Iman is My Immun

Sabtu, 30 Mei 2020

Istilah ini pertama kali kudengar dari dr. Zaidul Akbar, ketika beliau mengisi pelatihan bekam dan sosialisasi Thibbun Nabawi yang diadakan di daerah tempat tinggalku.

Jujur, partama mendengar istilah tersebut, aku sempat mengerutkan kening dan berfikir bahwa sang dokter yang membawakan materi tersebut terkesan memaksa dan mengada-ada. Apa hubungannya sih, antara immun dan iman? Fikirku.

Sebenarnya pada saat  acara tersebut diadakan, aku  masih dalam tahap pemulihan setelah terbaring sakit selama hampir dua bulan. Saat itu aku masih lemah dan  sering merasa tidak enak badan. Rasanya aku hampir tak akan sanggup mengikuti acara tersebut, apalagi acaranya diadakan selama dua hari berturut-turut nonstop sejak pukul 8 pagi hingga pukul 17.00 petang dan hanya diselingi jeda waktu shalat dan makan siang. Beberapa kali kusampaikan kondisiku kepada  teman yang mengundangku ikut ke acara ini, minta agar ia membatalkan saja kehadiranku dan menggantikan aku dengan peserta lain, tetapi beliau tetap kekeh agar aku  ikut. Dan dengan “sedikit paksaan” darinya, akhirnya ku kuatkan diri untuk mengikutinya.

Dua hari duduk mengikuti pelatihan tersebut, aku mulai merasa pegal dan sakit serta panas di daerah pinggang dan punggungku. Perasaankupun mulai  tidak enak. Keringat dingin perlahan mulai keluar dari dahiku. Materi “Iman Is My Immun” yang dibawakan oleh sang dokter saat itu hanya dapat kusimak sepotong-sepotong. Konsentrasiku terbagi dengan rasa tidak enak dan sakit dibelakangku.

Aku, tergantung dari persangkaan hambaku” tulisan itu terbaca dilayar besar dihadapanku. Aku meringis menahan rasa nyeri dan pusing. Kepalaku terasa panas. Sang dokter masih terus menyampaikan materi berkaitan dengan kalimat tersebut. Aku melirik jam di HP, ah, masih  lama lagi acara baru akan berakhir.

Dan jika aku sakit maka Dialah Yang menyembuhkanku”. Kalimat pertama sudah terganti lagi disertai penjabaran oleh sang dokter.

“Ah, kapan acara ini berakhir ?” Aku membatin.

Hari sudah menunjukkan pukul 16 lewat ketika perasaanku makin tak karuan. Beberapa kali kuraih handphone, berniat menghubungi kawan  utuk pamit lebih dahulu. Tapi anehnya, setiap hendak menekan nomor sang teman, di dalam hati selalu menolak untuk melakukannya. Aku merasa enggan meninggalkan materi yang sedang berlangsung. Meski menyimaknya hanya sepenggal-sepenggal, tetap saja ada kalimat-kalimat yang sempat singgah di kupingku dan menembus kedalam hatiku. Jadinya acara terus kuikuti sampai selesai.

Hampir Azan Magrib ketika  acara akhirnya ditututup. Aku bergegas keluar gedung bersama kawan yang kebetulan searah dengan tempat tinggalku. Setengah berlari, kami menghambur kejalan raya untuk mencari angkutan umum yang mulai menghilang satu persatu. Maklum,  tempat tinggalku adalah daerah kabupaten yang aktifitas keseharian masyarakatnya berlangsung hanya sampai jam lima sore. Sesudah jam sekian, maka akan sulit memperoleh angkutan umum untuk kemana-mana, terutama diwaktu menjelang magrib seperti saat itu.

Tak lama kemudian sebuah Bemor(becak motor) melaju kearah kami. Sang teman lalu menghentikannya dan menawar, tetapi rupanya  sang teman tidak setuju dengan ongkos yang ditawarkan sang pengendara bemor. Menurut sang teman, ongkosnya dua kali lipat dari yang seharusnya, dan  ia lalu membiarkan bemor tadi berlalu. Hari makin gelap, gerimis pun mulai turun.
Perasaanku makin tak karuan. 

Dengan perasaan sedikit menyesal atas berlalunya  bemor tadi aku menutupi kepalaku dengan map plastic yang diberikan panitia pelaksana seminar, berlindung dari butiran gerimis yang kian menderas sambil berberdoa, “Ya wakiil, yaa wakiil, Laa haula walaa quwwata illa billah”, beristigfar dan membaca apa saja yang bisa kuucapkan untuk mengurangi rasa cemas dan perasaan yang tidak enak.

Untungnya tak lama kemudian sebuah bemor melintas. Kali ini aku bergegas menghentikannya. Alhamdulillah, ternyata bemor langgananku, pak Abu. Tanpa perlu menawar, kami langsung naik. Pak Abu lalu memasangkan tenda penutup bagian depan bemor agar air hujan tak menerobos masuk.
Sepanjang perjalanan kerumah, langit terus mencurahkan airnya. Hujan sangat lebat, hampir-hampir deruman bemor tertelan oleh suara guyuran dari langit.  Kulafazkan doa-doa apa saja yang kuhafal, mencoba mengalihkan rasa tidak nyaman yang makin mendera.

Satu persatu,  kata-kata dokter tadi melintas. “Dan jika Aku Sakit, maka Dialah Yang mengobatiku”.
Ya, aku harus meminta pada-Nya. Agar menghilangkan rasa tidak nyamanku ini. Aku harus yakin  bahwa apa yang aku alami ini sesungguhnya adalah kehendak-Nya, dan aku harus yakin pula  bahwa Dia tak akan memberiku cobaan di luar kesanggupanku.

“Rabb, hilangkan kesusahanku dan mudahkanlah segala kesulitanku. Jangan biarkan aku terkapar di atas Bemor ini, yaa Rabb.”

Hujan masih terus mengguyur  deras ketika aku tiba di rumah. Bersegera aku berwudhu dan melaksanakan shalat Magrib yang agak terlambat kukerjakan. Aku tak mau memperlihatkan kondisku yang sebenarnya kepada orang di rumah. Khawatir mereka mencemaskanku. 

Usai shalat, aku merasa sedikit lebih nyaman. Aku kemudian melangkah kedapur dan memanaskan sisa kopi herbal yang kubawa ke gedung tadi  dengan cara merendam wadahnya di air yang telah kupanaskan, lalu meneguknya beberapa kali. Ah, lumayan, hangatnya memberi rasa nyaman dan rileks.



Iman Is My Immun.” Kata-kata sang dokter tadi kembali terngiang. Oh, inikah makna dari kalimat tadi?

Iman, artinya percaya, meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Meyakini bahwa apapun yang terjadi pastilah atas izin-Nya. Tak ada kejadian di luar kehendakNya. Meyakini bahwa apapun yang ditimpakan Allah pada makhlukNya pastilah mengandung makna. Termasuk keadaan yang sekarang sedang kualami.

Ya, aku sakit, maka aku harus berobat untuk sembuh. Aku meyakini bahwa sakit yang kuderita adalah takdir yang telah Allah tentukan untuk kujalani, tetapi aku  juga harus yakin  bahwa Allah pasti akan menyembuhkan jika aku berikhtiar untuk sembuh. “Aku, adalah bagaimana persangkaan hamba Ku”.

Aku berprasangka baik, bahwa Allah pasti akan menyembuhkanku. Dan salah satu cara untuk sembuh dari sakit adalah dengan cara meningkatkan immun tubuhku. Memperbaiki daya tahan tubuhku agar dapat melawan penyakit yang mendera.

Dari beberapa literatur yang kubaca mengatakan bahwa immunitas tubuh bisa perbaiki dengan cara memakan makanan bergizi, olah raga teratur dan mengikuti pola hidup sehat. Itu adalah cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang berkaitan dengan fisik. Sedangkan untuk meningkatkan immunitas secara psikis, tentunya  kita harus yakin, bahwa apa yang kita makan, apa yang kita lakukan adalah sesuai dengan apa yang dianjurkan. Terlebih lagi kita harus meyakini secara bersungguh-sungguh bahwa semua yang terjadi  atas diri kita tentulah atas izin dan kehendak Allah semata.

Iman. Kita harus percaya bahwa segala sakit, susah, sedih, bahagia dan gembira serta berbagai rasa yang kita alami adalah datangnya dari Allah semata, dengan berbagai sebab yang kita perbuat. Kita harus percaya bahwa dibalik semua, sesungguhnya tangan-tangan Allah lah yang bekerja.
Sekarang, tinggal bagaimana kita memaknai setiap kejadian yang menimpa diri kita. Akankah menganggapnya sebagai ujian, teguran atau rahmat yang Dia turunkan kepada kita.

Aku, tergantung dari persangkaan hamba-Ku.”

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.”

Intinya, kita meyakini bahwa  segala apapun yang bisa menyebabkan turunnya immun tubuh sehingga menyebabkan kita mudah terserang penyakit, pengobatannya adalah dengan cara meningkatkan keimanan kita terlebih dahulu sebelum melakukan pengobatan secara fisik.

Meningkatkan kepercayaan bahwa Allah Azza Wa Jalla telah menentukan masing-masing kadar bagi hamba-Nya dan  untuk menguji sampai seberapa nilai keimanan seorang hamba akan takdir yang digariskan baginya dan seberapa kuat seorang hamba berusaha untuk memperbaiki keadaan jiwa dan raganya.

Wallahu a’lam.

2 komentar

  1. Tagline-nya luar biasa. Iman is my immune.

    Semoga Allah sehatkan kita semua.

    BalasHapus