapi tak dapat dipenuhi karena keterbatasan jarak dan prasarana, lalu tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan untuk menunaikan hajat tersebut. Ah, tak dapat mengungkapkan rasa haru atas hal tersebut. Rasanya ingin memeluk erat mereka yang turut mengambil alih beban yang seharusnya dipikulkan ke pundak. Namun apa daya, hanya bisa mendekap mereka dalam doa. 

Mereka yang tulus membantu meski tak pernah bertemu sama sekali. Semoga kelak Allah pertemukan kita di jannah-Nya. Aamiin 💝

Di sisi lain, tak sedikit pula orang-orang yang mencoba meraup keuntungan untuk diri sendiri di tengah kemelut yang terjadi. Begitulah sunnatullah. Selalu ada sisi yang berbeda. Jalani saja semua. Terima dengan lapang dada, dan cobalah memahami alasan di balik semua sikap yang terjadi di sekeliling kita. Bukan untuk dimaklumi, setidaknya dijadikan ibrah dan lebih menimbulkan rasa syukur atas segala nikmat yang Allah anugerahkan pada kita. 

Syukur atas nikmat yang mungkin belum dapat memenuhi selera dan keinginan kita, terlebih lagi syukur atas nikmat iman yang menahan hati kita agar tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, juga merugikan kebahagiaan dunia dan akhirat kita.

Posting Komentar